Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah
Doa di Sepertiga Malam


__ADS_3

Bukannya Gibran melalaikan Ibunya, tapi memang dia harus lebih fokus kepada istrinya terlebih dahulu. Itu semua juga karena Giselle yang terbaring lemah lebih membutuhkannya. Sekali lagi, bukannya Gibran menomorduakan ibunya, tapi memang harus ada skala prioritas.


Walau pada ujungnya, tetap Gibran yang harus disalahkan oleh Ibunya. Namun, Gibran bisa menerimanya karena yang terluka hatinya cukup dia saja, dan bukan Giselle.


Dengan kegelisahan dan kepanikan hatinya, Gibran memilih untuk mengambil wudhu. Dia kemudian menggelar sajadah dan menghadap di arah kiblat. Kemudian dia melanjutkan dengan Sholat Tahajud.


"Ushallii sunnatat-tahajjudi rak’ataini (mustaqbilal qiblati) lillahi ta’aalaa."


Artinya:


"Aku niat sholat sunnah tahajud dua rakaat (dengan menghadap kiblat) karena Allah Ta’ala.”


Mulailah Gibran bersujud dalam doa di sepertiga malam. Kala hati begitu gundah, jawaban pun seakan tidak ditemui Gibran memilih menentramkan hatinya kepada Allah. Memohon belas kasihan dan rahmat-Nya. Ketika suara hati sudah tidak bisa terbendung, maka Gibran memutuskan untuk mencari Allah.


"Ya Allah, hamba memohon kepada-Mu. Kiranya Allah melembutkan hati Ibu. Membuat beliau untuk bisa menerima dan menyayangi Giselle. Hamba tahu bahwa istri hamba menyayangi Ibu dan setiap hari selalu mengharapkan kasih sayang dari ibu mertuanya. Jika hanya Allah saja yang bisa membolak-balikkan hati manusia, mohon untuk balikkan hati Ibu. Buat beliau untuk melihat Giselle dengan sudut pandang yang berbeda."


Dalam sujudnya di sepertiga malam, Gibran mengungkapkan semua isi hatinya kepada Allah. Keresahan hati, bisa Gibran utarakan semuanya kepada Allah, sang Pemilik Hidupnya. Dalam sujud dan syukurnya, dalam resah dan pilunya, Gibran yakin bahwa Allah akan mendengarkan semuanya.


"Allahumma rabbana lakal hamdu. Anta qayyimus samawati wal ardhi wa man fii hinna. Wa lakal hamdu anta malikus samawati wal ardhi wa man fii hinna. Wa lakal hamdu anta nurus samawati wal ardhi wa man fii hinna. Wa lakal hamdu antal haqq. Wa wa‘dukal haqq. Wa liqa’uka haqq. Wa qauluka haqq. Wal jannatu haqq. Wan naru haqq. Wan nabiyyuna haqq. Wa Muhammadun shallallahu alaihi wasallama haqq. Was sa‘atu haqq.


Allahumma laka aslamtu. Wa bika amantu. Wa ‘alaika tawakkaltu. Wa ilaika anabtu. Wa bika khashamtu. Wa ilaika hakamtu. Fagfirlii ma qaddamtu, wa ma akhkhartu, wa ma asrartu, wa ma a‘lantu, wa ma anta a‘lamu bihi minni. Antal muqaddimu wa antal mu’akhkhiru. La ilaha illa anta. Wa la haula, wa la quwwata illa billah."

__ADS_1


Artinya:


"Ya Allah, Ya Tuhan kami, segala puji bagi-Mu, Engkau penegak langit, bumi, dan makhluk di dalamnya. Segala puji bagi-Mu, Engkau penguasa langit, bumi, dan makhluk di dalamnya. Segala puji bagi-Mu, Engkau cahaya langit, bumi, dan makhluk di dalamnya. Segala puji bagi-Mu, Engkau Maha Benar. Janji-Mu benar. Pertemuan dengan-Mu kelak itu benar. Firman-Mu benar adanya. Surga itu nyata. Neraka pun demikian. Para nabi itu benar. Demikian pula Nabi Muhammad SAW itu benar. Hari Kiamat itu benar.


Ya Tuhanku, hanya kepada-Mu aku berserah. Hanya kepada-Mu juga aku beriman. Kepada-Mu aku pasrah. Hanya kepada-Mu aku kembali. Karena-Mu aku rela bertikai. Hanya pada-Mu dasar putusanku. Karenanya ampuni dosaku yang telah lalu dan yang terkemudian, dosa yang kusembunyikan dan yang kunyatakan, dan dosa lain yang lebih Kau ketahui ketimbang aku. Engkau Yang Maha Terdahulu dan Engkau Yang Maha Terkemudian. Tiada Tuhan selain Engkau. Tiada daya upaya dan kekuatan selain pertolongan Allah."


Mengakhiri sholatnya, Gibran sudah berserah sepenuhnya kepada Allah. Penyerahan secara penuh kepada Allah semata. Kiranya, Allah mendengarkan seruan doanya dan menunjukan hidayah untuk Ibunya.


Usai menunaikan Sholat Tahajud. Gibran mengakhiri dengan mengusap wajahnya perlahan dan kemudian melipat sajadah yang sekarang dikenakannya. Pria itu merasa lebih tenang dalam hati. Merasakan teduh. Ketika manusia merasa hidupnya penuh dengan beban berat. Maka, jalan terbaik yang bisa diambil adalah memohon kepada Allah semata.


Kemudian, Gibran duduk di tepi brankar di mana Giselle masih berbaring. Dia menatap Giselle dengan wajahnya yang sendu. Menyelami juga konflik antara ibu mertua dan menantu yang seakan tidak pernah ada habisnya.


"Segera pulih dan sadar, Sayang. Jangan khawatir, aku akan selalu mendampingi kamu. Kita akan menjalani semuanya bersama," gumam Gibran dengan lirih.


***


Keesokan harinya ....


Giselle terbangun. Efek dari obat yang disuntikkan membuatnya tidur. Memang itu adalah cara mengembalikan tenaganya, dan membuatnya tak terlalu lemas.


Ketika kelopak mata Giselle terbuka sudah ada Gibran yang bangun dan duduk di tepi brankarnya. Gibran pun segera menyapa Giselle yang baru saja bangun.

__ADS_1


"Pagi, Sayangku ... kamu tidur semalaman. Bagaimana sekarang jauh lebih baik?" tanyanya.


Kemudian Giselle pun menganggukkan kepalanya. "Jauh lebih baik, Mas. Terima kasih," balasnya.


"Tidak perlu berterima kasih. Yang pasti aku akan selalu menjaga kamu, Sayang. Fokus untuk sembuh dulu yah," ucap Gibran.


Giselle mengangguk samar, "Iya, semoga segera pulih dan aku bisa pulang ke rumah," balasnya.


Gibran pun tersenyum. Pria itu memilih menganggukkan kepalanya. Sekarang, Gibran harus memilah informasi apa saja yang boleh didengar oleh Giselle. Semua itu supaya Giselle juga stabil secara mental dan emosi. Berpikir berat hingga menyebabkan stress juga bahaya untuk Ibu hamil.


"Ssshhs, tanganku sakit, Mas," keluh Giselle sekarang dengan sedikit mendesis.


Sakit di tangan Giselle itu tentu karena jarum infus yang terpasang di tangannya. Membuat tangannya sakit dan terlihat bengkak. Namun, memang harus bertahan karena memang sekarang masih ada beberapa obat yang harus disuntikkan melalui infus.


"Tidak apa-apa. Sabar dulu, yang penting kamu cepat sehat dan baby kita baik-baik saja," balas Gibran.


Giselle kemudian menganggukkan kepalanya. Memang sekarang yang penting bisa segera sehat dan juga babynya akan baik-baik saja. Keselamatan bayinya jauh lebih berharga untuk Giselle.


"Daripada diriku sendiri, aku lebih takut jika terjadi sesuatu dengan bayiku," ucap Giselle.


"Tidak begitu juga, Sayang. Aku khawatir kepadamu dan baby kita. Semoga kalian baik-baik saja," balas Gibran.

__ADS_1


Antara istrinya dan bayinya tentu saja keduanya sama-sama berharga. Dua orang yang Gibran kasihi dengan sepenuh hati. Sekarang, Gibran akan fokus dengan istrinya dulu. Nanti ketika sudah pulang, Gibran akan menemui ibunya dan meminta maaf kepada sang Ibu lagi.


__ADS_2