Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah
Orang Tua Giselle ke Bandung


__ADS_3

Selang dua hari berlalu, Giselle benar-benar tidak menyangka bahwa Mama dan Papanya akan kembali ke Bandung. Itu dilakukan karena ada perjalanan bisnis ke Bandung. Oleh karena itu, Mama Diana dan Papa Jaya kembali ke Bandung. Sekarang, Mama Diana dan Papa Jaya menghubungi Giselle dan ingin mengunjungi rumah Giselle.


Sayangnya belum sempat Giselle memberikan alamat rumahnya, Mama dan Papanya sudah menuju ke rumah orang tua Gibran. Di sanalah mereka mendapatkan kabar yang selama ini tak pernah mereka dengar. Sumbernya, tentu saja adalah dari Bu Rosa, besannya."Gibran dan istrinya sudah tidak tinggal di sini, Bapak dan Ibu Jaya," ucap Bu Rosa.


Wanita paruh baya itu berusaha berbicara dengan baik. Walau sebenarnya, di dalam hati begitu dongkol. Namun, bagaimanapun yang datang adalah besannya, sehingga tak mungkin dia berbicara judes dan kasar layaknya dia memarahi Gibran dan Giselle.


"Loh, sekarang tinggal di mana ya Bu? Kok, Giselle tidak pernah bercerita kepada kami yah, kalau mau pindah," balas Mama Diana dengan begitu saja.


Tentu Mama Diana merasa bingung. Semua itu juga karena sebelumnya Giselle tidak pernah bercerita apa pun. Jika menelpon dan bertukar kabar, Giselle selalu mengatakan kondisinya baik-baik saja. Lalu, sekarang orang tuanya mendapati fakta bahwa Giselle dan suaminya sudah tidak tinggal satu atap dengan mertuanya.


"Ya, mana saya tahu, Bu. Mungkin memang begitu tabiat putrinya Ibu. Setelah menguasai putra saya dan tidak memberitahu di mana rumahnya yang baru. Palingan rumah ambil juga hutang KPR, mencicil. Gitu saja belagu," ucap Bu Rosa.


Mama Diana dan Papa Jaya saling pandang. Baru sekarang juga dia mendengar bagaimana pedasnya besannya itu. Bahkan dalam setiap ucapan itu terdengar kebencian kepada Giselle. Menuduh Giselle sudah menguasai suaminya dan juga menyampaikan rumah yang mereka ambil palingan juga mencicil.


Tidak ingin berlama-lama di sana, sebelum mendengarkan yang tidak-tidak, Mama Diana dan Papa Jaya memilih untuk berpamitan. Bu Rosa juga terus mengoceh yang tidak-tidak. Pasangan paruh baya yang semula tidak tahu kondisi rumah tangga Giselle dan Gibran akhirnya menjadi tahu.


Di sana Mama Diana merasa hatinya begitu pilu. Pastilah tidak mudah menjadi Giselle. Terlebih sikap mertuanya yang tidak tulus. Namun, dua tahun dijalani Giselle tanpa pernah mengeluh.


"Coba Mama telepon Giselle dulu ya, Pa. Di mana dia sekarang?"


Mama Diana sudah merasakan hal yang tidak enak. Kepikiran juga kemana pindahnya Giselle dan Gibran di sana. Papa Jaya mengajak istrinya masuk ke dalam mobil dulu, sebelum dilihatin oleh para tetangga di sana.


"Kita masuk ke mobil saja dulu, Ma," ajak Papa Jaya.


Akhirnya Mama Diana mengikuti saran suaminya untuk memasuki mobil dulu, setelahnya barulah dia menelpon Giselle. Untung saja telepon itu terhubung.

__ADS_1


Giselle


Berdering ....


"Halo, Giselle," sapa Mama Diana melalui handphonenya.


"Ya, halo, Ma. Maaf, baru megang HP, Ma," balas Giselle.


"Selle, kamu sekarang tinggal di mana dengan Gibran? Mama dan Papa datang ke rumah mertuamu katanya kalian sudah pindah. Kenapa kamu tidak pernah bercerita apa pun kepada Mama?"


Giselle yang ada di rumah juga bingung menjelaskan semuanya kepada Mamanya. Ingin beralibi juga takut berbohong. Hingga akhirnya, Giselle terdiam saja.


"Di mana rumah kamu, Selle?" tanya Mama Diana lagi sekarang.


"Oh, kalau Mama sudah di rumah Ibu, lurus saja, Bu. Dari rumahnya Ibu mertua, selisih tiga rumah. Rumah dengan cat tembok warna cokelat. Giselle akan keluar," balasnya.


"Itu, Giselle, Ma," ucap Papa Jaya.


Mama Diana menganggukkan kepalanya. Ya, wanita yang berdiri di tepi jalan adalah putrinya. Namun, Mama Diana semakin bertanya-tanya, jika pindah rumah kenapa hanya selisih tiga blok saja? Bukankah jarak itu terlalu dekat?


Firasat Mama Diana sontak saja merasakan hal yang tidak baik telah terjadi. Terlebih dengan semua ocehan besannya, semakin meyakinkan Mama Diana bahwa terjadi sesuatu dengan rumah tangga anaknya. Namun, kenapa Giselle selama ini tidak pernah bercerita.


"Mama ..., Papa," sapa Giselle begitu Mama dan Papanya turun dari mobil.


Tentu Giselle sangat senang melihat kedatangan Mama dan Papanya. Bahkan, sekarang wajah Giselle penuh dengan senyuman saat menyambut Mama dan Papanya. Tidak memperlihatkan kesedihan sama kali.

__ADS_1


"Mama dan Papa mencarimu. Libur?" tanya Mama Diana.


Giselle memeluk Mamanya, kangen juga dengan Mamanya. "Libur, Ma," balas Giselle dengan memeluk Mamanya.


"Gibran di rumah juga?" tanya Papa Jaya.


Giselle kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, Mas Gibran ada di dalam rumah. Mari, silakan masuk," ajaknya.


Akhirnya, Mama Diana dan Papa Jaya memasuki rumah satu lantai yang di matanya begitu sederhana itu. Giselle memanggil suaminya dan memberitahukan bahwa Mama dan Papanya datang. Giselle pun berganti celana panjang dulu dan menyambut kedua mertuanya.


"Mama dan Papa, selamat datang," sambutnya.


"Ya, Gibran. Sehat kan kalian berdua?" tanya Papa Jaya.


"Alhamdulillah, sehat," balas Gibran.


Untuk beberapa saat, mereka membicarakan hal yang formalitas. Hingga akhirnya, Papa Jaya sekarang ingin menanyai Giselle dan Gibran secara langsung.


"Gibran dan Giselle, anak-anak Papa ... begini, bukannya Papa ingin ikut campur urusan dan masalah rumah tangga kalian berdua. Namun, Papa dan Mama ingin tahu apa ada yang terjadi dengan rumah tangga kalian yang sebenarnya tidak Mama dan Papa ketahui?"


Jika sudah Papa Jaya yang menanyai itu adalah tanda bahwa hal itu adalah hal yang serius. Gibran dan Giselle saling pandang dan saling diam. Bingung juga harus memberikan jawaban apa. Selain itu, Gibran juga bingung apakah harus jujur dan membuka aib ibunya sendiri. Kembali, Gibran berada di dalam kondisi dilematis.


Giselle juga memikirkan hal yang sama. Tidak mungkin akan menceritakan bagaimana ibu mertuanya memperlakukannya selama ini. Yang Giselle takutkan adalah keduanya bisa marah dan bisa memisahkannya dari Gibran.


"Jangan diam. Tidak banyak yang kamu tahu, tapi kamu ingin mendengarkan versi lengkap dari kalian berdua," balas Papa Jaya.

__ADS_1


Sekali lagi Papa Jaya hanya bertanya dan akan berusaha memberikan nasihat yang tepat. Sungguh, Papa Jaya juga kasihan dengan Giselle. Namun, sekarang dia berlaku netral di depan Gibran, menantunya. Semua itu karena di matanya Gibran dan Giselle memiliki posisi yang sama yaitu sebagai anak. Ya, Papa Jaya dan Mama Diana tidak pernah menganggap Gibran hanya menantu, tapi sudah dianggap anak.


Bahkan juga Papa Jaya juga tidak ikut campur. Cukup mendengarkan penjelasan dari anak-anaknya, memberikan nasihat yang mungkin bisa dianggap baik dan diterapkan dalam kehidupan pernikahan mereka berdua.


__ADS_2