Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah
Saling Memaafkan


__ADS_3

"Aku memaafkan ...."


Satu kalimat yang diucapkan Giselle barusan adalah kalimat yang dinantikan oleh Gibran. Sekaligus Gibran bereaksi dengan segera memeluk Giselle. Dalam posisi yang sama, kedua kaki yang berada di lantai, wajah keduanya berurai air mata. Ya, Gibran pun menangis sekarang. Lega, hingga pria itu juga berurai air mata.


Mungkin orang lain akan mengira bahwa sebagai pria Gibran terlalu lembek. Namun, memang perasaannya begitu adanya. Seorang pria yang berada di posisi Gibran pun akan merasakan betapa sukarnya dan sesaknya menjadi anak tunggal yang harus berbakti kepada ibunya dan juga memperjuangkan rumah tangganya sendiri. Oleh karena itulah, Gibran berkali-kali berkata Ibunya dan istrinya adalah pilihan yang berat. Keduanya adalah wanita yang mulia baginya. Biarkan dia yang mencari jalan tengah dan meminta Giselle untuk bisa mengerti keadaannya dulu.


"Makasih, Sayang ... sudah mau mengerti aku," balas Gibran.


"Ibu pasti akan sangat marah jika kamu keluar dari rumah, Mas," balas Giselle.


"Aku sudah tahu dan aku sudah memperhitungkan semuanya. Tidak apa-apa. Semoga nanti Ibu akan mengerti bagaimana keadaan kita berdua," balas Gibran.


Usai itu, keduanya kembali berdiri dan kemudian duduk di pinggiran ranjang itu. Giselle lantas berbicara kepada suaminya.


"Aku juga meminta maaf ya, Mas. Waktu itu aku terlalu terbawa emosi. Hati wanita mana yang tidak tersakiti ketika melihat suaminya bersama wanita lain di dalam kamar. Please, Mas ... jangan lakukan lagi, atau aku akan benar-benar tidak mau kembali kepadamu," ucap Giselle.


Di saat yang bersamaan, Giselle juga meminta maaf. Dia sepenuhnya tahu bahwa keputusannya untuk pergi dari rumah adalah salah. Seharusnya, dia berpikir lebih panjang. Namun, kadang sakitnya hati juga memicu saja seseorang yang terbiasa disakiti juga memilih untuk pergi. Untuk itu, Giselle juga meminta maaf secara langsung kepada Gibran.


Rekonsiliasi antar pasangan yang baik adalah saling meminta maaf. Kekecewaan dan kemarahan yang sering terjadi dalam rumah tangga tak jarang bisa menjadi bom yang akan meledak di kemudian hari. Untuk itu, perlu adanya rekonsiliasi. Saling meminta maaf dengan apa adanya, menyadari posisi dan peran masing-masing. Berharap usai rekonsiliasi ini, hubungan suami dan istri akan semakin harmonis. Di lain waktu jika ada konflik lagi, mereka sudah tahu bagaimana cara untuk menyelesaikannya.


"Jadi, mau kan untuk memulai semua dari awal denganku? Mau kan untuk memberikan sedikit pengertian kepadaku bahwa aku akan sering mengunjungi Ibu juga?" tanya Gibran sekarang kepada Giselle.


"Iya, aku tidak apa-apa. Namun, untuk seatap lagi dengan Ibu, aku tidak bisa, Mas," jawab Giselle dengan jujur.


Di kesempatan ini Giselle juga mengatakan dia akan mengerti kondisi suaminya. Tidak masalah, jika suaminya akan mengunjungi ibunya. Namun, Giselle berkata jujur untuk kembali ke rumah ibu mertuanya, dia tidak bisa. Hatinya masih sakit. Traumanya dengan ujaran kebencian yang nyaris dia dengar setiap hari juga masih terngiang-ngiang di telinganya.


Kalaupun, ibunya berkata yang tidak-tidak, suaminya saja yang akan mendengarkannya. Telinga dan hatinya setidaknya akan aman. Jadi, Giselle akan berusaha dan memberikan kesempatan kepada suaminya. Bakti seorang anak juga kepada orang tuanya. Giselle sepenuhnya memahami itu.

__ADS_1


Gibran sendiri merasa begitu lega dengan apa yang disampaikan Giselle itu berarti bahwa dia bisa menjalankan dua peran sekaligus. Sebagai suami dan sebagai anak. Semoga saja jalan tengah ini bisa berjalan dengan baik.


"Mas, tapi kalau Nisa di rumah Ibu, aku tidak akan mengizinkanmu untuk datang ke rumah Ibu," ucap Giselle dengan tegas sekarang.


Lebih baik mengantisipasi terlebih dahulu dan juga caranya untuk mempertahankan suaminya untuk tetap berada di sisinya. Sebelum tergoda oleh perebut lelaki orang atau pelakor, Giselle akan berusaha untuk menggenggam erat layang-layangnya. Tidak akan membiarkan benangnya putus. Sebab, pasangan juga memiliki hak dan kendali untuk pasangannya.


"Baik, Sayang ... berarti kalau mau ke rumahnya Ibu harus melihat situasi dulu," balas Gibran.


"Iyalah, Mas. Kecuali, kalau memang Mas Gibran memang masih bertemu dengan mantannya itu. Ya, beda cerita," balas Giselle.


Dengan cepat Gibran pun menggelengkan kepalanya. "Tidak, Sayang. Aku tidak pernah ingin bertemu dengan dia. Kepulangan dia ke Indonesia lagi saja sangat mengejutkan untukku. Aku juga orangnya begitu sudah jatuh cinta, aku akan berjuang, Sayang. Aku jatuh cinta, jatuh hati kepadamu. Jadi, aku akan memperjuangkan kamu. Aku hanya mau pernikahan kita ini till jannah. Dengan atau tanpa keturunan, aku hanya mau bersanding denganmu," ucap Gibran dengan sungguh-sungguh.


Ketika Gibran mengatakan semua itu dengan sungguh-sungguh, Giselle menitikkan air matanya. Sejauh ini juga belum ada tanda-tanda dirinya hamil. Kadang, juga harapannya pupus. Namun, benarkah ada pasangan yang bisa menerima pasangannya walau tak bisa memberikan penerus? Gibran bisa menerimanya, tapi tidak dengan mertuanya? Pasti nanti akan ada perselisih lagi terkait pilihan mereka dan juga terkait desakan menikah lagi untuk anak. Semua hanya tinggal menunggu waktu.


"Aku terima dengan baik niat tulusmu, Mas. Namun, kalau Ibu mendesakmu menikah lagi?" tanya Giselle.


Akhirnya Giselle menganggukkan kepalanya. Tidak terasa sudah begitu lama mereka melakukan rekonsiliasi bersama. Mengurai masalah demi masalah yang terjadi di dalam rumah tangganya. Semoga saja, nanti ke depannya akan lebih baik dan akhirnya ada hidayah yang Allah tunjukkan. Orang yang keras hati pun, jika Allah yang melembutkannya tanpa bisa terjadi. Orang yang tidak bisa memiliki anak selama bertahun-tahun, jika Allah memberikan mukjizat dan berdaulat penuh juga pastilah akan mendapatkan berkah itu.


Tidakkah kita ingat dengan sosok Nabi Ibrahim dan istrinya. Di mana, dia memiliki putra kandung ketika usianya sudah tidak lagi muda, ketika sudah uzur. Bahkan sang istri pun tertawa karenanya. Namun, itu adalah bukti bahwa bertahun-tahun menikah tanpa keturunan, jika suatu hari Allah berbelas kasihan dan memberikan kedaulatannya secara penuh, maka itulah yang terjadi.


"Bolehkah kita tidur sekarang, Sayang? Sudah hampir tengah malam. Benar-benar tidak terasa," balas Gibran.


"Mas Gibran akan tidur dengan mengenakan jeans?" tanya Giselle. Itu juga karena sekarang suaminya mengenakan celana jeans. Padahal, tidur dengan jeans panjang itu tidak nyaman.


Gibran menganggukkan kepalanya. "Iya, tidak apa-apa. Hanya semalam. Atau, kamu ingin, aku melepas celanaku?" tanya Gibran dengan tersenyum kecil kepada Giselle.


"No, enggak," balas Giselle dengan cepat sembari memalingkan wajahnya.

__ADS_1


Gibran justru terkekeh perlahan. "Makanya itu, memakai celana jeans semalam juga tidak menjadi masalah. Yang penting bisa pelukin kamu saja semalam ini," balasnya.


"Modus, baru maaf-maafan masak mau begituan," sahut Giselle.


"Rekonsiliasi yang sebenarnya itu di ranjang, Sayang. Namun, ya tahan dulu saja. Yang penting sekarang sih masalah sudah clear. Sudah maaf-maafan. Sayang, lain kali jangan pergi-pergi lagi. Percayai aku. Aku tidak akan pernah membuatmu kecewa. Begitu juga, aku akan memastikan pemilik hatiku sepenuhnya adalah kamu," ucap Gibran.


"Hmm, iya, Mas," balas Giselle.


Usai itu, Gibran berbaring terlebih dahulu di ranjang yang tidak besar itu. Kemudian melepas jaket yang dia kenakan. Dia mengulurkan tangannya kepada Giselle.


"Sini, Sayang ... berbaringlah di sisiku," ucap Gibran.


Menganggukkan kepalanya, Giselle kemudian mengambil tempat di sisi Gibran. Kembali satu ranjang, setelah tiga hari pisah rumah. Walau ranjang itu pastilah tidak sebesar dengan ranjang mereka di kamar milik Gibran.


"Saat kamu tidak ada di dalam kamarku, di dalam rumahku. Aku membayangkan, kapan aku bisa bertemu kamu dan kembali memeluk kamu seperti ini. Ketahuilah, Sayang. Tiga hari tanpa kamu, aku seperti kehabisan daya. Aku bahkan tak memiliki semangat untuk hidup. Aku mengurung diri di dalam kamar, baru tadi aku keluar kamar dan makan malam dengan ibu," cerita Gibran.


"Kenapa begitu, Mas?" tanya Giselle kepada suaminya.


"Aku perlu mengelola hatiku. Aku harus beradaptasi dengan kondisiku sendiri. Aku tidak bisa apa-apa tanpa kamu, Sayang. Bekerja pun rasanya lesu," aku Gibran dengan jujur.


"Sayang, tapi aku akan pulang subuh yah. Aku perlu berbicara dengan Ibu. Kamu tunggu di sini yah. Sore hari, aku akan menjemput kamu dan kita menempati rumah kita bersama yah," ucap Gibran lagi.


Giselle menganggukkan kepalanya. "Iya, Mas. Aku menunggu di sini," balasnya. "Mas, kalau keluar dari rumah, keluarlah dengan baik-baik. Jangan sampai Ibu marah dan melontarkan kata-kata yang buruk, karena itu bisa terjadi kepada anaknya," balas Giselle.


"Iya, aku akan mencobanya. Bersiaplah untuk hari esok, Sayangku," ucap Gibran lagi.


Malam kian berlalu, hanya meninggalkan beberapa jam saja sebelum subuh. Gibran meminta Gibran untuk bersiap untuk hari esok. Sebab, kesusahan dan juga perkara yang akan terjadi esok hari sudah menunggu mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2