
...Anugerah yang tak pernah dibayangkan akan datang secepat ini ternyata Allah hadirkan disaat sebuah masalah juga datang menerpa. Mungkin dibalik musibah ada hikmah yang indah dan ini adalah hal yang sangat membahagiakan dibalik semua yang terjadi di antara kita....
...~Aufa Falisha...
...****************...
"Ayo kita periksa, Sayang! Kita buat janji dengan Dokter Kandungan," ajak Abraham dengan bahagia.
Aufa mengangguk setuju. Kehamilannya yang pertama membuat keduanya sangat bahagia dan antusias. Bahkan Abraham sendiri sebagai calon ayah untuk pertama kalinya ingin menanyakan banyak hal yang harus dia lakukan untuk ketentraman miliknya.
Dokter pribadi mereka juga mengatakan jika keduanya ingin melihat dan ingin tahu sebesar apa calon anak mereka. Keduanya datang ke dokter kandungan untuk diperiksa menyeluruh.
Akhirnya Aufa dan Abraham segera meluncur ke rumah sakit dimana pria itu sudah mendaftarkan istrinya. Hari ini Abraham benar-benar ingin fokus dengan kehamilan istrinya ini.
Bagaimanapun yang utama untuknya adalah istri, anak dan keluarganya. Ya, dia tak mau terjadi sesuatu pada istrinya. Apalagi mengingat ini adalah kehamilan pertama mereka.
Dia ingin segera mengetahui bagaimana bentuk malaikat kecilnya. Maklum, anak pertama dengan tanpa pengalaman membuat keduanya sangat amat antusias di hari pertama untuk pertama kalinya mengunjungi dokter kandungan.
"Aku udah gak sabar, Sayang. Aku pengen tahu sebesar apa Abraham kecil disini," kata Aufa yang masih merasa tak percaya dan mengusap perutnya yang rata.
Abraham yang duduk di samping istrinya lekas menoleh. Saat ini keduanya memang sedang berada di dalam mobil. Dengan Abraham mengemudi kendaraannya seperti siput.
"Percayalah! Abraham kecil mungkin sebesar biji kacang," bisiknya dengan tangan mengusap perut istrinya yang masih rata.
Pria itu benar-benar melihat kebahagiaan di mata Aufa. Ya wanita yang dulu dia nikahi karena sebuah alasan kini terlihat begitu bahagia dengan hadirnya buah cinta mereka. Cinta kasih yang menyatu dalam ikatan halal benar-benar ada dan nyata dalam rahim istrinya.
"Kalau kamu nyetirnya pelan gini. Kapan kita sampai?" Seru Aufa sambil menatap jalanan luar yang begitu banyak lalu lalang kendaraan.
"Aku tak mau anak kita kenapa-napa, Sayang."
"Tapi gak harus pelan banget, Sayang. Kalau kayak gini, kita bisa telat!"
Ah percayalah. Calon papa baru ini hanya sedang takut. Ah lebih tepatnya belum ada sesuatu yang bisa dipelajari. Maklum saja, anak pertama pasti selalu membuat calon ayah dan ibu itu sangat sensitif.
"Aku akan menambah laju mobilnya. Kalau perut kamu sakit. Bilang sama aku, oke?"
Aufa terlihat menghela nafas pelan. Namun, dia menatap wajah suaminya dari samping. Dirinya tahu suaminya sensitif karena kehamilannya.
Dia juga tahu apa yang dilakukan suaminya untuk dirinya dan sang buah hati.
"Oke, Sayang. Kalau aku merasa tak nyaman. Aku akan bilang!"
Akhirnya Abraham menambah laju mobilnya. Dia mengemudi dengan kendaraan yang lumayan cepat sampai akhirnya keduanya sampai di rumah sakit.
"Pelan-pelan, Sayang," Kata Abraham sambil membukakan pintu mobil.
Ibu hamil itu tersenyum. Entah kenapa melihat perhatian dan sikap protektif suaminya yang bertambah malah membuat Aufa merasa sangat amat dicintai.
Membuat ibu hamil itu merasa sangat diprioritaskan, disayangi dan diperhatikan. Langkah kaki keduanya berjalan beriringan. Dengan tangan mereka saling menggenggam satu dengan yang lain.
Senyuman tak lepas dari bibir mereka. Bahkan sesekali tatapan mereka saling bertemu pandang.
"Mrs. Abraham!" panggil perawat yang berjaga di depan.
__ADS_1
Abraham dan Aufa segera beranjak berdiri. Keduanya memasuki ruangan dokter dengan jantung yang berdegup kencang.
"Silahkan duduk," ujar wanita berpakaian sneli putih dengan ramah. "Ada keluhan?"
Perlahan Aufa mulai menceritakan apa yang ia alami. Dari dirinya yang memang tak merasakan apapun sebelumnya sampai pingsan.
"Apa saya benar-benar hamil, Dok?" tanya Aufa setelah menceritakan semua yang dia alami.
Dokter itu tersenyum.
"Pakai alat tes kehamilan ini. Lalu bawa kemari," Kata dokter itu dengan bahasa Inggris yang sangat amat terlihat begitu lihai.
Aufa tentu segera ke kamar mandi. Dia mengetes kehamilannya dengan alat hamil. Setelah itu dia membawa alat tes hamil itu lagi dan memberikannya pada dokter.
"Dua garis," Ujar dokter sambil mengarahkan ke arah Abraham dan Aufa.
Tanpa kata Dokter segera meminta Aufa berbaring untuk segera diperiksa. Aufa tentu masih memiliki perasaan tak yakin.
Dia berfikir dokter keluarga yang memeriksanya tak memakai alat apapun. Maka dari itu dia masih ragu ketika diceritakan oleh suaminya.
Istri Abraham itu merasa gugup saat sebuah gel dingin diberikan di atas perutnya. Lalu kemudian sebuah alat diletakkan disana dan digerakkan dengan pelan.
Layar yang mulanya hitam mulai menyala dan menampilkan gambar yang kurang jelas memang. Kemudian Dokter meminta Abraham dan Aufa menatap layar itu dengan seksama.
"Selamat, Bu. Anda benar-benar hamil," kata dokter itu dengan senyuman lebar. "Dan titik itu adalah calon anak kalian."
Mata Abraham kembali berkaca-kaca. Dia menatap layar itu dengan hati yang bergetar. Jiwanya benar-benar tak bisa sebahagia ini saat melihat wujud anaknya yang masih berupa titik kecil.
Ahh entah kenapa perasaan calon ayah ini sangat sensitif jika menyangkut anaknya. Dia merasa bergetar saat melihat layar itu.
"Iya, Tuan. Itu benar-benar anak Anda," kata Dokter lalu membersihkan gel itu dari perut Aufa.
"Apa anak kami sehat, Dok?" tanya Aufa dengan serius.
"Sehat," sahut Dokter lalu memberikan hasil usg itu pada pasangan suami istri di depannya ini. "Kandungan Anda masih memasuki usia empat minggu. Saya harap jangan terlalu lelah dan makan-makanan yang sehat."
Abraham benar-benar mendengar semua perkataan dokter. Meski memakai bahasa Inggris. Abraham sudah pandai dan bisa karena memang dia sudah lama tinggal di negara ini.
Abraham dan Aufa mengangguk. Mereka pasti akan menuruti semua perkataan Dokter.
"Apa ada lagi yang ingin ditanyakan?" tanya Dokter itu dengan ramah.
Dia sangat tahu jika pasangan di depannya ini adalah calon orang tua baru yang menunggu kelahiran anak pertama mereka.
"Apa selama istri saya hamil. Saya masih boleh mengunjungi istri saya, Dok?" tanya Abraham tanpa malu.
"Boleh, Pak. Yang penting harus hati-hati dan penuh kelembutan," ujar Dokter lalu mulai menjelaskan hubungan badan yang baik saat hamil.
Sejak penjelasan itu dijelaskan dengan rinci. Pipi Aufa bersemu merah. Dia menatap tak percaya suaminya yang sangat antusias menanyakan hal yang sangat pribadi.
"Apa ada batasan saya boleh mengunjunginya, Dok? Sehari tiga kali begitu?"
"Abra!" cegah Aufa dengan pipi semakin memerah.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Bu. Hal seperti ini wajar ditanyakan oleh calon orang tua baru. Apalagi pihak ayah harus tahu karena itu mempengaruhi keselamatan anaknya."
"Nah itu, Sayang. Dengarkan!" kata Abraham menatap istrinya dengan menaikkan salah satu alisnya.
Aufa mencubit paha suaminya. Dia benar-benar kesal melihat suaminya yang tak malu sedikitpun.
"Ini resep yang harus Anda tebus," kata dokter itu menyerahkan secarik kertas pada Abraham.
"Terima kasih ya, Dok," ujar Abra lalu menyalami dokter wanita di depannya ini.
Keduanya segera keluar dari ruang rawat dan menuju apotik yang ada disana. Mereka langsung menebus obat yang harus dikonsumsi Aufa selama hamil.
"Apa kamu gak malu tanya hal pribadi seperti tadi?" tanya Aufa berbisik.
Abra menoleh. Dia menaikkan salah satu alisnya sambil menatap istrinya itu.
"Memangnya kenapa? Aku bertanya hal itu juga demi kebaikan kamu dan anak kita," ujar Abra dengan jujur.
Dia mengusap kepala istrinya dengan lembut. Tatapannya yang penuh cinta terus ia berikan pada Aufa.
"Aku tak akan malu jika itu demi kamu dan anak kita. Keselamatan kalian berdua lebih berarti daripada keinginanku, Sayang."
Aufa menatap suaminya penuh haru. Dia tak menyangka Abraham sepengertian dan sebijak ini kepadanya. Abraham sangat protektif pada mereka dengan sebesar ini.
Sedangkan Abra, pria itu memang sangat berhati-hati. Dia tak mau terjadi sesuatu pada anak mereka. Pria itu tak mau hal yang terjadi karena kecerobohan keduanya.
Bagaimanapun sekarang mereka tak sendiri. Ada si kecil yang akan ada di antara mereka.
"Makasih, Sayang. Kamu suami dan calon ayah terbaik untukku dan calon anak kita."
Sepulangnya dari rumah sakit. Abra tentu segera membawa istrinya pulang. Di rumah dia disambut oleh keluarga besar yang sudah ada disana.
"Apa kata dokter, Nak? Cucu Ibu sehat, 'kan?" Tanya Almeera yang bertanya lebih dulu.
Aufa tersenyum. Dia menganggukkan kepalanya sambil membawa ibunya duduk di sofa.
"Dia sehat kok, Bu. Dia masih kecil banget."
Sedangkan Abra. Pria itu berjalan mendekati papanya. Bara tentu memeluk putra pertamanya ini dengan penuh sayang.
"Akhirnya, selamat yah!" kata Bara sambil mengusap punggung Abra
"Makasih banyak, Yah. Abra juga tak percaya bisa dikasih kepercayaan secepat ini," Kata Abraham dengan pelukan yang lepas.
Bara tertawa. Dia mengacungkan jempolnya pada sang putra dengan bangga.
"Itu tandanya bagus dong, Nak. Kamu tokcer kayak Ayah dulu. Sampai bisa bikin Ibu kamu hamil empat kali!" Kata Bara yang membuat Abraham geleng-geleng kepala.
"Inget umur, Yah."
"Ayah inget umur tapi kamu putra Ayah. Jadi kamu pasti sama kayak Ayah. Selalu tokcer!"
"Astaga!"
__ADS_1
~Bersambung