
Selang beberapa saat kemudian, Giselle menuju ke Mall yang ada di Bandung. Kali ini Giselle dan Gibran tidak seorang diri, melainkan dengan Bu Rosa dan Tante Rani. Lagipula menurut keduanya, tidak salahnya membuat ibunya sekalian. Supaya Ibu dan Tantenya juga bisa sekalian berjalan-jalan.
"Beli apa saja, Selle?" tanya Bu Rosa kepada menantunya itu.
"Mendahulukan beli pakaian bayi dulu, Bu ... duh, Giselle sudah ngiler, Bu ... pengen beli pakaian baby yang lucu-lucu," balas Giselle.
Sekarang Giselle juga hubungannya lebih baik dengan ibu mertuanya. Tidak ada rasa sungkan. Justru, sekarang Giselle dan ibu mertuanya semakin akrab. Tentu saja, perubahan itu disambut baik oleh Gibran dan Tante Rani juga. Keduanya menjadi saksi bagaimana Giselle dan Bu Rosa perlahan-lahan mencair, bahkan sekarang hubungan keduanya sangat akrab seperti ibu dan anak kandungnya sendiri.
"Iya, beli secukupnya dulu saja, Selle. Kan baby itu cepat gedenya. Jadi belikan baju sesuai usia dan berat badannya saja," saran dari Bu Rosa.
"Baik, Ibu ... memang niatnya belinya sedikit-sedikit saja. Daripada nanti tidak kepakai karena babynya cepet gede," balas Giselle.
Sekarang mereka menuju ke penjual toko perlengkapan untuk bayi. Di sana Giselle tampak gemas dengan pakaian bayi yang ada di sana. Selain itu, juga dia melibat Gibran untuk memilih-milih. Ya, walau pria itu kalau memilih biasanya hanya mengikuti istrinya saja.
"Papanya pilihin dong," kata Giselle kepada suaminya.
"Boleh enggak, Papa ngikutin pilihannya Baby Girl?" tanya Gibran.
"Yah, masak semua yang milihin Mamanya. Ibu, masak Mas Gibran gak mau milihin untuk babynya loh, Bu," adu Giselle kepada ibu mertuanya.
Di sana Bu Rosa, Tante Rani, dan Gibran tertawa. Terlebih Gibran yang merangkul istrinya itu. "Duh, sekarang sudah berani mengadu kepada Ibuku yah?" tanyanya.
"Iya, Ibunya Mas Gibran kan Ibuku juga," jawab Giselle.
Hati Bu Rosa benar-benar menghangat sekarang. Menantunya itu menganggapnya bukan sebagai mertua, tapi sebagai ibu. Bu Rosa juga senang. Benar yang dikatakan adiknya bahwa memiliki menantu rasa anak itu sangat menyenangkan. Sekarang, Bu Rosa baru bisa merasakannya.
"Pilihin dong, Bran ... kan ini juga anak kamu. Pilihkan dua atau tiga setel gitu untuk baby kamu," balas Bu Rosa.
Giselle senang sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Senang, kala didukung oleh Ibu mertuanya. "Ibu pilihkan juga yah ... Tante Rani juga. Biar semua memilihkan untuk Baby Girl," balas Giselle.
"Iya, kami pilihkan juga," balas Tante Rani.
Akhirnya Giselle membeli beberapa setel pakaian bayi lengkap dengan sarung kaki, sarung tangan, kain bedong, topi bayi, selimut bayi, dan beberapa barang lainnya. Kemudian Bu Rosa mendekati Giselle.
"Beli gendongan sekalian, Selle. Kamu pilih saja, biar Ibu yang bayar. Maaf yah, Neneknya cuma bisa belikan gendongan dulu," ucap Bu Rosa.
__ADS_1
"Dibelikan Nenek Rosa si Baby juga sudah senang, Nenek ... makasih Nenek, nanti digendongin Nenek yah," balas Giselle.
"Iyah, nanti Nenek gendong yah," balas Bu Rosa. "Gendongan yang zaman sekarang tuh Selle. Kalau kain selendang di rumahnya Ibu banyak, nanti bisa kamu pakai yah," ucap Bu Rosa lagi.
"Iya, Bu ... boleh," jawab Giselle.
Usai belanja semua perlengkapan untuk Baby Girl, Giselle juga menyampaikan kepada Bu Rosa dan Tante Rani bahwa akan bertemu dengan sahabatnya dari Singapura. Sekalian makan siang bersama. Bu Rosa dan Tante Rani juga tidak keberatan.
"Itu, Bu ... temannya Giselle dari Singapura," ucap Giselle.
Lagi, mereka bertemu dengan Alana di Mall itu. Jika tadi, Giselle dan Gibran menemui Alana seorang diri, sekarang rupanya Alana menggandeng anak yang berusia 3 tahun, seorang anak perempuan yang lucu dan wajahnya tentunya mirip Alana.
"Halo ... sapa dulu nih Onty Giselle dan Uncle Gibran," kata Alana kepada bocah kecil itu.
"Halo ... Onty, Uncle," sapa bocah kecil itu dengan cara berbicaranya yang belum jelas.
"Siapa namanya?" tanya Giselle dengan mengusapi puncak kepala gadis kecil yang cantik itu.
"Ayyudisha, panggilannya Disha," balas Alana.
"Ini anakku, Selle. Kan aku sudah menikah empat tahunan yang lalu. Begitu nikah langsung dung, jadi Disha sudah sebesar ini," balas Alana dengan tertawa.
Gisellle tertawa. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa sahabatnya itu sudah menikah dan memiliki anak. Akan tetapi, kenapa justru Alana datang ke Bandung untuk mencari suaminya yang dalam beberapa bulan belakangan jarang pulang ke Singapura. Di dalam hatinya, Giselle bertanya-tanya apakah suaminya Alana tidak rindu dengan gadis manis seperti Ayyudisha ini.
"Cantik banget sih, Lana ... nanti bisa temenan dong sama Dedek Bayi. Babyku juga sejauh ini hasil USGnya cewek," balas Giselle.
"Boleh, nanti sekolah internasional di Singapura yah," balas Alana.
Usai itu Alana juga menyapa Bu Rosa dan Tante Rani. Tidak ada rasa sungkan, karena menurut Alana, orang tuanya Gibran juga ramah. Sehingga, dia dan Disha juga santai saja.
"Kita makan yuk?" ajak Giselle kepada sahabatnya itu.
"Boleh," jawab Alana.
"Disha cantik mau makan apa?" tanya Giselle.
__ADS_1
Disha tak menjawab, dia bingung melihat banyaknya restoran yang ada di dalam mall itu. Ya, walaupun mall yang ada di Bandung tdiak sebesar Mall di Singapura. Namun, karena Disha masih kecil, dia juga masih bingung.
Belum sempat Disha memberikan jawaban. Terlihat Disha menarik-narik tangan Alana. Membuat Alana bingung jadinya.
"Kenapa Sayang?" tanya Alana.
Disha menatap pada satu objek dengan jarak beberapa meter di hadapannya. "Papi ... Papi!"
Rupanya di mall itu, justru Disha melihat Papinya. Mereka yang ada di sana pun mengedarkan pandangannya, mencari tahu siapa sosok yang ditunjuk oleh Disha sebagai Papinya. Akhirnya, Disha kecil melepaskan genggaman tangan Maminya, gadis kecil itu berlari dan mengajar sosok yang dia kenali sebagai Papinya.
"Papi ...."
"Pa ... Pi!"
Suara Disha yang agak cempreng pun menggema di dalam Mall itu. Dia berlari, sementara Alana dan Gibran berusaha mengejar, takut jika Disha sampai jatuh, atau berlari ke arah eskalator yang tentunya berbahaya untuk anak-anak.
"Disha ... Disha, tunggu Mami," teriak Alana sambil berlari.
Hingga tangan kecil Disha memeluk lutut seseorang pria yang dia yakini adalah Papinya. Disha terengah-engah dan menangis di sana.
"Papi ... Papi!"
Namun, Alana tampak terkejut. Benar, pria itu adalah suaminya. Akan tetapi, ada wanita lain yang bergelayut manja di lengan suaminya. Air mata Alana pun berlinangan begitu saja. Pun dengan wanita cantik yang sekarang mengapit tangan pria itu perlahan melepaskan tangannya. Satu tangannya luruh begitu saja.
"Papi?"
Pria berbadan tegak itu, tidak menyangka ada bocah kecil yang memeluk kakinya dan memanggilnya Papi. Hingga akhirnya, pria itu berbalik dan melihat siapa yang memeluknya.
"Papinya ... Dica," kata Disha dengan suaranya yang masih belum jelas saat berbicara.
Di arah belakang, Giselle, Bu Rosa, dan Tante Rani juga tidak menyangka melihat kejadian ini. Disha menemukan Papinya di Bumi Parahiyangan ini. Lantas, dari arah sebaliknya, ada pria yang berjalan santai dengan memakai topi hitam dan kacamata hitam.
"Wah, kejutan!"
Pria berkacamata hitam itu tersenyum miring dan bertepuk tangan. Drama besar sudah tersaji di depan mata. Tinggal mengungkap semua kebenarannya satu per satu. Tabir akan tersingkap sebentar lagi.
__ADS_1