Rahasia Menantu Billionaire

Rahasia Menantu Billionaire
Langkah Pertama Abraham


__ADS_3

...Percayalah ketika semua yang kamu sembunyikan mulai kau buka lebar dan mengatakannya dengan jujur. Maka hidupmu akan mulai tenang dan nyaman....


...~Almeera Azzelia Shanum...


...***...


Almeera dan Bara benar-benar terkejut. Bibir keduanya terbuka dengan mata membelalak tak percaya. Apalagi ketika Aufa menceritakan semuanya dan dilanjut oleh Abraham. Semua kehidupan pria itu benar-benar dikatakan dengan jujur.


"Jadi selama ini. Kamu ada di… " Kata Almeera dengan tak percaya.


Abraham tersenyum. Kepala pria itu mengangguk dan menggenggam tangan ibunya.


"Indonesia, Bu. Ya, Abang ada disana."


"Kenapa Ayah dan Ibu tak bisa menebaknya. Kamu pergi dengan sejuta rahasia yang disembunyikan dari Ibu dan Ayah," Ujar Bara dengan pandangan yang masih sangat amat terkejut dengan semua kejujuran putranya.


"Maafkan Abra, Ayah. Abra hanya ingin mandiri saat itu dan yah. Indonesia bukan negara asing untukku. Jadi aku memilih pergi kesana untuk menemukan jati diriku," Ujar Abraham dengan suaranya yang sangat amat yakin.


"Lalu Bia… "


"Iya, Bu," Sela Abraham dengan pelan. "Jangan marah padanya. Aku yang memintanya menyembunyikan semuanya. Ini tanggung jawabku. Jika Ayah dan Ibu ingin marah. Maka marahlah padaku. Jangan pada Bia!"


Abraham tak mau membuat adiknya menampung segala hal yang dia lakukan. Membuat Bia datang ke Indonesia. Membuat gadis itu berada dalam masalahnya sudah sangat amat membuatnya begitu bergantung pada Bia.


Semua hal yang dilakukan oleh Bia sangat amat berjasa untuknya. Dia begitu takjub akan tekad dan kejujuran Bia. Ketika gadis itu berjanji untuk menutupi semua rahasia ini. Gadis itu benar-benar memegang ucapannya dengan tepat.


"Ibu tak akan memarahi adikmu. Kamu dan Bia, itu sama. Kalian akan mengambil keputusan sesuai hati nurani kalian. Kalian pasti sudah memikirkan semuanya," Ujar Almeera dengan bijak.


Abraham tersenyum. Dia mencium punggung tangan ibunya dengan bahagia.


"Terima kasih sudah memaafkan Abang, Bu. Terima kasih sudah menerima Aufa sebagai istriku," Kata Abraham dengan begitu tulusnya.


Almeera mengangguk. Dia mengusap kepala putranya dengan sayang.


"Mungkin Ibu sedikit kecewa karena tak bisa melihatmu mengatakan kata akad dan menikah. Ibu juga tak bisa mengantar kalian sampai ke ikatan halal tapi Ibu berdoa semoga pernikahan kalian ini, bisa sampai nanti dan sampai Tuhan sendiri yang memisahkan," Ujar Almeera dengan penuh harapan dan doa.


"Aamiin," Jawab Abraham dan Aufa bersamaan.

__ADS_1


"Oh iya, Nak. Sebentar," Kata Bara terdiam cukup lama.


Semua orang menatap ke arah Bara. Mereka terlihat penasaran tentang apa yang akan ditanyakan oleh Bara.


"Luka, Abang. Dapat darimana luka ini?" Tanya Bara yang baru ingat akan sesuatu.


"Iya. Untung Ayah ingat. Luka di dahi ini. Abang dapat darimana?" Lanjut Almeera yang mulai sadar akan pertanyaannya tadi.


Terlihat Abraham ragu mengatakannya. Dia menatap ke arah istrinya yang juga sedang menatapnya. Aufa mengangguk. Perempuan dengan wajah cantik itu meminta suaminya untuk jujur.


Apa yang harus disembunyikan dari semuanya. Meski jujur Aufa sendiri terkejut dengan identitas suaminya. Dia tak percaya jika selama ini, selama pernikahan mereka. Abraham berhasil menutupi jati dirinya.


Pria kaya dengan sejuta harta yang banyak. Ternyata lebih memilih hidup sendirian, memulai semuanya dari bawah dan mencari jati dirinya. Pria yang adalah suaminya.


Pria yang cinta padanya ternyata bukan pria biasa. Pria dengan sejuta tekad dan tanggal jawab yang membuat Aufa semakin bangga pada Abraham.


"Luka ini karena bengkelku kebakaran, Bu," Cicit Abraham dengan pelan.


"Apa!" Almeera terkejut.


Dia menatap putranya dengan mata sedikit melotot.


Almeera ketakutan. "Buka jaket, Abang. Ibu ingin melihat luka mana lagi yang Abang dapat?"


Akhirnya Abraham membuka jaket yang sejak tadi dia pakai. Dia tahu ibunya sedang khawatir padanya. Abraham sadar ibunya sedang ketakutan dengan kondisinya. Ini bukan hal yang pertama.


Almeera selalu menjadi garda depan ketika putra putrinya tak baik-baik saja. Almeera akan selalu menjadi orang pertama yang khawatir dan peduli pada mereka.


"Astagfirullah, Bang. Ini udah besar banget. Kenapa Abang… "


"Ibu," Sela Abraham dengan pelan. "Abang baik-baik saja. Abang sehat, Bu. Tapi masalah Abang yang utama bukan ini," Kata Abraham pada akhirnya.


"Maksudnya, Bang?" Tanya Bara dengan penasaran.


Terlihat Abang menarik nafasnya begitu dalam. Dia ragu tapi dirinya sudah bertekad bulat. Dia tak bisa mundur lagi. Demi dirinya, keluarganya, membantu mertuanya dan menyelamatkan semuanya.


"Abang ingin meminta bantuan, Ayah," Kata Abraham pelan dengan pandangan penuh keyakinan ke arah ayahnya.

__ADS_1


***


Akhirnya tepat dua jam setelah pembicaraan mereka. Almeera juga mulai tidur dengan Aufa yang ada di sampingnya.


Terlihat sepasang anak dan ayah itu duduk bersebelahan dengan laptop ada di depan keduanya. Pembicaraan mereka benar-benar terlihat serius dan itu mampu membuat perhatian Aufa teralihkan.


"Lalu apa yang ingin Abang lakukan?"


"Tanam saham disana, Ayah. Bantu Papa mertuaku untuk mempertahankan perusahaan itu," Kata Abraham dengan yakin.


Bara menatap putranya dengan lekat. Dia tahu setiap tindakan putra pertamanya ini, sudah dipikirkan dengan matang.


"Kamu yakin?" Tanya Bara sekali lagi.


Abraham mengangguk. "Papa bisa memberikan apa yang seharusnya menjadi milikku untuk mempertahankan perusahaan itu. Abang benar-benar ingin membantu papa mertua Abang."


"Oke. Papa akan membantu!"


Bara terlihat meraih ponsel yang ia letakkan dia atas meja. Dirinya mengotak atik sejenak lalu segera menempelkan di telinganya.


"Assalamu'alaikum, Kak Jo," Sapa Bara dengan pelan. "Bara ingin minta bantuan."


Perlahan Bara beranjak berdiri. Abraham hanya menatap gerak gerik ayahnya. Jujur dia tak tahu pembicaraan apalagi yang terkait antara kakak dari ibunya itu dan ayahnya. Namun, pria itu percaya jika ayahnya akan melakukan yang terbaik.


"Ya. Lakukan sesuai dengan permintaan Abraham, Kak. Terima kasih sudah mau direpotkan dan berikan semua beritanya nanti kepadaku," Kata Bara final sebelum panggilan itu berakhir.


Bara berbalik. Dia menatap putranya yang terlihat menunggu jawabannya.


"Sudah. Om kamu yang akan mengatasi semuanya. Dia yang akan menjadi penggantimu dan kamu!" Kata Bara menunjuk putranya. "Istirahat. Jangan pikirkan masalah ini. Semuanya sudah teratasi dengan baik."


Abraham terlihat melengkungkan senyumannya ke atas. Dia percaya dengan ucapan ayahnya. Dirinya mengalihkan tatapannya menatap ke arah istrinya yang ternyata tengah menatapnya.


Abraham bisa melihat mata Aufa berkaca-kaca. Gadis itu mengusap air mata itu perlahan dan dengan pelan bibirnya bergerak.


"Terima kasih," Ucap Aufa tanpa suara tapi bentuk bibirnya sangat amat jelas terbaca oleh Abraham.


Pria itu mengangguk. Namun, perlahan tangan Abang membentuk sebuah usapan di matanya agar istrinya menghentikan tangisannya.

__ADS_1


"Jangan menangis. Semuanya sudah aman," Kata Abraham membalas tanpa suara.


~Bersambung


__ADS_2