Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah
Istri dan Ibu Sama-Sama Mulianya


__ADS_3

Mengantarkan Giselle sampai di kantor, Gibran tersenyum cerah. Menurutnya memang banyak hal yang terlewatkan begitu saja dalam pernikahannya. Tak jarang keduanya juga kadang kala menjauh, hanya sekadar menjalani rutinitas semata. Sekarang, waktunya untuk mengubah keadaan. Membuat rumah tangga mereka berdua lebih harmonis.


"Nanti sore aku jemput ya, Sayang ...."


Pesan dari Gibran sebelum Giselle turun dari mobilnya. Gibran sudah mengingatkan kepada istrinya bahwa nanti dia akan datang dan menjemput. Sehingga bisa pulang dari kantor bersama-sama.


"Iya, Mas ... aku tunggu nanti sore yah. Gak usah tergesa-gesa. Aku akan menunggu," balas Giselle.


"Baik, Sayang. Pokoknya tunggu aku yah. Semangat bekerjanya," ucap Gibran lagi.


Giselle kemudian berpamitan dengan mencium punggung tangan suaminya. Wanita itu tersenyum dan kemudian turun dari mobil suaminya. Ketika dia turun dari mobil, ada temannya yang kebetulan juga baru tiba di kantor.


"Wah, tumben nih diantar suaminya," ucap Kartika, salah satu rekan kerja Giselle di perusahaan itu.


"Iya, biar lebih hemat bahan bakar. Gak bisa beli bahan bakar bersubsidi soalnya," jawab Giselle dengan tertawa.


Itu adalah jawaban yang tidak masuk akal. Hanya sekadar bercanda saja. Hingga Giselle dan Kartika sama-sama tertawa.


"Harusnya sejak dulu, sejak menjadi pengantin itu diantar dan dijemput. Bukan bawa mobil sendiri-sendiri. Biar romantis gitu," balas Kartika lagi.


"Ya, sudah. Tidak ada yang terlambat bukan? Sekarang aja waktunya yang tepat," balas Giselle.


Mereka hanya menemukan waktu yang tepat saja sekarang. Benar-benar tidak terlambat. Namun, Giselle juga sepenuhnya percaya dengan ucapan suaminya bahwa keduanya harus lebih kuat. Sekarang guncangan rumah tangganya datang dari berbagai arah. Dari ibu mertuanya, dan juga dari Annisa. Keduanya harus mengikat hubungan yang lebih kuat.


"Ya sudah, apa pun itu gue doain loe dan suami loe langgeng terus yah. Bahagia selalu, dan sapa tahu segera dikarunia dedek bayi yang gemoy," ucap Kartika.


"Amin ... amin, makasih ya, Tik," balas Giselle.


Bagaimana Giselle berterima kasih untuk doa dari temannya itu. Yang Giselle harapkan juga tidak banyak. Biar menua bersama Gibran, selain itu Giselle juga berharap akan mendapatkan kasih sayang dari ibu mertuanya juga.

__ADS_1


Setelah itu, Giselle menuju kubik tempatnya bekerja. Mulai menganalisis saham dan nilai fluktuatif saham yang terjadi. Sebab memang banyak harga saham yang naik dan turun. Itulah yang harus dianalisis. Lantaran sibuk bekerja, sampai tidak terasa hari sudah sore.


Kartika pun mengajak Giselle untuk keluar kantor bersama. "Yuk, Selle ... pulang," ajaknya.


"Iya, ni juga mau berdiri. Mau nunggu di depan," balas Giselle.


Akhirnya keduanya keluar dari kantor bersama-sama. Kartika langsung memasuki mobilnya, sementara Giselle menunggu suaminya untuk menjemputnya. Hanya sekitaran lima menit, Gibran sudah tiba di kantor istrinya. Menghentikan mobilnya, pria itu segera turun dari mobilnya demi menjemput Giselle.


"Lama nunggunya, Sayang?" tanyanya.


"Enggak, baru saja kok, Mas. Palingan juga baru lima menit. Kan tadi aku sudah bilang kalau gak usah keburu-buru," balas Giselle.


Gibran menganggukkan kepalanya. Kemudian dia membukakan pintu mobil untuk Giselle, menutupnya perlahan. Barulah kemudian Gibran mengitar mobilnya dan mulai duduk di belakang stir kemudi.


"Sayang, mampir dulu ke toko kue yah," ucap Gibran kepada istrinya.


"Iya, mau beliin buat Ibu ya Mas?" tanyanya.


Gibran pun segera mengemudikan mobilnya dan kemudian menuju ke toko kue terlebih dahulu. Dia membelikan bolu pandan kesukaan Ibunya. Berharap, nanti Ibunya tidak akan marah lagi.


"Kamu mau kue enggak?" tawar Gibran kepada istrinya.


Giselle menggelengkan kepalanya. "Enggak, aku sih enggak usah, Mas. Mengurangi karbohidrat, biar langsing. Biar nanti ada dedek gemoy di sini," balas Giselle dengan mengusapi perutnya perlahan.


"Amin ... semoga doa kita didengar Allah ya, Sayang. Yuk, pulang. Semoga nanti Ibu suka sama kuenya," balas Gibran.


Menempuh perjalanan kurang lebih 20 menit, dan sekarang mereka sudah tiba di rumah. Gibran dan Giselle mengucapkan salam begitu sudah memasuki rumah.


"Assalamualaikum," sapa keduanya bersamaan.

__ADS_1


Bu Rosa yang sedang duduk di ruang tamu pun seketika membuang muka. Masih kesal dengan Gibran dan juga Giselle. Namun, Gibran tak mau menyerah. Dia kemudian mengajak Giselle untuk duduk di sofa, dan mengajak bicara ibunya.


"Gibran belikan bolu pandan kesukaan Ibu," ucapnya.


"Gak perlu," balas Bu Rosa.


"Maaf yah, Bu. Gibran itu tidak marah sama sekali loh sama Ibu. Gibran itu marahnya sama Annisa," ucap Gibran sekarang.


Menurut Gibran, dia harus menjelaskan duduk perkara agar tidak menjadi salah paham dengan ibunya lagi. Sebab, tidak satu atap dan banyak kesalahpahaman rasanya sangat tidak enak. Gibran menjelaskan bahwa dia tidak memarahi ibunya.


"Sudah terlanjur, Bran. Sekarang Ibu tanya kepadamu, Ibu atau istrimu itu yang kamu pilih?" tanya Bu Rosa sekarang.


Gibran menghela napas panjang dan kemudian menatap ibunya. "Gibran akan memilih keduanya, Bu. Baik istri dan ibu adalah sama mulianya untuk Gibran. Ibu sudah melahirkan Gibran, mengasuh dan membesarkan Gibran. Sementara, Giselle yang adalah istrinya Gibran adalah wanita yang Gibran cintai. Darinyalah akan lahir keturunan Gibran," balasnya.


"Itu bukan jawaban, Bran," balas Bu Rosa.


"Itu akan selalu menjadi jawaban Gibran. Gibran berkomitmen akan merawat Ibu sampai akhir hayat Ibu. Walau nanti kita tidak serumah, Gibran akan ke sini dan merawat Ibu. Kecuali Ibu bisa berubah dan menerima Giselle, Ibu bisa melihat Gibran dan Gibran akan merawat Ibu," ucap Gibran sekarang.


Bukannya menjadi anak tak berbakti. Namun, Gibran sudah mengatakan semua itu. Bagaimana pun juga Ibu dan istri sama mulianya. Dia akan tetap mempertahankan keduanya. Akan berusaha mendapatkan kasih sayang sang ibu, sembari bisa mencintai istrinya.


"Omong kosong, Bran. Jelas-jelas saja kamu memilih istrimu yang kaya raya itu," balas Bu Rosa.


Giselle yang diam berusaha menahan hatinya. Selalu saja latar belakangnya dari keluarga yang kaya raya dibawa-bawa. Padahal Giselle beranggapan bahwa yang kaya adalah Papanya dan bukan dia.


"Ibu dan istri sama pentingnya, Bu. Sama-sama mulia di mata Allah dan di mata Gibran," balas Gibran.


"Alibimu saja," sahut Bu Rosa.


"Untuk apa Gibran beralibi, Bu. Apa kurang bukti bagaimana Gibran menyayangi dan hormat kepada Ibu? Sampai kapan pun, Gibran akan terus menaruh hormat kepada Ibu," balas Gibran.

__ADS_1


Jujur, bagi Gibran selalu menjadi sesuatu yang sulit ketika dia harus diperhadapkan dengan pilihan istri dan ibunya. Gibran tentu akan memilih keduanya. Memuliakan keduanya. Itu juga jawaban yang Gibran berikan kepada ibunya sekarang. Kasih sayang dan rasa hormatnya untuk sang ibu begitu tulus. Bukan sekadar alibi.


__ADS_2