Rahasia Menantu Billionaire

Rahasia Menantu Billionaire
Dukungan Abraham


__ADS_3

...Dulu mungkin terbesit bersamamu adalah hal terburuk tapi ternyata setelah semuanya bisa berdamai dan aku mencintaimu. Kamu adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan kepadaku....


...~Aufa Falisha...


...****************...


Suara tawa keluarga yang teramat bahagia sangat amat terasa di sebuah ruangan restoran yang sudah direservasi oleh Abraham. Canda tawa dan guyonan tentu ada disana dengan sangat hangat.


Sebuah keluarga besar yang terdiri dari keluarga Aufa, keluarga Abraham dan juga Kakek serta Nenek Abraham terlihat begitu saling ramah dan tamah dan juga saling bersenda gurau satu dengan yang lain.


Sikap kekeluargaan dan kehangatan mereka begitu sangat amat terasa disana. Mereka saling menyayangi satu dengan yang lain.


Ting ting ting


Abraham mengetukkan sendok dengan gelas agar perhatian semua orang tertuju padanya. Benar saja, semua mata keluarga memandang ke arahnya. Pria tampan dengan pakaian rapi itu berdiri dan merapikan sedikit bajunya.


"Sebelumnya, izinkan Abraham menyapa semua keluarga dulu. Selamat malam Kakek, Nenek. Selamat malam Mama, Papa dan selamat malam Ibu, Ayah dan si kembar," Kata Abraham memulai pembicaraan. "Malam ini, disini ada sesuatu yang mau Abraham katakan pada kalian semua."


Mata Abraham spontan menatap ke arah ayahnya. Dia hanya ingin melihat reaksi ayahnya kepadanya. Abraham yakin ayahnya itu tahu apa yang sebenarnya akan dia katakan.


"Mungkin lusa, Abraham dan Aufa harus segera kembali ke Indonesia," Ucapnya pelan yang didengar oleh semua orang.

__ADS_1


"Kenapa, Nak? Ada apa?" Tanya Almeera yang khawatir.


Begitupun dengan semua orang. Seakan mereka menatap penuh menuntut. Saling bertanya ada apa sebenarnya yang terjadi. Kenapa kepulangan itu terkesan mendadak di benak mereka.


"Mungkin kalian semua bingung tapi Abraham yakin Ayah Bara sudah mengetahui alasannya," Kata Abraham yang membuat Bara menoleh.


Pria itu tenang sejak tadi. Pria yang tak lagi muda itu masih tetap memancarkan aura kharismanya. Ketampanan sejak muda tentu masih sangat amat terlihat jelas dan menurun di kedua putranya, Abraham dan Athalla.


"Ayah tau?" Tanya Almeera menatap suaminya yang duduk tenang di sampingnya.


"Iya, Sayang. Kak Jo mengatakan kepadaku," Ujar Bara yang membuat Almeera mengerutkan keningnya tak paham.


"Kak Jo?" ulangnya dengan pelan.


Almeera hanya diam. Dia kembali menatap putranya yang masih berdiri dan mencoba menenangkan dirinya.


"Abraham akan kembali mengurus perusahaan Ayah karena istri Om Jonathan sakit," Kata Abraham yang tentu membuat Almeera dan orang tuanya terkejut.


Kabar ini memang belum ada yang tahu kecuali Bara dan Abraham. Lalu Jonathan akhirnya memberikan amanat agar Abraham yang mengatakan dan memberi kabar pada semua orang.


"Kakek, Nenek dan Mama, jangan khawatir. Om Jonathan bilang semuanya baik-baik saja," Ujar Abraham yang melihat kakek dan neneknya terlihat panik.

__ADS_1


"Lanjutkan, Nak!" Kata Bara pada putranya.


"Jadi lusa Abang akan pulang ke Indonesia. Untuk Mama dan Papa… " Jeda Abraham menatap kedua mertuanya yang sejak tadi diam. "Papa dan Mama bisa melanjutkan jalan-jalan dulu. Biar nanti kepulangan Mama dan Papa diurus oleh orang-orangku."


"Mama dan Papa akan ikut pulang!" Kata Mama Bela menatap suaminya yang mengangguk. "Mama ingin ikut menjaga cucu Mama bersama kamu."


Abraham tersenyum. Dia benar-benar merasa bersyukur. Semua yang buruk di masa lalu. Semua masalah yang terjadi ternyata telah berubah. Semua yang dulu menolaknya kini menerimanya dengan baik.


"Jadi biarkan malam ini menjadi malam perpisahan kita. Abang ingin memberikan kenangan indah untuk keluarga Abang terutama istri Abang, Aufa Falisha."


Ada perasaan hangat dalam diri Aufa. Dia benar-benar mendapatkan suami yang selalu mengutamakan dirinya. Dia mendapatkan suami yang mementingkan kepentingan dia daripada dirinya sendiri.


Aufa benar-benar bersyukur. Matanya menatap sosok pria yang perlahan duduk di sampingnya dan mulai menunggu para pelayan mengantar beberapa makanan yang belum ada disana.


"Kenapa, Sayang?" Tanya Abraham yang menatap istrinya dengan pelan.


"Makasih banyak. Makasih banyak sudah mencintaiku sebesar ini," Lirih Aufa yang mulai melow dan membuat Abraham tersentuh.


Dia menghapus air mata yang menetes di kedua sudut mata istrinya. Abraham sudah banyak tahu jika orang hamil adalah orang paling sensitif hatinya. Orang paling moodian dan juga paling tak bisa disalahkan.


"Sama-sama, Sayang. Teruslah belajar menjadi istri yang baik sesuai versi kamu dan biarkan aku menjadi suami yang terbaik versi aku!"

__ADS_1


~Bersambung


__ADS_2