
Gibran sudah memberikan sinyal tersendiri kepada Giselle, ada hasrat hati yang ingin dia capai bersama dengan istrinya. Lagipula, acara baby moon tidak lepas dari memadu kasih antara suami dan istri. Oleh karena itu, Gibran tidak segan untuk mengatakan hasrat hatinya.
"Mandi dulu ya, Mas. Biar seger," balas Giselle .
"Barengan atau gantian, Sayang?" tanya Gibran dengan melingkarkan tangannya di pinggang Giselle.
"Gantian aja, Mas," balas Giselle.
Dari pantai, mereka kemudian menuju ke dalam kamar mereka. Bergantian untuk mandi. Giselle yang memilih untuk mandi terlebih dahulu. Kemudian disusul Gibran.
Betapa kagetnya Giselle ketika suaminya keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk putih yang dililitkan di pinggangnya. Sampai bingung jadinya. Sebab, di rumah mana pernah Gibran berbuat seperti ini.
"Mas," sapa Giselle perlahan. Melihat suaminya begitu saja justru Giselle yang sudah malu terlebih dahulu.
"Hmm, apa, Yang?" tanya Gibran.
"Pakai baju," balas Giselle dengan singkat.
Akan tetapi, di sisi lain Gibran justru menggelengkan kepalanya. "Begini saja, sudah bisa bercocok tanam, Sayang. Mencangkul, menyemai, dan menebar benih, aku siap," balas Gibran.
Apakah karena terbawa suasana bulan madu sangat suaminya bisa berbicara blak-blakan seperti ini. Giselle saja yang mendengarkan saja malu, tapi Gibran justru terlihat lebih percaya diri.
Tanpa ragu, Gibran menutup semua tirai jendela di kamarnya. Kemudian, dia meredupkan lampu di dalam kamarnya. Dengan penuh percaya diri Gibran menaiki ranjang, dan mengungkung Giselle tanpa menekan bagian perut istrinya yang sudah membesar.
Ketika Giselle terlihat was-was, justru Gibran terlihat sangat percaya diri. Giselle sampai bingung, apakah memang Gibran yang perlahan-lahan berubah dan membuka dirinya, atau dirinya yang sekarang lebih pemalu selama hamil.
__ADS_1
"Sudah sedekat ini, tutup mata dong," instruksi Gibran. Tangan pria itu terulur dan merapikan anakan rambut Giselle, lantas dengan hati-hati Gibran menjatuhkan sebuah kecupan di kening Giselle.
Cup.
"Enjoy this moment, Sayang. Nikmati baby moon ini," ucap Gibran.
Giselle mengangguk perlahan. Matanya pun terpejam, dia membuka dirinya dan menerima Gibran untuk melakukan apa saja atas dirinya. Menikmati momen baby moon yang berharga dan istimewa ini.
Giselle menundukkan wajahnya dan kemudian mendaratkan kecupan demi kecupan di bibir Giselle. Hangat. Manis. Adalah dua rasa yang bisa Gibran rasakan mana kala mencium Giselle dengan hati-hati. Bahkan pria itu tak ragu untuk membuka mulutnya, dia julurkan lidahnya, dan memberikan usapan di bibir Giselle. Menyapa dalam kesan basah yang hangat. Memagut bibir Giselle dengan penuh kelembutan. Menghisapnya dengan terus menggerakkan bibirnya dan memberikan tekanan di sana.
Tangan Gibran pun mengusapi sisi wajah Giselle. Kali ini, Gibran tak akan ragu. Dia akan memanfaatkan waktu ini untuk mencecap manisnya madu bersama dengan Giselle. Dua bibir bertemu, saling memagut, saling melu-mat. Sapaan demi sapaan yang mendesirkan hati, membuat suhu tubuh seketika menjadi panas. Namun, keduanya sepakat tak ingin kehilangan momen itu.
"Mas Gibran," suara lirih Giselle mulai terdengar.
Suara yang Gibran yakini justru bisa menyulut dirinya. Suara yang memberi sinyal khusus bahwa Giselle mulai terbakar sekarang. Maka tak ada yang Gibran tunggu. Dari bibir Giselle, dia mendaratkan kecupan dan jejak basah di garis leher Giselle. Bahkan sekarang, Gibran membuka sedikit bibirnya dan menggigit kulit leher Giselle di sana. Dia hisap dalam-dalam bagian itu, rasa perih membuat Giselle berdesir dan memekik. Namun, Gibran tersenyum mana kala melihat jejak merah di leher istrinya.
Giselle bergerak gelisah. Ada kalanya tangannya meremas sprei di bawahnya. Ada kalanya tangannya membelai helai rambut suaminya. Jangan lupakan gerakan kakinya yang resah. Namun, di satu sisi bahwa Gibran ingin istrinya menikmati semua ini. Terlalu sayang jika melewatkan waktu berkualitas seperti ini.
Sekarang, ketika Giselle mulai menaik, Gibran membantu Giselle dalam posisi duduk, pria itu melepas lilitan handuknya begitu saja. Menunjukkan pusaka yang sudah berdiri di sana.
"Dia kangen kamu, Sayang," kata Gibran.
Giselle sangat tahu apa yang diminta oleh suaminya. Maka, dia mulai memberikan sapaan dalam kesan hangat dan basah dengan bibirnya. Sapaan yang membuat Gibran melenguh merasakan nikmat dari ubun-ubun sampai ke kakinya. Pria itu sesekali mengamati bagaimana cara Giselle menyapanya. Oh, itu sangat indah. Titik demi titik pengantar rasa nikmat, Giselle sentuh dengan pelan, tapi pasti.
"Astaga, Sayangku," pekik Gibran dengan memegangi rambut Giselle yang panjang.
__ADS_1
Namun, Gibran tahu dengan perut yang kian membesar rasanya begah untuk Giselle apalagi melakukannya begitu lama. Maka, Gibran menangkup wajah Giselle dan mencium bibirnya kali ini dengan napas yang lebih memburu. Setelahnya, Gibran membuat Giselle kembali rebah di atas ranjang. Dia membebaskan sisa busana di tubuh istrinya.
Gibran bergerak kian turun dan sekarang wajahnya berada di perut istrinya. Dia mengecup perut yang di dalamnya ada buah hatinya itu. Cup.
"Papa akan pelan-pelan Adik Bayi. Tidak akan menyakiti kamu," ucap Gibran.
Maka, Gibran memberikan sapaan dan melakukan invasi ke lembah di bawah sana. Tak ragu untuk memberikan kecupan, berpadu dengan hisapan. Giselle mende-sah dengan semakin menjadi-jadi. Terlebih dengan hormon kehamilan yang berdampak, membuat Giselle begitu mudah tersulut dan amat berhasrat kepada suaminya itu.
"Mas Gibran," ucap Giselle.
Dia berusaha untuk menarik wajah Gibran, menyudahi apa yang dilakukan suaminya atasnya. Namun, Gibran menolak. Dia ingin melihat dan merasakan istrinya terbebas dan juga merasakan lepasan hingga benar-benar melayang.
Ketika, Giselle tak mampu bertahan, Giselle sangat senang. Itu artinya dia berhasil melakun yang terbaik untuk istrinya. Lantas sekarang, tidak ada lagi yang Gibran tunggu. Dia segera memposisikan dirinya, dan perlahan-lahan menyatukan diri dengan Giselle. Melaju sempurna karena milik Giselle yang basah.
Sekadar bersatu saja Gibran sudah menggeram. Pria itu mulai menyemai di dalam sana. Melakukan hujaman disertai gerakan maju dan mundur. Laju sempurna. Menariknya perlahan, dan memasukkannya kembali dengan sedikit hentakan.
Kedua tangan yang memegangi pinggul sang istri dan sesekali mengusapi perut istrinya. Gibran berhati-hati. Sekuat dan sebesar apa pun hasratnya, tatapan matanya jatuh pada perut istrinya yang kian membesar. Di dalamnya ada buah hatinya, maka langkah yang Gibran ambil harus penuh dengan kehati-hatian.
Giselle memeluk suaminya kadang, dia menangkup wajah suaminya dan memberikan kecupan di bibir Gibran. Oh, itu sangat indah. Keduanya bagai terombang-ambing di tengah samudra. Tenggelam ke dalam, berenang-renang melihat biota laut yang indah.
"I Love U, Sayang," ucap Gibran dengan terus menghunus masuk.
"Love U too," balas Giselle.
Hujaman menguat, disertai dorongan. Maka, tak ada lagi yang Gibran dan Giselle tinggi. Keduanya sama-sama meledak. Bagai balon udara yang pecah dan udaranya keluar begitu saja. Dahaga sudah terpuaskan. Madu cinta sudah mereka cecap bersama.
__ADS_1
Menyatu dalam simfoni. Mengalun indah dalam harmoni, yang tak akan pernah cukup diungkapkan dalam bait diksi.