Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah
Berusaha untuk Mengelak


__ADS_3

Sementara itu di Bandung ....


Sejak pagi itu, Amel menjauh dari Shandy. Ada rasa bersalah kepada suaminya. Tentu ini adalah perasaan yang aneh. Ketika membentak dan memarahi mertuanya sendiri, Amel tidak merasa bersalah. Namun, sekarang barulah di merasa bersalah. Ketika Shandy tengah keluar sebentar dan Amel hanya berada sendirian di rumah, bayang-bayang malam terlarang dengan Pak Davin begitu saja terlintas di benaknya.


Seolah setiap ciuman, kecupan, sentuhan dan bagaimana Pak Davin menyetubuhinya masih terasa. Bahkan dengan mata terpejam semua yang dilakukan Pak Davin terasa nyata. Tangannya yang kokoh, otot-otot yang tercetak liat, dan hujaman yang terus-menerus tanpa akhir. Sungguh, Amel tidak menyangka hanya dalam satu malam saja dia sudah melakukan dosa terlarang seperti itu.


Kenapa Pak Davin melakukan semua itu kepadaku? Selama ini hubungan kita di tempat kerja sangat profesional. Kontak fisik pun tidak pernah terjadi. Namun, semalam itu terjadi tanpa pengaruh alkohol. Kenapa Pak Davin? Kenapa seperti itu? Dalam semalam, Pak Davin sudah menjadikanku istri yang berdosa.


Dalam gumaman yang Amel katakan, ada rasa bersalah. Selain itu, ada rasa berdosa yang membuatnya ketakutan. Takut dengan Shandy sebagai suaminya, dan takut dengan Pak Davin ketika bertemu di tempat bekerja.


Terlebih Amel masih mengingat bahwa sejak semalam dia sudah menjadi milik Pak Davin. Amel sampai takut rasanya. Takut jika Pak Davin mengancamnya dan menggumulinya lagi. Semua kemungkinan bisa saja terjadi, sangat wajar jika Amel merasa takut.


Siang hari, ketika Shandy sudah tiba di rumah. Pria itu menyusul Amel di ke kamarnya. Pria itu datang dengan membawa kue kesukaan Amel. Pikir Shandy, tadi pagi istrinya terlihat tidak enak badan, sehingga dia berniat untuk membelikan kue Muffin kesukaan Amel. Ada juga Cappuccino dingin yang Shandy belikan untuk istrinya juga.


"Kenapa sejak pagi kamu melamun dan irit berbicara? Kamu hanya pergi semalam dan aku seperti kehilangan dirimu?" tanya Shandy.


Semua itu karena Amel biasanya akan mengoceh, marah-marah, atau mengatakan apa pun. Namun, sejak pulang pagi tadi, Amel bak kehilangan kata-katanya membuat Shandy bingung.


Bagaimana aku tidak diam, jika semalam telah terjadi sebuah dosa besar? Bagaimana aku tidak diam, kalau aku sudah disetubuhi pria lain, A? Aku merasa sangat berdosa, dengan diriku sendiri saja aku merasa jijik, A.


Amel tak mampu memberikan jawaban secara lugas. Kata hatinya yang berbicara. Terlalu takut untuk mengakui kesalahan semalam dengan laki-laki lain.


"Dimakan, Sayang. Lagian kamu ini, biasanya pergi ya pergi saja. Sekarang, diam aja begini. Bikin suamimu ini kepikiran," kata Shandy lagi.


"Makasih, Aa," balas Amel singkat.


Shandy tersenyum dan dia mengusapi puncak kepala Amel. Yang pasti Shandy hanya ingin istrinya kembali seperti semula. Amel yang penuh emosi dan meledak-ledak. Jika, Amel menjadi pendiam seperti ini rasanya Shandy seperti kehilangan sosok istri yang dia kenal.

__ADS_1


Saat mereka ada di dalam kamar, tiba-tiba handphone milik Amel Berdering. Wanita itu, mencari handphonenya dan melihat siapa yang menelpon sekarang. Ternyata yang menelponnya adalah Pak Davin. Astaga, melihat nama kontak Pak Davin muncul di layar membuat Amel was-was. Jantungnya berdebar-debar, bahkan kering dingin seakan muncul begitu saja.


Shandy sampai menatap istrinya, kenapa deringan itu masih terdengar dan Amel tidak segera menerima telepon itu. Sampai Shandy ingin melihat siapa yang menelpon istrinya itu.


"Angkat gih, Sayang ...."


Bukan mengangkat yang ada justru Amel tidak menerima telepon itu. Dengan mematikan handphonenya saja. Itu karena Amel tidak mau berhubungan dengan Pak Davin lagi. Amel terlalu takut kalau Pak Davin menginginkan dirinya lagi.


"Siapa sih? Kok enggak diangkat?" tanya Shandy.


"Nomor tidak diketahui kok, A ... biarkan saja," dalih Amel.


Tidak mungkin rasanya mengatakan bahwa nomor itu dari pria yang semalaman bergumul dengannya. Bukan mahram, dan malam terlarang itu terjadi begitu saja. Malam terlarang yang hanya menyisakan luka.


"Ya sudah, minum dulu Cappuccino kesukaan kamu," balas Shandy.


Namun, selang beberapa menit terdengar bunyi deringan di handphone Amel. Shandy kembali menatap Amel. Dia bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa, hari ini terdengar deringan dari handphone istrinya, padahal biasanya tak terdengar deringan telepon dari siapa pun.


"Siapa lagi, Yang? Kalau memang penting. Jawab saja dulu," kata Shandy.


"Udahlah, Aa. Biarkan saja," balas Amel.


"Apa biar aku yang jawab saja kalau memang kamu gak mau jawab?"


Bukan sekadar bertanya, tangan Shandy juga bergerak mengambil handphone istrinya. Pria itu menatap siapa nama yang tertera di layar.


"Direktur Pak Davin," ucap Shandy.

__ADS_1


Setelah itu, Shandy menyerahkan handphone itu kepada Amel. "Ini dari atasan kamu, angkat dulu, Sayang. Gak sopan loh. Siapa tahu ada kerjaan," kata Shandy.


Lantaran Shandy sudah berkata demikian, Amel pun menganggukkan kepalanya. Mau tidak mau, dia harus menerima panggilan telepon dari Pak Davin. Sia-sia dia mengelak, tapi sekarang tetap saja dia harus menerima panggilan telepon itu.


"Halo, selamat siang," sapa Amel dengan mendekatkan handphone itu ke telinganya. Berusaha menyapa secara formal karena ada Shandy bersamanya. Lagipula, Shandy juga tahu bahwa Pak Davin adalah atasannya.


"Siang, Amelia Sayang ...."


Terdengar sapa dari seorang Davin yang memanggil Amel dengan panggilan sayang. Seolah melepaskan hubungan profesional kerja antara atasan dan bawahan. Di satu sisi, Amel sampai kesusahan meneguk salivanya sendiri ketika Pak Davin memanggilnya sayang. Apakah atasannya itu sudah hilang kewarasannya?


"Ada apa Pak Davin?" tanya Amel.


Sungguh, perasaan dan situasi seperti ini sangat tidak enak. Membuatnya bersalah dan tertekan di waktu yang bersamaan. Namun, sia-sia sudah mengelak karena sekarang dia yang terjebak.


"Bisa kita bertemu sore nanti di tempat kerja. Ada yang ingin aku katakan kepadamu," ucapnya.


"Perihal apa Pak?" tanya Amel.


"Nanti saja kalau kita sudah bertemu. Tenang saja ... Amelia Sayang, aku tidak bisa melupakan malam menggairahkan semalam. Hh, aku suka dan ingin mengulanginya lagi."


Dengan frontal Pak Davin mengatakan semua itu. Amel takut sekali rasanya. Namun, karena ada Shandy, dia segera mengalihkan pembicaraan.


"Dilanjutkan nanti, Pak. Saya masih ada pekerjaan rumah," balasnya.


"Oke, Baby. Sore nanti di ruanganku. Aku tunggu, Amelia Sayang," balas Davin.


Setelahnya, Amel segera mematikan handphone dan menaruhnya di atas nakas. Sementara Shandy hanya tersenyum menatap istrinya itu. Tidak menaruh curiga karena tahu yang menelpon hanya atasan istrinya saja. Bukan pria lain, jadi Shandy santai saja. Andai Shandy tahu malam terlarang istrinya dengan atasannya itu, mungkinkah Shandy masih bisa santai seperti sekarang?

__ADS_1


__ADS_2