Rahasia Menantu Billionaire

Rahasia Menantu Billionaire
Si Bucin


__ADS_3

...Mungkin cinta kita bermula dengan hal yang tak menyenangkan tapi saat ini cinta itu datang dengan sendirinya dan membuatku jatuh ke dalam pelukanku. ...


...~Abraham Barraq Al-Kahfi...


...****************...


Bibir yang mulanya melengkung ke bawah spontan tersenyum lebar. Mata yang tadi penuh akan kekecewaan kini berbinar cerah.


Aufa bahkan sampai turun dari ranjang dan berjalan ke arah suaminya karena dia tak percaya jika keinginannya akan dipenuhi dengan baik olehnya.


"Beneran kan? Kamu gak marah? Kamu gak… "


"Usttt!" Abraham menutup bibir istrinya dengan telunjuknya.


Kepalanya menggeleng lalu dia melingkarkan tangannya di pinggang sangat istri dengan nyaman.


"Buat kamu dan anak kita. Apapun bakal aku lakuin. Meski aku gak bisa. Ada ibu yang akan membantuku. Ada lama yang setia disini nemenin aku dan bantuin aku juga. Jadi jangan pernah berpikir kamu nyusahin aku. Oke?" Ujar Abraham yang membuat Aufa terenyuh.


Dia tak menyangka dipertemukan oleh pria sebaik Abraham. Dia tak menyangka memiliki suami yang benar-benar selalu menuruti keinginannya. Meski hal itu aneh, meski malam hari. Suaminya selalu siaga untuknya.


Ternyata Tuhan memberikan jalan dan mempertemukannya dengan sosok pria yang sangat mencintainya. Ternyata jalan cintanya tak pernah ia duga akan sebaik ini.

__ADS_1


Dibalik rasa benci di antara mereka. Pertemuan mereka yang benar-benar tak direncanakan. Ternyata ada kisah manis setelahnya.


"Kamu calon ayah yang baik. Kamu harus sehat terus, Sayang. Kamu harus sehat dan menjaga makan kamu demi aku dan anak kita."


"Tentu, Sayang. Aku bakalan menjaga diriku agar bisa bersama kalian," Ujar Abraham yang membuat Aufa mengangguk. "Ayo kita turun. Perutmu akan sakit jika tak segera makan."


Sepasang suami-istri itu berjalan bersama. Tangan mereka saling menggenggam dan menuju ke dapur. Ada beberapa orang yang terlihat bergerak kesana kemari sampai semuanya berhenti saat dirinya dan Abraham mendekat.


"Ada yang bisa kami bantu, Tuan?" Sapa para pelayan dengan sopan.


Jam jam seperti ini memang dapur akan dipakai oleh pelayan untuk menyiapkan makan malam.


"Bibi," Panggil Abraham pada seorang perempuan yang sudah paruh baya di antara pelayan itu.


"Apakah Bibi punya tepung untuk membuat kue dan mentega?"


"Tepung apa, Tuan?" Tanya Bibi dengan kening berkerut.


"Tepung terigu," Kata Abraham menjawab.


"Tuan ingin membuat apa?"

__ADS_1


"Churros, Bi. Apa ada?"


"Ada. Sebentar!" Bibi itu berjalan ke dekat rak lemari yang ada di atas. Dia membuka rak itu dan mengambil tepung yang bisa dibuat bahan dasar churros.


"Ini, Tuan. Apa ini untuk Nyonya?"


"Iya. Istriku sedang mengidam. Dia ingin makan churros," Kata Abraham dengan semangat.


"Semua bahan sepertinya ada, Tuan. Mentega ini," Ujar Bibi dengan jujur. "Apakah Nyonya ingin kami buatkan?"


Aufa spontan menggeleng. Wanita itu menatap Abraham yang juga tengah menatapnya.


"Aku ingin suamiku yang membuatnya," Ujar Aufa dengan jujur.


"Wah Nyonya mengidam Tuan memasak ya. Baiklah. Kami siapkan bahannya saja. Bagaimana? Apakah boleh?"


Aufa mengangguk. "Bibi juga boleh membantunya. Aufa yakin Abraham belum terlalu bisa membuatnya sendiri."


Abraham tertawa mendengar ucapan istrinya tapi dia mengakui hal itu. Apa yang dikatakan Aufa benar. Dia belum terlalu yakin membuat makanan itu sendiri karena seingat dia, Abraham pernah makan tapi itu dia membeli di sebuah cafe.


"Jadi Bibi saja boleh membantunya. Hanya Bibi tak ada yang lain!"

__ADS_1


"Baiklah, Istriku. Bibi akan membantuku dan kamu…" Jeda Abraham dengan menarik sebuah kursi dan membantu istrinya untuk duduk. "Kamu harus duduk. Jangan menungguku sambil berdiri disini."


~Bersambung


__ADS_2