
Sekarang Gibran benar-benar meminta kepada Giselle untuk mau pulang dulu dengannya. Gibran juga hanya meminta waktu satu bulan saja untuk berpikir. Usai itu Gibran akan mengambil keputusan dan akan berusaha mendamaikan Ibunya dengan istrinya. Sebab, tidak dipungkiri bahwa perdebatan di rumah sangat melelahkan. Gibran saja yang mendengarkannya lelah, apalagi Giselle yang selalu saja menjadi objek yang selalu disudutkan.
"Tolong Sayang ... satu bulan saja," pinta Gibran sekarang.
Giselle masih menangis. Sangat berat untuk kembali ke rumah mertuanya. Sebab, yang pasti ucapan pedas dan nyinyiran itu akan selalu dia terima. Tidak mudah untuk mengubah perasaan orang yang notabene tidak suka.
"Hanya sebulan saja kok ... usai itu, aku akan memutuskan semuanya. Tuhan membuatku harus memilih istriku atau ibuku. Jika, langsung pergi seperti ini rasanya berat, Sayang," ucap Gibran.
Ya, Gibran sendiri seakan merasa menjadi orang yang berdiri di antara dua pilihan. Istri dan Ibunya. Sama-sama pilihan yang berat untuknya. Di satu sisi Ibunya sudah menjanda, tidak ada pasangan hidup dan tidak ada teman di rumah. Juga, Gibran adalah anak tunggal, sehingga tidak memiliki kakak atau adik yang akan bisa merawat dan menemani ibunya di rumah. Sementara itu, di satu sisi Giselle juga adalah istrinya yang selama dua tahun ini selalu tersakiti. Kondisi seperti ini membuat Gibran seolah-olah berdiri di antara ibu dan istrinya sendiri. Harus memilih satu di antara keduanya.
"Pahami aku satu kali ini saja, Sayang ... aku juga bingung dan perlu waktu. Sembari nanti kita mencari tempat kost atau yang lain," ucap Gibran lagi.
"Kalau Ibu masih berkata jahat dan menyakitiku lagi?" tanya Giselle sekarang kepada suaminya.
"Jika bisa, besarkan hatimu, Sayang ... maafkanlah Ibu. Tidak usah dimasukkan hati. Sebab, banyak yang terjadi jika kita tinggal bersama orang tua atau mertua bukan?"
Tampak Giselle menghela napas panjang. Dia sendiri juga merasa dilema, tapi jika terus-menerus mendapatkan ujaran kebencian dari ibu mertuanya sendiri membuat Giselle juga sakit hati.
"Satu bulan saja Mas?" tanyanya.
"Iya, satu bulan saja," balas Gibran.
__ADS_1
"Usai satu bulan ini terserah Mas Gibran saja. Mau berada di rumah silakan. Mau bersama denganku juga silakan. Aku butuh menyelamatkan diriku sendiri, di atas tidak ada yang menyelamatkanku. Aku butuh kondisi rumah yang sehat dan kondusif. Bagaimana aku bisa program hamil, jika batinku tergurus dengan ucapan kebencian dari ibu mertuaku sendiri," aku Giselle sekarang.
Menurut Giselle untuk melakukan program hamil dibutuhkan kondisi rumah yang sehat dan kondusif. Membuat orang yang tinggal di dalamnya menjadi tenang. Namun, jika rumah itu berhawa panas. Di mana penghuninya saja tidak bisa berdamai satu sama lain, yang ada yang tinggal di dalam sana juga tidak akan bisa damai dan mendapatkan ketenangan batin. Giselle menyadari mungkin kondisi batin dan mental yang terus-menerus tertekan yang membuatnya tidak bisa hamil. Terlalu banyak pikiran juga, stress pun berlebih dan tidak bisa dikelola dengan baik.
"Maafkan aku, Sayang ... hidup bersamaku tidak mudah bukan?" tanya Gibran.
"Awal bulan nanti, aku tidak mau memberikan lagi penghasilanku untuk Ibu. Sebagai gantinya, Mas Gibran berikan saja penghasilan Mas yang selalu Mas berikan kepadaku itu. Cukup semua tudingan selama ini," kata Giselle sekarang.
"Baiklah, aku akan menerimanya," balas Gibran.
"Kalau aku harus lembur, tolong bela aku dari Ibu. Beberapa minggu lagi, aku harus menganalisis saham jadi perusahaan sudah memintaku untuk lembur," ucap Giselle lagi.
Gibran menganggukkan kepalanya. Dia akan menerima semua syarat yang diminta oleh Giselle dan juga menjalankan kewajibannya sebagai suami dengan sebaik mungkin.
Bagaimana tidak terusik jika wanita dari masa lalu suaminya berkali-kali datang ke rumah. Untuk itu, Giselle meminta kepada suaminya untuk tegas kepada Annisa. Sebab, Ibu mertuanya juga begitu getol untuk bisa menjodohkan Gibran dengan Annisa. Sebab, dalam sudut pandang Ibunya, Giselle benar-benar seorang wanita yang mandul. Sehingga, putranya itu harus menikah lagi untuk mendapatkan keturunan.
"Baik Sayang ... aku akan melakukannya. Sebisaku untuk bisa melakukan yang terbaik untukmu," balas Gibran.
Usai melakukan itu semua, Gibran kemudian memeluk Giselle untuk sesaat. Sangat lega bisa meluluhkan Giselle. Namun, Gibran juga berpikir bahwa waktu ini tidak akan berlangsung selamanya. Hanya satu bulan. Usai itu, Giselle bisa saja pergi dan keluar dari rumahnya. Jika, sikap ibunya benar-benar tidak berubah, maka Giselle bisa benar-benar angkat koper dari pondok mertuanya.
"Kita pulang yah," ajak Gibran kemudian kepada Giselle.
__ADS_1
Ragu. Ya, bagaimana pun Giselle masih ragu. Namun, dia juga sangat tahu bahwa surganya ada di kaki suaminya. Dia harus tunduk kepada sang suami yang adalah imamnya.
"Sebenarnya aku ...."
Giselle sebenarnya enggan untuk pulang. Bagaimana pun masih teringat dengan suara ibu mertuanya yang tadi mengusirnya dan mengatainya sebagai pasangan tak beradab.
"Tidak usah tapi-tapi, aku akan melindungi kamu," balas Gibran.
"Yakin, bisa melindungiku?" tanya Giselle sekarang kepada suaminya.
"Aku akan berusaha, Sayang," balas Gibran. "Pulang yah ... kamu duluan. Aku akan mengikuti mobilmu," ucap Gibran sekarang.
Pria itu kemudian turun dari mobil milik istrinya dan kemudian masuk ke mobilnya sendiri. Dia berharap Giselle tidak akan lari lagi, tapi bisa menurutinya. Sebab, Gibran juga berjanji akan lebih membela dan melindungi Giselle.
Mobil milik Giselle masih tak bergerak, dan kemudian Gibran membuka kaca jendelanya, dan mengklakson Giselle.
Pim ... Pim ....
"Ayo, Sayang," ucap Gibran.
Akhirnya, Giselle pun menganggukkan kepalanya. Dia segera mengemudikan mobilnya, mencari u turn, untuk berbalik arah dan tempat yang dia tuju sekarang adalah kediaman mertuanya lagi.
__ADS_1
Sekarang, Giselle kembali hanya untuk suaminya. Tunduk dan taat kepada suaminya. Namun, dia juga memberi waktu hanya satu bulan saja. Usai itu, dia akan mengikhlaskan suaminya untuk memilih ibunya atau dirinya.