
...Percayalah apa yang terjadi di masa lalu membuatku menjadi sosok yang menjadikan masa lalu itu sebuah pelajaran dan tak akan terulang di masa depan....
...~Abraham Barraq Alkahfi...
...****************...
"Jadi jangan pernah merasa sungkan atau takut untuk mengatakan kamu ingin sesuatu. Oke?" ujar Abraham penuh pengertian. "Karena masa-masa inilah, yang aku tunggu seumur hidupku, Sayang."
Mata Aufa berkaca-kaca. Dia tak menyangka suaminya akan sebaik ini. Bahkan Abraham mau menepis rasa lelahnya demi dia dan anak-anaknya. Ketulusan dalam diri suaminya bisa Aufa lihat. Bagaimana pria itu bereaksi, bagaimana jawaban suaminya itu. Semuanya terlihat sangat jelas.
"Iya, Sayang. Aku bakalan bilang kalau aku ingin sesuatu sama kamu."
Bibir Abraham tersenyum. Dia mengangguk dan memberikan kecupan singkat di bibir istrinya lagi.
"Sekarang kita lanjut cari lagi yah!"
Akhirnya Abraham melanjutkan mengemudikan mobilnya. Mereka benar-benar tak ada rasa pasrah atau menyerah. Apalagi Abraham, pria itu terlihat begitu sangat antusias karena dia yakin apa yang dia cari pasti ada.
Perjalanan itu lumayan cepat. Jalanan yang sedikit lenggang dan juga rata membuat Abraham bisa menambah kecepatan mobil mereka. Sampai akhirnya mobil mereka mulai menepi di depan toko kue yang masih buka dan terlihat ada beberapa orang membeli.
Aufa tersenyum. Dia lekas turun dengan semangat. Dirinya benar-benar yakin seyakin-yakinnya jika apa yang ia cari pasti ada.
"Ayo!" Ajak Abraham sambil mengulurkan tangannya.
Aufa menerima uluran tangan itu. Keduanya berjalan beriringan dengan tangan saling bertaut.
Senyuman Aufa langsung terlihat begitu sempurna saat dia melihat jejeran kue yang masih sangat lengkap. Bibirnya semakik menyunggingkan senyum tipis saat dia melihat kue yang ia cari ada disana.
"Coklat kejunya sepuluh," Kata Abraham secara langsung.
"Terus?" Tanya pelayan itu dengan menatap Abraham yang masih melihat.
"Greentea dua dan tiramisu dua," Lanjutnya yang membuat Aufa menelan ludah saat makanan itu mulai dipindah ke dalam kotak.
"Kenapa banyak banget, Sayang?"
"Ibu, Ayah dan adik aku suka coklat juga, Sayang. Jadi mau gak mau, apa yang kamu ngidam sama dengan mereka," Kata Abraham yang membuat Aufa membulatkan matanya.
Dia terdiam. Ah lebih tepatnya Aufa mulai sadar sesuatu. Apa yang dia inginkan sekarang, apa yang dia ingin makan mungkin sama dengan apa yang disukai oleh suami dan keluarga suaminya.
Sebenarnya Aufa bukan tipikal pecinta coklat banget. Namun, entah kenapa dia sangat ingin malam coklat sekarang. Dia ingin memakan rasa legit dan asin itu bersamaan.
"Terima kasih," Kata Aufa sambil menerima kotak itu.
"Kamu tunggu depan ya, Sayang," Ujar Abraham yang mulai membayar pesanan mereka.
Sedangkan Aufa, ibu hamil satu ini malah duduk di kursi yang ada di depan toko kue itu. Di duduk dengan tenang lalu mulai membuka kotak tersebut.
__ADS_1
Aufa menelan ludahnya sambil mengangkat salah satu kue coklat keju dengan mata penuh minat. Dia mencium aroma nya dulu yang semakin membuat air liurnya ingin menetes.
"Ini baunya," Ujar Aufa dengan begitu tak sabaran.
Akhirnya dia mulai menggigit cake itu sampai rasa coklat mulai terasa di lidahnya. Matanya terpejam menikmati enaknya rasa coklat itu dan membuat senyumnya terbit disana.
"Bagaimana?" Tanya Abraham yang membuat mata Aufa terbuka.
Aufa terkejut. Namun, sedetik kemudian dia mengangguk.
"Ini enak banget. Banget banget banget. Aku suka!" Kata Aufa sambil menggigit roti itu lagi dengan begitu antusias.
Abraham tersenyum. Dia menarik kursi di depan istrinya lalu duduk. Setelah itu dia tak lupaembuka botol air putih yang barusan dia beli lalu menyodorkan ke depan meja istrinya.
"Makanlah pelan-pelan, Sayang. Aku akan menunggu disini," Kata Abraham dengan begitu pengertian.
Aufa mencomot satu cake lagi. Dia menganggukkan kepalanya melihat suaminya yang dengan sabar menunggunya makan.
Entah kenapa cake itu berasa seperti makanan paling enak untuknya. Aufa perlahan menyodorkan cake itu di depan bibir suaminya.
"Akkk!" Kata Aufa meminta suaminya membuka mulut.
"Gak perlu, Sayang. Kamu makan aja," Ujar Abraham yang entah kenapa tak mau menggoda istrinya.
Dia senang saat melihat istrinya yang begitu antusias sangat makan. Entah kenapa Aufa terlihat begitu mood baik ketika makan seperti ini.
Abraham kelabakan. Dia lekas memajukan wajahnya dan membuka mulut saat melihat wajah istrinya sedih.
"Kemari, Sayang. Suapin aku!"
Wajah yang mulanya muram kini terlihat berbinar. Aufa mulai menyuapi Abraham dan dirinya bergantian. Kedua benar-benar sangat amat terlihat sama-sama klop ketika makan kue coklat itu dengan begitu semangat.
"Perutku," Kata Aufa sambil mengusapnya. "Kenyang."
Abraham tersenyum. Dia mengusap kepala Aufa dengan sayang dan tersenyum.
"Ada yang ingin kamu makan lagi?" Tanya Abraham dengan pelan.
Kepala Aufa menggeleng. "Aku ingin pulang terus tidur sambil peluk kamu."
Abraham tersenyum. Dia lekas beranjak berdiri dan mengulurkan tangannya pada sang istri.
"Ayo pulang!"
Aufa tentu lekas mengangguk. Dia meraih kotak kuenya dulu sebelum menerima uluran tangan sang suami dan mulai masuk ke dalam mobil.
***
__ADS_1
Sesampainya di rumah. Abraham meletakkan kotak kue itu ke dapur. Bersamaan dengan itu di melihat ibunya tengah melakukan sesuatu disana.
"Ibu," Panggil Abraham lalu mendekati ibunya. "Ibu sedang apa? Ini masih sangat pagi, Bu."
Almeera terkejut dengan keberadaan putranya. Dia memutar tubuhnya dan melihat anak pertamanya.
"Ibu ambil air putih, Nak," Kata Almeera sambil menatap penampilan anaknya itu. "Kamu dari mana?"
Abraham mengangkat kotak kue yang ia pegang. Mata Almeera menyipit membaca nama kotak yang ada disana.
"Kue kesukaan kamu?"
Kepala Abraham mengangguk. "Aufa ingin makan cake, Bu. Dia bilang ingin coklat keju. Jadinya Abang ajak dia ke toko langganan kita."
Almeera menatap anaknya yang membuka kulkas lalu meletakkan kue itu disana. Setelahnya ibu dan anak itu mulai berjalan bersama ke arah ruang tamu.
"Mengidam, Nak?" Tanya Almeera saat dia sampai di ruang tamu.
Aufa yang saat itu tengah duduk bersandar dengan mengusap perutnya yang kenyang spontan berdiri.
"Duduk aja gak papa," Ujar Meera menahan menantunya yang hendak berdiri. "Masih ingin makan cake?"
Aufa tersenyum. Kepalanya menggeleng dengan tangan mulai melingkar di lengan mertuanya itu.
"Udah nggak, Bu. Perut Aufa kenyang banget."
Almeera tersenyum. "Kalau ingin apa-apa. Jangan sungkan bilang sama Ibu juga yah. Ibu bakalan bantu kamu buat cari makanan yang kamu inginkan."
"Ibu ingin memenuhi keinginan calon cucu ibu ini. Ibu gak sabar buat ikut beli makanan yang dia inginkan," Kata Almeera dengan tulus.
Perkataan mertuanya membuat jantung Aufa terus berdegup kencang. Perkataan Almeera membuat Aufa merasa sangat amat disayang dan dicintai di sini.
"Ya, Nak?"
Kepala Aufa mengangguk.
"Iya, Bu. Aufa janji jika ingin sesuatu. Bakalan bilang sama Abang dan Ibu."
"Sekarang kalian istirahat. Oke? Ini sudah hampir pagi," Kata Almeera penuh perhatian.
"Siap, Bu."
"Ibu juga istirahat yah," Kata Abraham yang mulai berdiri bersama istrinya.
"Iya. Yaudah ayo kembali ke kamar kalian dan segera istirahat."
~Bersambung
__ADS_1