Rahasia Menantu Billionaire

Rahasia Menantu Billionaire
Fort VS Abraham


__ADS_3

...Ternyata menjalani sesuatu dengan ikhlas, bahagia dan tanpa tekanan adalah kebahagiaan yang paling membahagiakan dalam hidup. Tanpa mengusik kebahagiaan orang lain dan kebahagiaan siapapun....


...~Abraham Barraq Al-Kahfi...


...****************...


Wajah tampan dengan begitu manis itu menyangga kepalanya dengan kedua tangan. Matanya menatap sosok istri yang dengan lahap memakan churros buatannya.


Ya, churros yang ia buat penuh perjuangan itu akhirnya jadi. Ditambah saus coklat yang sangat amat terlihat begitu enak itu jadi sesuai dengan apa yang dia harapkan.


Memang sulit bahkan dia dibantu oleh pelayan terbaiknya. Namun, lebih banyak churros itu dibuat oleh tangannya sendiri. Ya, Abraham hanya meminta arahan tapi yang bergerak dan melakukan semuanya adalah kedua tangannya sendiri.


"Kamu gak mau cobain makanan buatan kamu sendiri, Sayang?" Tanya Aufa dengan beberapa saus coklat mengotori bibirnya


Abraham tersenyum. Dia mengambil tisu lalu segera mengusap ujung bibir istrinya yang berantakan.


"Apa seenak itu?" Tanya Abraham dengan penasaran.


Kepala Aufa mengangguk.


"Enak banget. Ayo akhh!" Kata Aufa sambil meminta suaminya membuka mulut.


Abraham menurut. Dia menerima suapan itu lalu mulai mengunyah cemilan buatan tangannya sendiri. Matanya berbinar tak percaya. Ternyata buatan tangannya seenak itu. Apalagi ini adalah makanan pertama yang dia buat sendiri.


Meski dengan saran dan petunjuk dari pelayannya tapi Abraham tetap bangga dan mengakui itu hasil buatannya sendiri.


"Enak kan? Ayo buka lagi!" Akhirnya makanan itu benar-benar dinikmati oleh keduanya.


Aufa menyuapi dirinya sendiri dan suaminya secara bergantian. Keduanya memakan makanan itu sampi habis. Sore menjelang malam untuk pasangan suami istri ini terasa lebih indah.


Kebersamaan dan kedekatan keduanya tentu semakin terjalin semenjak adanya buah hati di antara keduanya. Kehamilan Aufa dan segala kerewelan Abraham benar-benar sangat membuat keduanya semakin menikmati masa masa ini.


Ya Abraham memang masih merasa mual dan muntah. Namun, ada beberapa hal yang terkadang membuat Abraham mampu melewati semuanya demi istrinya.


Namun, entah kenapa churros yang ia masak ini masuk ke dalam mulutnya. Biasanya dia tak mampu memakan makanan apapun sampai lemas. Tapi sepertinya keinginan sang buah hati sangat amat memiliki ikatan batin yang kuat dengannya.


"Setelah ini kamu istirahat ya, Sayang."


"Terus kamu?" tanya Aufa yang sepertinya tak rela berjauhan dengan Abraham.

__ADS_1


"Aku mau lihat Fort sebentar ya. Sama bahas pekerjaan."


Akhirnya Aufa menurut. Dia lekas mencuci bekas piring itu karena menurutnya suaminya telah mau menuruti segala hal yang dia inginkan. Tanpa menolak, bahkan meski baunya membuat Abraham mual muntah. Dia tak pernah menuntut apapun. Pria itu bahkan tak pernah marah dan menolak permintaannya sedikitpun.


"Hati-hati naik ke kamar yah. Aku tinggal sebentar!"


Abraham lekas berjalan menuju kamar tamu. Dia mengetuk kamar itu lalu mendorong pintu saat mendengar suara sahabatnya yang berteriak dari dalam.


"Kenapa gak tidur?" Tanya Abraham lalu menarik kursi di dekat ranjang dan duduk disana.


"Aku gak bisa tidur. Aku lagi kasmaran!" Jawab Fort dengan kata berbinar.


Abraham memutar matanya malas. Sahabatnya ini benar-benar sudah jatuh pada pesona sahabat istrinya itu.


"Apa yang sudah kalian lakukan?"


"Lo gak bakal mikir kalau kita udah akur. Kita kenalan lagi seperti baru kenal. Terus dia mau temenan sama gue!" Kata Fort dengan antusias.


"Gitu doang?" Tanya Abraham meledek. "Gue juga bisa kalau gitu doang!"


Fort melempar bantalnya ke arah Abraham yang langsung ditangkap oleh pria itu.


Abraham tertawa. Dia benar-benar baru melihat sahabatnya se antusias ini kenal dengan wanita. Ingin berkenalan dan dekat dengannya.


Fort untuk pertama kali sedekat itu, se berjuang itu demi wanita. Dia yang biasanya diperjuangkan oleh wanita kini berjuang demi seorang wanita. Hal gila yang baru kali ini Abraham lihat dari sahabatnya.


"Hahaha mangkanya. Hal kek gitu mau lo sombongin? Gak laku sama gue!"


Fort memutar matanya malas. Dia merajuk dan mengalihkan tatapannya ke arah lain.


"Pergi lo! Gak seneng apa lihat sahabat lagi bahagia!" Sindir Fort dengan suaranya yang ketus.


"Lo yakin mau ngusir gue?"


"Yakin!"


"Ya padahal gue mau kasih sesuatu sama lo tau. Sebagai hadiah sebelum lo kerja sama gue urus kantor!" Kata Abraham dengan suaranya yang memancing. "Yaudah kalau gak mau. Gue keluar dulu!"


"Tunggu!" Pekik Fort dengan cepat.

__ADS_1


Abraham tersenyum dalam diam. Dia tak berbalik dan hanya berdiri membelakangi sahabatnya itu.


"Gue mau. Gue mau. Apa rencana lo?


" Katanya gak mau? Katanya ngusir gue?" Sindir Abraham dengan pelan.


"Gue ralat ucapan gue. Gue minta maaf. Plis kasih tau gue, Abra!" Seru Fort memohon.


Abraham akhirnya duduk lagi. Dia menatap ke arah sahabatnya itu yang menunggu ucapan dan rencananya. Bibirnya menyunggingkan senyuman tipis.


Abraham benar-benar menyiapkan rencana ini agar sahabatnya senang dan menjadi jembatan darinya agar hubungan Fort dan sahabat istrinya semakin dekat. Abraham hanya mampu mendukung dan memfasilitasi. Untuk urusan hati, biarlah keduanya yang menentukan.


"Sini! Gue kasih tau rencana gue!"


***


Suasana yang sangat mendukung dengan langit cerah tanpa mendung tentu membuat jalanan lumayan padat. Apalagi waktu sore hari adalah momen yang pas untuk para muda mudi jalan-jalan. Namun, meski langit terang, cuaca yang dingin sangat amat terasa saat ini.


Tentu keadaan jalanan ramai dengan lalu lalang banyaknya kendaraan roda empat sampai roda dua. Namun, hal itu tak membuat suasana di dalam mobil yang begitu ramai dengan celotehan antara sepasang sahabat itu terganggu.


Keduanya sedang duduk tenang di kursi tengah dengan tawa bahagia di antara mereka. Obrolan yang selalu mengarah kemanapun itu didengar oleh sosok pria yang fokus dengan kemudinya.


Tawa bahagia tentu dia dapatkan dan dia lihat dari wajah istrinya. Tawa yang lepas dan tulus itu begitu amat lepas dari bibir istrinya. Mereka benar-benar akan melakukan perjalanan sore ini.


Mereka benar-benar seperti anak muda yang kembali merasakan masa muda. Kembali merasakan bagaimana jatuh cinta dan berusaha mendapatkannya. Bagaimana caranya keluar dengan sahabat dan menghabiskan waktunya bersama dengan mereka.


Bahagia, puas, senang tak bisa dijabarkan satu per satu. Abraham, Aufa dan Mela. Saat ini benar-benar sedang ada dijalan. Mereka akan menghabiskan waktu bersama dengan bermain bersama sekarang.


Tentu tim paling heboh adalah tim sahabat. Aufa dan Mela yang duduk di kursi tengah tentu saling menaikkan salah satu alisnya. Keduanya saling bertos ria saat mereka bercerita banyak hal.


Wanita ini benar-benar seperti kembali saat masa kuliah dulu. Masa dimana mereka selalu bersama berdua. Bermain bersama, membolos ataupun menonton bersama dan tak pulang ke rumah.


"Kak Abra, berhenti!" Kata Mela sambil memajukan tubuhnya.


Abraham tentu menoleh. Dia menatap ke arah sahabat istrinya itu.


"Ada apa, Mel?" Tanya Abraham pada sahabat istrinya.


~Bersambung

__ADS_1


__ADS_2