Rahasia Menantu Billionaire

Rahasia Menantu Billionaire
Kegiatan Sempurna Ehh!


__ADS_3

...Aku mungkin belum bisa menjadi istri yang baik tapi aku mampu belajar sejak awal untuk menjadi istri terbaik untukmu....


...~Aufa Falisha...


...****************...


"Belanja apa saja tadi, Sayang?" Tanya Abraham yang baru saja masuk ke dalam kamar dengan keadaan masih acak-acakan.


Keadaan bengkel baru saja tutup. Abraham masih terlihat kotor karena dirinya memang belum mandi. Pria itu sengaja langsung menemui istrinya karena merasa rindu.


"Aku… " Aufa bingung hendak menjawab.


"Aku?" sahut Abraham yang menunggu jawaban istrinya itu.


"Aku hanya menemani Mela, Sayang. Aku sendiri hanya ikut," Kata Aufa dengan cepat.


Dia tak mungkin mengatakan yang sejujurnya. Jawaban itu membuat Abraham mendekat. Dia mengusap wajah istrinya sedikit dengan jarinya.


"Maafin aku belum bisa kasih uang yang banyak. Uang jajan kamu… "


"Ini sudah lebih dari cukup," Sela Aufa dengan cepat.


Wanita itu meraih tangan suaminya. Menggenggam dengan pelan. Apa yang dia katakan memang benar. Aufa benar-benar bersyukur atas apa yang telah diajarkan suaminya.


Hidupnya tak seheddon dulu. Ya, apalagi ketika cinta sudah memenuhi relung hati keduanya. Aufa lebih banyak menyimpan uangnya karena dia merasa uang itu di dapat dari kerja keras suaminya.


"Aku merasa… "


"Kamu adalah suami yang terbaik," Kata Aufa dengan cepat. "Kamu mampu mengajarkan aku arti hidup sederhana, mengurangi gaya hidupku dan merubahnya. Aku benar-benar berterima kasih sama kamu, Sayang."


Aufa mengatakan itu dengan tulus dan hal itu membuat hati Abraham tersentuh. Ya dia mulai merasa memiliki keberanian. Ya keberanian untuk membawa istrinya pada keluarganya.


"Daripada kamu mikirin hal yang tidak-tidak. Ayo kamu mandi. Handuknya udah di kamar mandi, Sayang. Air hangatnya siap," kata Aufa pada suaminya.


Kepala Abraham mengangguk. "Terima kasih, Sayang. Aku mandi dulu."


"Iya." Aufa mulai meninggalkan suaminya yang masuk ke dalam kamar mandi.


Dia berjalan ke arah lemari pakaian. Menyiapkan baju untuk suaminya. Kebiasaan baru yang sudah mulai menjadi hal biasa untuk Aufa.


Mengambilkan pakaian untuk suaminya kapanpun itu. Lalu meletakkan di atas ranjang. Setelah selesai dia segera keluar dari kamar dan berjalan ke arah dapur.

__ADS_1


Entah kenapa dirinya merasa haus saat ini. Mungkin efek karena dibalik pakaian yang dia pakai. Dibalik pakaian tebal yang menutupi tubuhnya, didalamnya ada pakaian serba tipis yang sudah dia siapkan.


Bayangan matanya tiba-tiba memutar ke kejadian beberapa waktu yang lalu. Saat itu dirinya menatap kegiatan suaminya dari balik jendela rumahnya.


Dia melihat bengkel mulai sepi. Beberapa pegawai membersihkan sekitar begitupun suaminya. Jam menunjukkan pukul 8 malam.


Ya hari ini bengkel tutup lebih malam dari biasanya. Hal itu membuat Aufa segera masuk ke dalam kamar. Dia membuka tas miliknya tadi yang ia bawa belanja dan mengeluarkan dua pakaian dinas yang baru ia pakai.


Aufa mengangkat baju itu membalikkan ke depan dan ke belakang untuk melihat bentuknya.


"Ini…" jeda Aufa dengan menelan ludahnya kasar.


Pakaian dinas malam ini benar-benar terbuka. Kainnya sangat menerawang dengan hanya ada tali di bagian punggungnya. Bisa dipastikan jika ia memakai ini, dinginnya udara disini akan menusuk badannya.


Aufa kembali mengambil baju dinasnya yang satu lagi. Dia mengangkatnya ke atas dan menempelkan pada dirinya.


"Bisa gila! Mela benar-benar ingin aku bersikap seperti ******!" Umpatnya dalam diam.


Kepalanya geleng-geleng mengingat tingkahnya tadi. Bibirnya tersenyum saat dia dibuat pusing memakai lingerie berwarna merah atau hitam. Sampai akhirnya ya pilihannya jatuh di warna merah.


Otak Aufa langsung bekerja. Dia tersenyum jahil dengan pikiran menerawang untuk menggoda suaminya. Toh mereka pasangan halal. Tak salah jika istri menggoda duluan. Bahkan dalam agama sangat dianjurkan dan diperbolehkan bila istri yang meminta terlebih dahulu.


"Kapan lagi cari pahala dengan cara menggoda. Gak sulit, gak perlu ngeluarin banyak tenaga. Nyenengin suami aja udah bikin pahala mengalir," kata Aufa lalu mulai melangkah mendekati cermin.


***


Aroma khas orang baru selesai mulai menguar di seluruh ruangan. Pintu kamar mandi tentu terbuka dan muncullah sosok pria tampan yang selalu membuatnya jatuh cinta. Pria tampan yang hanya memakai celana dan tak memakai atasan itu terlihat begitu menggoda.


Abraham membawa pakaian kotornya dari dalam kamar mandi. Dia bahkan mengabaikan tatapan istrinya kepadanya.


Tanpa Abraham tahu. Aufa begitu tergila-gila pada otot tubuh suaminya. Tubuh tegap dan seksi itu negitu membuat dirinya kagum. Ah ditambah wangi tubuh suaminya yang selalu membuatnya begitu candu dan tak pernah bosan.


Tak ada dalam kamus besar Aufa kata bosan. Dia selalu merasa nyaman dan tenang setiap kali melihat pahatan sempurna dalam diri Abraham. Dia selalu melihat dan senang pada seluruh bagian tubuh yang ada dalam diri Abraham.


"Sayang!" panggil Abraham sambil berjalan ke arah ranjang untuk mengambil pakaiannya.


Pria itu menatap ke seluruh ruangan kamarnya. Dia mencari sosok istrinya sampai suara deheman membuat pria itu menoleh.


Mata Abraham terbelalak tak percaya. Saat matanya memandang penampilan istrinya yang sangat amat seksi dan juga menggairahkan. Tubuh Aufa yang semakin hari semakin berisi dan juga beberapa bagian yang selalu membuatnya candu dan begitu nyaman.


Pria itu tentu mengalami kesusahan menelan ludah. Matanya terus memandang ke arah istrinya yang berdiri dengan posisi yang sangat amat membuatnya mengundang sesuatu dalam dirinya.

__ADS_1


Pasangan suami istri itu saling menatap satu dengan yang lain. Mereka berdua saling menatap mata mereka dan saling menyelami satu dengan yang lain. Keduanya sangat tahu jika mereka saling menginginkan.


Tanpa saling mengatakan apapun. Aufa dan Abraham langsung mendekat. Mereka saling mendekat lalu berciuman dengan gairah yang tak bisa dijabarkan.


Baik Aufa maupun Abraham sudah saling melampiaskan sesuatu yang meledak dalam dirinya. Mereka berdua saling menginginkan, saling nafsu dan juga saling ingin memuaskan.


Aufa menyentuh wajah Abraham dengan pelan. Dia juga memegang leher suaminya dan menekan agar ciuman itu semakin kuat dan menuntut. Bahkan Aufa mendorong tubuh Abraham dengan pelan sampai menyentuh dinding kamarnya.


Keduanya mulai hilang kendali. Saling bernafsu satu dengan yang lain. Saling mencium, menyesap dan menggigit. Perempuan itu juga mengunci pintu kamarnya karena takut jika ada seseorang yang tiba-tiba masuk ke kamar mereka.


Saliva keduanya sudah belepotan. Baik Abra dan Aufa mereka semakin menggila. Tak membiarkan bibir mereka terlepas hanya untuk mengisi pasokan oksigen. Hingga saat mereka sudah tak kuat, bibir mereka dilepas dengan tidak ikhlas.


Kabut gairah sudah memenuhi keduanya. Nafas mereka terengah-engah tak memberi jeda lagi, mereka kembali memagut merenggut indahnya bibir keduanya dengan tangan mulai menari ke sana kemari.


Saat Aufa merasakan sebuah genggaman kuat di area bukitnya. Perempuan itu melepaskan pagutannya. Dia menggigit bibirnya karena takut akan membuatnya mengeluarkan suara desah yang sangat indah.


"Keluarkan saja, Sayang! Keluarkan suaramu. Jangan pernah menahannya," bisik Abra lalu menyerukan kepalanya di leher sang istri.


Dia ingin membuat Aufa tenang dan nyaman. Ingin mendengar ******* sangat istri yang selama ini masih malu-malu untuk dikeluarkan.


Aufa mencengkram kepala Abra. Mengusap rambutnya saat bibir suaminya menyesap lehernya dan ia yakini meninggalkan bekas kemerahan di sana.


Hingga tak lama, tubuh mereka memutar. Tubuh Abraham menunduk. Dia mulai menjelajahi area bukit dengan diikuti bibir yang saling berlomba bak layaknya seorang bayi.


"Abra!" pekik Aufa pelan dengan menatap suaminya yang ganas.


Abraham melanjutkan aksinya. Pria itu menyejajarkan kepalanya dengan lembah basah dan wangi menggoda. Dia membuka lipatan itu hingga jarinya mulai menusuk dan membuat Aufa menjerit indah.


Abraham mulai menggerakkan jemari tersebut. Membiarkan istrinya memohon untuk dimasuki hingga sampai tubuh wanita itu menegang dan mengeluarkan cairan kenikmatan miliknya.


"Apa kamu sudah siap, Sayang?" bisik Abra yang sudah beranjak berdiri.


Aufa menatap sayu sang suami. Apalagi ketika Abraham mulai memegang salah satu kaki Aufa dan meletakkannya di pinggang. Kemudian dengan pasti, pria tampan itu mulai memasukkan senjata miliknya hingga masuk dengan sempurna di lembah sempit yang sangat membuatnya candu.


Mata Abra terpejam saat senjata miliknya diremas dengan kuat. Hingga akhirnya pria itu tak dapat menahan lagi. Abraham mulai menggerakkan tubuh miliknya hingga membuat mereka saling menatap penuh cinta.


Peluh mulai membasahi tubuh keduanya. Bahkan Aufa sampai melingkarkan tangannya di leher sang suami lalu memagut bibir itu lagi.


Mereka berpacu semakin cepat. Mencoba mencapai gols indah di bagian puncak akhir. Bibir mereka saling mengeluh diiringi suara teriakan kenikmatan saat senjata dan lembah tersebut mulai menyemburkan cairan yang akan menghasilkan bibit unggul di antara keduanya.


Kedua bibir mereka saling tersenyum. Aufa dan Abra saling menatap dengan membiarkan bagian bawah mereka masih menyatu.

__ADS_1


"Terima kasih, Sayang. Aku akan terus melakukannya agar kamu percaya dengan perkataanku. Segeralah tumbuh di dalam sini agar Mamamu tahu bagaimana Papa sangat mencintainya."


~Bersambung


__ADS_2