
...Terkadang kita perlu mencoba menjalani hal baru untuk menemukan sesuatu yang tak pernah kita lakukan dan dapatkan....
...~JBlack...
...****************...
Suasana rumah besar itu tentu terasa mulai ramai. Apalagi dengan kedatangan si kembar dari sekolah membuat suasana semakin pecah dan begitu hangat.
Suara canda tawa dan juga cekikikan terdengar di sana yang membuat hati seorang wanita begitu bahagia. Ah dia belum pernah merasakan keluarga yang sedekat ini. Belum pernah merasakan keluarga yang berkumpul tanpa perlu diundang atau saya ada acara.
"Aufa, Sayang," Panggil seorang wanita memegang pundaknya yang membuat Aufa tersadar dari lamunannya.
Dia menoleh dan menemukan Mama Tari, Nenek dari suaminya itu tersenyum padanya.
"Iya, Nenek," Sahut Aufa dengan tersenyum manis.
"Kamu baik-baik aja kan, Nak?"
Satu hal lagi yang dia temui di keluarga suaminya. Mereka selalu menanyakan tentang kondisi ataupun keadaan meski tahu mereka baik-baik saja. Meski tahu kondisi mereka tak sakit atau apapun.
"Iya, Nek. Aufa baik-baik aja kok."
Mama Tari tersenyum. "Mau memasak bersama Nenek?"
Mata Aufa berbinar. Dia mengangguk lalu segera berjalan ke arah dapur dengan tangan yang dipegang oleh Mama Tari begitu hangat. Keduanya berjalan bersama dengan Aufa yang mampu merasakan bagaimana kebaikan seorang nenek di sampingnya.
"Nyonya sepuh," Sapa para pelayan saat merek sampai di dapur.
"Tinggalkan aku dan cucu menantuku berdua di dapur. Kamu ingin memasak bersama," Ujar Mama Tari dengan begitu sopan dan ramah.
"Baik, Nyonya." Akhirnya satu per satu pelayan keluar dari dapur.
Mereka meninggalkan Aufa bersama Mama Tari yang mulai mendekati kulkas dan mencari bahan makanan apa yang akan mereka masak.
Aufa memegang jarinya berulang kali. Dia merasa gugup sekaligus sadar diri. Dia sadar dirinya tak bisa memasak. Namun, ia nekad berada disini dan menerima ajakan nenek.
"Kenapa?" Tanya Mama Tari dengan lembut.
Aufa terlihat gugup. Namun, dia yakin apa yang akan dia katakan tak akan mendapatkan kata hinaan. Keluarga sangat suami sangat berbeda dengan keluarganya.
Berbeda jauh! Meski Aufa baru datang kesini dan bertemu mereka. Dari sikap dan semua tingkah laku sudah bisa dipastikan sangat amat berbeda.
"Aufa gak bisa memasak, Nek," Ujar Aufa memulai. "Selama ini Kak Abra yang ngajarin Aufa meski lebih tepatnya Aufa hanya membantu."
"Bukan gak bisa tapi belum bisa," Ujar Mama Tari yang membuat Aufa mendongak. "Kamu hanya perlu belajar, Sayang. Kamu bisa jika sudah terbiasa. Jangan mengatakan hal yang tak bisa, kalau kamu bisa memulai untuk belajar."
__ADS_1
"Aufa seperti istri yang tak baik, Nek," Lirih Aufa yang tentu didengar oleh Mama Tari.
"Kamu istri terbaik. Buktinya Abraham mau memilihmu dan melakukan hal nekad bukan?"
Aufa terdiam. Dia mendengar semua perkataan Mama Tari yang seakan ingin menyadarkan dirinya.
"Jangan merendahkan kamu, Nak. Kamu itu baik, kamu belum mencoba. Hanya butuh sedikit waktu dan usaha untuk belajar," Lanjut Mama Tari dengan pelan.
"Nenek," Lirih Aufa dengan mata berkaca-kaca.
"Ayo belajar dengan Nenek. Kali ini Nenek akan mengajarimu memasak capcai yang enak dan lezat," Ujar Mama Tari yang langsung diangguki kepala oleh Aufa.
Wanita itu membantu Mama Tari mengeluarkan semua bahan. Menaranya di atas meja pantry lalu mulai melihat apa saja yang akan dilakukan oleh nenek.
"Kamu potong wortel ini, Sayang. Potong seperti ini." Mama Tari memberikan contoh.
Dia memotong sayur sesuai arahan. Mengikuti semua perintah nenek tanpa membuat Aufa sadar jika ada seorang pria yang berdiri di dekat pintu dapur dan ruang makan sambil menyandar dan menatap ke arahnya.
Pria itu tersenyum. Bahkan saat melihat bagaimana kedekatan sang istri dan sang nenek yang sangat dia sayangi.
"Dia gak bakal kabur kok. Masih disitu bareng nenek," Sindir seorang pria yang mendekati Abraham.
Pria itu menarik senyumannya lalu membuat ekspresi wajah yang datar. Dia menatap ayahnya yang terlihat menaikkan salah satu alisnya begitu usil padanya.
"Ayah," Seru Abraham dengan mengalihkan tatapannya.
Abraham melipat tangannya di depan dada. Dia menaikkan salah satu alisnya juga dan terlihat bangga.
"Jadi kelakuan kita sama, Ayah. Sama-sama bucin tanpa lihat tempat!"
"Kalian ributin apa lagi?" Celetuk Mama Tari yang mendengar perdebatan antara anak dan ayah itu.
Aufa sendiri juga mendengar dan membuatnya menghentikan gerakan tangannya.
"Eh itu, Ma," Kata Bara menghentikan obrolannya dengan sang putra.
"Ayah bilang Abra kayak Ayah, Nenek. Bucin!" Sindir Abraham sambil melirik ayahnya.
"Ayah gak bilang gitu. Yang bilang itu kamu!"
"Sudah-sudah!" Sela Mama Tari mencoba melerai. "Kalian berdua itu sama. Sama-sama bucin tanpa tahu tempat!"
Abra dan Bara saling menatap. Keduanya memeletkan lidah seperti tak tahu umur. Namun, hal itu tentu dilihat langsung oleh Aufa. Dia bahkan merasa kedekatan anak dan ayah itu begitu dekat satu sama lain tanpa celah.
"Daripada kalian ribut. Bara bantu tanyakan pada Meera. Dimana dia taruh tepung maizena," Ujar Mama Tari pada menantunya.
__ADS_1
"Semangat, Yah. Semangat bertanya pada Ibu!" Celetuk Abra mengejek dan membuat Bara mendelik.
"Ayah yakin kamu lebih berat!" Cibir Bara sebelum pergi dan meninggalkan putranya yang mulai mendekati Mama Tari dan istrinya.
"Bisa, Sayang?" Tanya Abra yang tengah menyangga kepalanya dengan kedua tangan di atas meja pantry.
"Bisa. Nenek mengajariku banyak hal," Jawab Aufa dengan tangan mulai berpindah memotong sosis dan pentol.
"Dan kamu!" Kata Mama kepada cucunya. "Bantu istrimu mencuci sayur ini nanti. Oke?"
"Siap, Nenek. Serahkan semuanya pada cucu tampanmu ini!" Mama Tari geleng-geleng kepala.
Namun, dia percaya pada putranya itu. Percaya jika Abraham mampu mengatasi semuanya.
"Mana sayurnya, Sayang. Tolong ambilkan untukku. Aku akan mencucinya," Pinta Abra yang begitu lembutnya.
"Ini." Aufa menyerahkan sayur itu lalu melanjutkan memotongnya.
"Hati-hati. Jangan sampai terluka. Jika pisau itu menggores sedikit. Aku akak memberikannya hukuman!"
Aufa geleng-geleng kepala. Suaminya ini benar-benar pandai menghimbau.
"Udah sana cuci dulu. Nanti nenek marah loh!" Bisik Aufa dengan mata melotot.
***
Sedangkan di Indonesia.
Seorang pria datang kembali dengan paket lain. Sebuah kotak berwarna coklat di tangannya. Dia memanggil sang pemilik rumah dengan pelan dan sopan.
Bersamaan dengan itu. Mama Semi baru saja turun dan mendengar panggilan itu.
"Ya. Sebentar!"
Mama Semi mendekat. Dia mengerutkan keningnya melihat kurir datang lagi ke rumahnya.
"Paket," Kata kurir itu dengan sopan.
"Terima kasih," Kata Mama Semi sambil menerima kotak itu.
Dia lekas menatap kotak di tangannya. Mencoba menggerakkan agar mendengar isinya. Langkah kakinya perlahan bergerak menunjukkan ruang tamu.
Dia duduk dengan kotak itu di pangkuannya. Kepalanya menatap ke arah tangga. Putranya belum turun. Namun, dirinya sudah sangat penasaran.
Akhirnya Mama Semi perlahan mulai bergerak menyobek plastik yang melapisi kotak itu. Entah kenapa jantungnya juga berdegup kencang. Namun, saat tangannya hampir selesai. Selesai membuka bagian akhir. Tiba-tiba…
__ADS_1
"Mama!"
~Bersambung