Rahasia Menantu Billionaire

Rahasia Menantu Billionaire
Bengkak


__ADS_3

...Ternyata sebuah kenangan kecil tak mampu membuat seseorang bisa bertingkah sama saat dewasa. ...


...~Oneta Athaya...


...****************...


Aya hanya bisa menunduk. Dia menggenggam tangan kakak kembarnya itu dengan mencoba menahan rasa cemburu. Ya sikap cemburu seorang remaja saat teman dekatnya di masa kecil lebih dekat dengan yang lain daripada dirinya.


Seorang teman yang dulu menangis karena dia tinggal. Teman yang dulu pernah begitu dekat dengannya. Sangat mengganggu dirinya tapi sekarang terasa jauh.


Hingga mata kecil itu mulai mengembun. Ya Aya hampir menangis. Rasanya dia tak mau berada disini. Sampai akhirnya, sebuah tangan melingkar di bahunya dan menariknya dari samping membuat Aya terasa tenang.


"Aya kenapa, La?"


Athala menggeleng. "Kayaknya dia pusing karena kecapekan, Kak."


Aya hanya diam pasrah. Dia tak memiliki kekuatan untuk berbicara. Aya semakin mencari tempat nyaman dengan memeluk kakak kembarnya itu.


Sampai akhirnya mata itu benar-benar terepjm dan Aya tertidur di sepanjang perjalanan.


***


Perjalanan itu akhirnya berakhir. Mobil mobil itu mulai memasuki halaman rumah yang sudah lama mereka tinggal. Rumah yang memiliki banyak kenangan di dalamnya.


Rumah yang memiliki cerita hidup. Rumah yang memiliki masa buruk dan bahagia.

__ADS_1


"Mana, Aya?" Tanya Almeera saat Reyn dan Ane turun.


"Aya tidur, Tante. Itu lagi dibangunin sama Thalla," Jawab Ane yang membuat Bara lekas menoleh.


"Mas," Panggil Meera yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Bara.


Pria yang sudah tak lagi muda itu lekas berjalan ke arah mobil yang dibawa oleh supir Reno. Bara membuka pintu yang menjadi tempat keluar Ane lalu mulai masuk.


"Gak bangun?" Tanya Bara dengan tertawa kecil.


Athalla menggeleng.


"Kamu tau kan, gimana saudara kembarnya ini kalau tidur?" Ejek Bara yang dijawab kekehan oleh Athalla.


"Dia kebo, Yah!"


Bara perlahan mulai keluar. Dia membawa putrinya dalam gendongan dan membuat Reyn yang berdiri di samping mobilnya menatap kepergian Bara dengan tatapan mata yang tak bisa dijelaskan.


"Reyn," Panggil Ane yang membuat remaja itu menoleh.


"Iya, Kak?"


"Ayo masuk!"


Semua orang akhirnya mulai masuk. Begitupun dengan Abraham dan Aufa. Pasangan suami istri yang sejak tadi begitu rukun dan tenang itu mulai mencari tempat duduk.

__ADS_1


Ya, Aufa merasa kakinya begitu pegal. Dia bahkan merasakan punggungnya sakit.


"Gimana?" Tanya Abraham dengan khawatir.


"Kaki aku bengkak, Sayang," Celetuk Aufa dengan terkejut.


Abraham tentu menunduk. Benar saja yang dikatakan oleh istrinya itu. Kedua kaki Aufa bengkak dan membuat Abra khawatir.


"Tenanglah, Nak. Itu hal wajar untuk ibu hamil," Kata Mama Aufa dengan pelan.


"Siapkan air hangat untuk kompres, Nak," Lanjut Almeera yang membuat Abraham mengangguk.


"Kamu tunggu disini dulu ya, Sayang. Aku siapin air hangat," Kata Abraham dengan beranjak berdiri lalu segera ke dapur.


Aufa merasa begitu bahagia. Dia merasa begitu diperhatikan. Ya, suaminya selalu mengutamakan dirinya. Abraham selalu menghargai dirinya, memprioritaskan dirinya. Membuatnya selalu menjadi istri yang beruntung.


"Ini bakalan kempes kan, Ma?"


"Tentu, Nak," Jawab Mama Aufa sambil mengusap kepala putrinya. "Ini bakalan kempes dalam beberapa hari."


"Kaki aku kayak gajah banget," Ujar Aufa yang membuat Almeera tersenyum kecil.


"Begitulah jadi seorang ibu, Aufa. Banyak pengorbanan yang dia lakukan. Banyak usaha yang dia perbuat hingga membuat seorang wanita selalu spesial," Ujar Almeera dengan lembut dan meraih tangan menantunya lalu diusapnya. "Jangan menyerah ya, Nak."


"Tentu, Bu. Aufa gak bakal nyerah. Aufa bakalan berjuang untuk anak Aufa dan Abra."

__ADS_1


~Bersambung


__ADS_2