Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah
Rencana Acara Empat Bulanan


__ADS_3

Akhirnya siang itu, Bu Rosa mengurungkan niatnya untuk makan Bakso. Dia menyadari, bahwa dulu ketika hamil Gibran, Bu Rosa sendiri rupanya juga tidak bisa mencium aroma Bakso bahkan sampai kehamilannya berusaha tujuh bulan. Saat itu almarhum suaminya ketika ingin membeli Bakso, hanya beli sendiri di warung. Tidak pernah membawa pulang Bakso.


Bu Rosa juga benar-benar tak menyangka, sekarang kehamilan Giselle juga mirip dirinya dulu. Jika dipikir, rasanya ironis. Dulu, dia pernah mengingkari janin dalam rahim Giselle ketika Giselle pernah tiga hari pergi dari rumah. Sekarang, ketika diperhadapkan dengan salahnya di masa lalu benar-benar membuat Bu Rosa menjadi malu rasanya.


"Kalau mencium aroma Soto, pusing enggak, Selle?" tanya Bu Rosa lagi.


Giselle menggelengkan kepalanya. Dia memang tidak pusing jika mencium kuah Soto. Sebenarnya, Bakso dan Soto sama-sama makanan berkuah. Akan tetapi, ada rempah-rempah di dalam kuah Soto yang membuat Giselle tidak eneg. Berbeda dengan Bakso yang kuahnya seolah banyak tulang sapi yang direbus, aromanya saja membuatnya pening.


"Kalau Soto, Giselle bisa makan dan tidak pening kok, Bu," jawab Giselle.


"Ya, sudah. Ibu minta tolong dibelikan Soto saja. Soto Lamongan kalau ada, Bran," balas Bu Rosa.


Gibran menganggukkan kepalanya. Dia berpamitan untuk keluar sebentar membeli Soto Lamongan yang diminta Ibunya. Sementara, Giselle berada di kediaman mertuanya. Sebenarnya juga canggung. Bagaimana pun, sudah lama hubungan keduanya tidak baik. Sekarang, rasanya kikuk ketika ditinggal berdua di dalam rumah.


"Giselle mau menyapu rumah depan dulu ya, Bu," pamit Giselle.


Itu juga karena Giselle kikuk dan bingung juga. Ingin memulai pembicaraan, tapi sebelumnya hubungan keduanya tidak seakrab itu. Sehingga, Giselle memilih hendak menyapu teras rumah saja.


"Biarkan saja. Tidak begitu kotor kok. Kamu jangan capek-capek. Kan juga sedang hamil," balas Bu Rosa.


Dulu, Bu Rosa akan marah dan mengoceh jika Giselle belum mengerjakan pekerjaan rumah. Ketika Giselle kadang bangun kesiangan sedikit karena usai lembur di malam hari saja, Bu Rosa akan memasang wajah masam dan berkata pedas. Namun, sekarang mertuanya bisa memaklumi. Justru meminta Giselle untuk tidak terlalu capek karena sedang hamil.


"Selama masih bisa bersih-bersih ya Giselle akan bersihkan kok, Bu. Lagian, menyapu kan tidak berat," balas Giselle.


Lagi sekarang Bu Rosa bisa membandingkan Giselle yang hamil saja mau bersih-bersih. Sementara, sepekan di rumah Rani, mana pernah Bu Rosa melihat Amel menyapu rumah dan mencuci piring. Semua kerjaan di rumah tangga dikerjakan oleh adiknya. Shandy dan Amel benar-benar tak membantu sama sekali. Bu Rosa menyadari, kadang memandang buruk apa yang di depan mata, padahal di luar sana masih banyak contoh yang tidak baik.


"Sekarang, jaga kehamilan saja, Selle. Pakaian kotor kalau gak bisa nyuci sendiri ya dilaundry. Gak usah mempersulit diri sendiri," kata Bu Rosa.


Giselle makin tertegun. Dulu, mana pernah mertuanya bisa memakluminya seperti ini. Yang ada Bu Rosa justru akan selalu memberikan tekanan. Kadang juga bersikap tidak mau tahu. Sekarang, Bu Rosa bisa memintanya untuk fokus dengan kehamilannya saja.


"Makasih, Ibu," balas Giselle.


"Iya, penting kamu sehat. Bayinya juga sehat," balas Bu Rosa.

__ADS_1


Menunggu Gibran sembari mengobrol, akhirnya putranya itu sudah pulang dan membawa kantong plastik yang berisi Soto Lamongan. Tanpa diminta, Giselle juga sudah menuju ke dapur dan menyiapkan makan siang. Soto itu dia buka. Lantas menata semuanya di meja makan.


Sementara Bu Rosa dan Gibran sudah menunggu di meja makan. Namun, ketika Giselle hendak mengisi piring mertuanya dan Gibran, handphonenya berdering. Namun, untuk mengangkatnya Giselle menjadi ragu.


"Angkat saja, Selle. Tidak apa-apa kok," balas Bu Rosa.


"Maaf yah, Bu ... sebentar, Giselle akan lihat dulu," jawabnya.


Rupanya telepon yang masuk adalah dari Mamanya. Sehingga, Giselle segera menggeser ikon telepon warna hijau di layar handphone kemudian menerima panggilan telepon itu.


"Halo, Assalamualaikum Mama," sapa Giselle begitu panggilan telepon itu sudah tersambung.


"Waalaikumsalam, Selle. Kamu baru di mana?" tanya Mama Diana.


"Giselle baru di rumahnya Ibu, Ma. Ada apa?" jawabnya.


"Oh, begini, Selle. Usia kehamilan kamu sudah empat bulan, bahkan sudah akan memasuki lima bulan. Mama dan Papa berencana membuat acara tasyukuran empat bulanan untuk kamu. Di Bandung pun tidak apa-apa," balas Mama Diana.


"Kapan Ma?" tanya Giselle.


"Minggu depan saja tidak apa-apa. Minta izin ke mertua kamu, boleh tidak meminjam rumahnya yang lebih luas. Untuk pengajian saja," balas Mama Diana.


"Coba Giselle sampaikan dulu ya, Ma."


"Ya, Selle. Kalau semua sudah oke, kabarin Mama yah. Palingan nanti hanya Mama dan Papa, juga keluarga Mbak Kanaya yang datang," balas Mama Diana.


Giselle merespons dengan menganggukkan kepalanya. "Baik, Ma. Nanti Giselle akan mengabari Mama lagi yah," balasnya.


Usai itu panggilan telepon berakhir. Giselle pun bergabung dengan suami dan Ibu mertuanya di sana. Dia juga harus bertanya apakah boleh meminjam tempat.


"Dari siapa, Sayang?" tanya Gibran.


"Dari Mama, Mas," jawabnya.

__ADS_1


Gibran juga sayup-sayup mendengar suara Giselle memanggil Mama. Ternyata benar, itu adalah panggilan dari Mama Diana. "Kenapa dengan Mama, Sayang?" tanya Gibran lagi.


"Uhm, begini, Mas. Mama dan Papa ingin membuat tasyukuran untuk kehamilanku. Aku sampai lupa, kalau kehamilanku sudah berusia empat bulan, bahkan hampir lima bulan. Maka dari itu, Mama ingin mengadakan kajian aja," jawabnya.


Bu Rosa yang berada di sana juga turut mendengarkan. Akan tetapi, dia tak berkomentar. Justru Bu Rosa juga menjadi tahu bahwa kehamilan Giselle sudah berjalan empat bulan.


"Ibu, tadi Mama bertanya ... apakah boleh meminjam rumah Ibu untuk acara tasyukuran empat bulanan?"


Dengan hati-hati dan sopan, Giselle bertanya kepada Bu Rosa. Walau begitu, masih ada rasa takut di dalam hati Giselle. Dia takut kalau Bu Rosa menjadi marah dan menolak, sama seperti yang dulu.


"Pakai saja, Selle. Kapan memangnya?" tanya Bu Rosa.


"Rencananya sih minggu depan. Meminta tolong mengundang tetangga di sini saja, Bu. Dari Jakarta hanya keluarga Mama dan Mbak Kanaya yang datang," balas Giselle.


Bu Rosa menganggukkan kepalanya. Tidak marah. Justru itu bukti, besannya juga mau melibatkan dia dalam acara empat bulanan nanti


"Maafkan aku, Sayang. Aku juga sampai lupa. Seharusnya aku yang membuat tasyukuran itu," balas Gibran.


Giselle tersenyum dan menatap suaminya. "Jangankan, Mas. Aku yang hamil saja juga sampai lupa kok. Aku enggak memperhatikan sudah berapa bulan," balas Giselle.


"Ibu bisa bantuin apa, Selle?" tanya Bu Rosa sekarang.


Walau dengan satu tangan yang bisa bergerak bebas, Bu Rosa juga ingin terlibat dan membantu. Sekarang, malu rasanya jika hanya keluarga besan yang menyiapkan semua.


"Ibu penting ikut, dan fokus untuk Sembuh aja, Bu. Tangannya Ibu masih mengenakan gips," balas Gibran.


"Ibu nanti buatkan puding saja yah. Masih bisa kalau hanya membuat puding," balasnya.


"Tangannya sakit enggak nanti, Bu?" tanya Giselle.


"Enggak, gak akan sakit kok. Pelan-pelan saja. Nanti juga bisa kok," balas Bu Rosa.


Giselle menganggukkan seraya tersenyum. Menerima maksud baik dari ibu mertuanya. Kendati demikian, Giselle juga akan turut membantu kalau Bu Rosa membutuhkan bantuan. Semoga hubungan baik mertua dan menantu ini berjalan baik, tidak hanya berubah hanya untuk waktu yang singkat.

__ADS_1


__ADS_2