
...Apa yang selama ini disembunyikan dengan baik. Suatu saat nanti pasti akan muncul ke permukaan. Sepandai-pandainya bangkai ditutupi maka pasti akan tercium aromanya....
...~JBlack...
...****************...
Merasa Mela benar-benar lelap. Akhirnya kedua tangan kekar itu menyelinap di sela-sela leher dan bagian bawah tubuh sang istri, lalu mengangkatnya perlahan dan membawanya ke dalam dekapan tubuhnya.
"Aku harus membawamu pergi dari kamar ini," bisik Abraham yang membuat Aufa menahan tawa "Sahabatmu benar-benar pengacau malam cinta kita, Sayang."
Setelah mengatakan itu, Abraham membawa tubuh wanita yang masih terlelap dalam mimpinya keluar kamar. Dia berjalan menuju kamar tamu yang berada tepat di samping kamar ini.
Abraham tak mungkin kembali ke kamarnya. Dia sangat tahu betul jika dirinya naik turun akan membuat istrinya juga merasa lelah.
"Kamu nakal ya, Mas. Kamu yang salah, kalau yang malah marah sama sahabat aku?"
Abraham terkekeh pelan. Apa yang dikatakan istrinya memang benar. Apa yang dia lakukan karena persetujuan dirinya tapi dia sendiri yang nakal.
Perlahan dia membuka pintu itu lalu mulai masuk ke dalam. Dia membaringkan tubuh sang istri lalu kembali untuk mengunci pintu kamar yang masih terbuka. Setelah semuanya aman, Abraham menghidupkan lampu kamar hingga sinar terang itu, membuat wanita yang tengah berbadan dua itu menutup matanya karena sinar lampu.
Dahinya mengkerut dengan tubuh mulai menggeliat ke samping. Dia berusaha meraih sesuatu yang mungkin bisa menutupi wajahnya. Hingga gerakan yang dilakukannya, entah kenapa membuat pria yang sejak tadi menyandar di dinding, terpacu untuk mendekat.
"Sayang?" bisik Abraham dengan suara beratnya.
Dia menggerakkan jari jemari miliknya dengan lihai. Dari mengusap dahi itu, lalu bergerak turun menuju hidung mancung yang selalu menjadi pandangan favoritnya sejak dulu. Dia menekannya lalu mencubitnya hingga sang Aufa benar-benar merasa suaminya sudau sangat menginginkannya.
"Kamu benar-benar yah. Godain aku dari tadi!" Kata Aufa dengan tertawa.
Abraham tak kalah ikut tertawa. Dia meletakkan kepalanya di atas perut Aufa dan mengusapnya.
"Maafin ayah ya, Nak. Ayah harus menculik ibu kamu karena Ayah gak bisa jauh dari Ibumu. Ayah gak bisa tidur sendirian!"
__ADS_1
Aufa hanya mampu tertawa.
"Modus!"
"Ih gak modus, Sayang!" Kata Abraham sambil mengangkat tubuhnya.
Dia mendekatkan wajahnya lalu mencium pipi mulus itu hingga membuat mata perempuan yang sejak tadi terpejam langsung terbuka lebar.
"Kalau gak modus apa? Sekarang kita ada di kamar tamu. Kamu culik aku. Padahal tadi siapa yang bilang kamu boleh tidur sama Mela?" Sindir Aufa yang membuat Abraham tertawa.
"Aku!"
"Yaudah jadi salah siapa?"
"Aku!"
"Terus?"
"Ya semua karena aku. Aku izinin kamu tapi aku gak bisa tidur. Jadinya apa yang merupakan jadi milikku aku ambil lagi. Aku ralat perkataanku tadi!"
"Apa yang akan kita lakukan setelah ini?" Kata Aufa memancing
"Bisakah malam ini aku meminta hakku lagi, Sayang?" tanya Abraham meminta izin.
Bagaimanapun pria itu masih sadar akan posisinya. Dia takut membuat istrinya tak nyaman atau tiba-tiba merasa lelah karena kejadian hari ini. Apalagi ini menyangkut keinginan keduanya.
Abraham hanya tak mau istrinya lelah. Abraham tak mau memaksa istrinya untuk melayani dirinya.
Pertanyaan sang suami di tengah malam ini. Entah kenapa membuat Aufa merasa dihargai. Wanita itu merasa begitu dicintai dan dihormati oleh suaminya sendiri.
"Aku tak akan memaksa jika kamu merasa lelah, Sayang. Untukku, kenyamanan kamu yang terpenting."
__ADS_1
Aufa masih diam. Matanya terus menatap mata sang suami dan berusaha menyelami isi di dalamnya. Dia bisa melihat pancaran cinta yang sejak dulu tak pernah berubah. Hingga dorongan dari mana, hati kecilnya berteriak agar memberikan yang terbaik malam ini untuk sang suami.
"Jangan diam saja, Sayang! Aku…."
"Diam!" Aufa menyela.
Dia mendorong tubuh Abraham hingga pria itu terbaring di ranjang dan dirinya mengambil alih dengan berada di atas.
"Sa-yang," kata Abraham tergagap.
Dia menatap istrinya tak berkedip dengan mata terbelalak. Dia tak percaya jika Aufa bisa bertindak seperti ini. Jantungnya saja sampai berdegup kencang saat wajah itu mulai condong ke arahnya dengan tangan diletakkan di dada kekar miliknya.
"Kamu mau ini, hmm?" goda Aufa sambil menggerakkan jemari lentiknya di dada bidang itu.
Membuat pola-pola abstrak yang membuat pemiliknya menggeram dengan mata terpejam. Hingga malam itu akhirnya terjadi pertempuran itu lagi dengan waktu yang mungkin hanya sebentar karena Abraham tak mau istrinya kelelahan.
...****************...
Sedangkan di tempat lain. Lebih tepatnya di Indonesia. Seorang perempuan yang tak lagi muda itu masuk kedalam ruang kerja suaminya.
Ya wanita itu yang tak lain adalah Mama Semi berjalan masuk karena dia mencari cincinnya yang ia ingat terakhir kali tertinggal di ruangan kerja suaminya.
"Kemana yah? Kenapa aku bisa lupa sama cincin itu," Kata Mama Semi menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Dia lekas mencari di atas meja kerja suaminya. Membuka satu per satu laci hingga sampai di laci paling bawah.
Saat Mama Semi membuka tiba-tiba dia melihat sebuah gaun tipis yang sangat dia tahu itu apa.
"Lingerie?" Kata Mama Semi sambil meraih gaun itu di tangannya. "Milik siapa ini?"
Mama Semi mendekatkan baju itu di hidungnya. Dia mencoba menghirup aroma apa yang ada disana sampai akhirnya jantungnya hampir lepas.
__ADS_1
"Ini aroma Papa. Ya ini parfum Papa," Lirihnya sambil menatap lingerie itu penuh luka.
~Bersambung