Rahasia Menantu Billionaire

Rahasia Menantu Billionaire
Siuman


__ADS_3

Masa lalu memang akan menjadi sebuah pelajaran untuk masa depan. Namun, terkadang sakit di masa lalu akan membekas dan menghancurkan masa depan yang indah.


~JBlack


***


Entah sudah berapa lama dia tak sadar. Entah sudah berapa lama matanya terpejam. Samar-samar telinganya mulai mendengar suara perdebatan. Suara dua orang manusia yang sangat dia hafal siapa pemiliknya.


Suara yang familiar untuk dirinya. Suara pria dan perempuan yang merupakan kakak dan kakak iparnya itu.


"Kamu harus bercerita pada Ibu dan Ayah, Sayang. Mereka… "


"Jika aku menceritakan semuanya. Aku yakin Ibu dan Ayah akan terluka," Kata Abraham dengan kekeh. "Aku yakin mereka akan menyesal karena menitipkan Bia padaku."


Ada nada amarah dan kecewa di suara Abraham. Ada nada kemarahan disana. Bia tahu apa yang kakaknya rasakan. Namun, entah kenapa untuk kali ini dia terusik oleh kata-kata kakak iparnya itu.


"Tapi, Sayang. Ini bukan masalah kecil. Ini tentang Bia. Ini…"


"Jangan ceritakan apapun pada Ayah dan Ibu," Sela Bia langsung dengan menoleh ke arah kakak dan kakak iparnya.


Tentu jawaban dan suara Bia membuat Abraham dan Aufa terkejut. Pasangan suami istri menoleh dan melihat Bia sudah membuka matanya.

__ADS_1


"Bi," Panggil Aufa sambil beranjak berdiri.


Sedangkan Abraham sudah berjalan lebih dulu. Memegang tangan adiknya dengan air mata yang mulai menggenang.


"Mana yang sakit?" Tanya Abraham dengan pelan.


Bia terlihat pucat pasi. Bahkan senyuman yang biasanya terpancar di bibirnya kini meredup. Binar mata yang biasa dia perlihatkan begitu teduh kini telah tiada.


"Iya, Bi. Bilang sama Kak Aufa. Mana yang sakit," Sahut Aufa dengan berjalan ke sisi ranjang yang lain.


Bia hanya terdiam. Namun, matanya menatap ke arah kakak iparnya yang terlihat berjalan susah payah. Bia bukannya menjawab. Dia memilih mengangkat tangannya yang bebas dari infus. Mengusap perut kakak iparnya dengan pelan lalu sedikit mendongak.


"Kakak pulang ke rumah yah. Istirahat!" Kata Bia dengan wajah tanpa ekspresi.


"Bia baik-baik aja," Kata Bia dengan kedua mata yang sayu.


Bukannya tenang. Abraham malah takut. Dia mulai takut sesuatu terjadi pada adiknya.


"Jangan bohongi Abang, Bi!" Seru Abraham dengan tangan terkepal. "Jangan simpan sendirian apa yang kamu rasain. Kamu punya Abang dan Kak Aufa. Kamu bisa ceritain semua yang kamu rasain."


"Jangan anggap kamu sendiri. Ada Abang sama Kak Aufa yang siap dengerin kamu!"

__ADS_1


Abraham benar-benar tahu jika adiknya berada di titik yang tak baik. Tak ada lagi senyuman manis Bia. Tak ada lagi binar bahagia di kedua matanya.


Bia berubah menjadi sosok dingin tanpa senyuman. Matanya bahkan seakan menunjukkan bahwa dia tak bergairah untuk hidup.


"Bia pusing. Bia mau tidur," Kata Bia sambil memejamkan matanya.


Abraham tak mau seperti ini. Abraham tak mau adiknya berdiam diri. Saat Abra hendak bertanya. Aufa langsung mengulurkan tangannya menahan sang suami.


"Sayang… "


Kepala Aufa menggeleng. Dia meminta suaminya menahan apa yang hendak dikatakan oleh suaminya itu.


Dia memilih berjalan ke arah sisi Abraham. Menarik tangan suaminya dan membawanya keluar ruangan.


"Kenapa kamu bawa aku kesini?"


"Kamu dengar kan, apa yang Bia minta?" Tanya Aufa dengan lembut.


"Tapi… "


"Bia hanya butuh waktu, Sayang. Bia hanya butuh kesiapan. Berikan dia waktu untuk mengatakan semuanya. Dia sedang terkejut dan terluka sekarang."

__ADS_1


~Bersambung


__ADS_2