Rahasia Menantu Billionaire

Rahasia Menantu Billionaire
Perusahaan Terguncang


__ADS_3

...Aku tak akan menyerah akan keadaan. Aku selalu berdoa dan yakin jika suamiku pasti segera sadar dan selamat....


...~JBlack...


...****************...


Suara tawa bahagia begitu membahagiakan terdengar memenuhi sebuah ruangan kerja. Tawa penuh kepuasan akan dendamnya itu terlihat sangat jelas disana.


Pria itu bahkan sampai menari kesana kemari setelah mendengar ucapan anak buahnya. Bibirnya menyeringai lebar. Matanya yang tajam begitu berarti jelas disana.


"Kinerja kalian bagus! Aku sangat menyukainya. Aku benar-benar sangat beruntung memiliki kalian," Kata Semi menepuk pundak salah satu orang kepercayaannya.


"Terima kasih, Bos," Sahut salah satu disana.


"Aku akan memberikan kalian hadiah. Kerja keras yang besar dan sesuai akan membuatku memberikan bonus yang besar," Kata Semi lalu bergerak dengan pelan menuju meja kerjanya.


Dia membuka salah satu laci lalu mengambil sebuah amplop coklat dari sana. Dia lalu melempar amplop coklat itu ke atas meja.


"Itu bonus kalian. Cepat ambil dan keluar!" Ujar Semi yang membuat salah satu dari mereka segera mengambil amplop itu dan segera menunduk hormat.


"Terima kasih kerjasamanya, Tuan. Kami juga senang jika anda puas. Permisi," Kata ketiganya lalu pamit.


Sepeninggal mereka semua. Semi perlahan berjalan ke arah jendela besar. Jendela yang memperlihatkan keindahan lingkungan rumahnya dari atas sini.


Pria itu tersenyum licik. Dia melipat kedua tangannya di depan dada.


"Aku yakin saat ini suamimu pasti mati, Aufa. Setelah itu aku akan datang seperti superhero dan menikahimu," Kata semi dengan membayangkan semua hal indah dalam pikirannya.


Mata tajam itu menatap ke depan. Semua kenangan yang ingin dia lakukan dengan Aufa nak kaset berputar dalam otaknya.


Pria itu benar-benar sudah tergila-gila pada Aufa. Pria itu benar-benar sudah sangat ingin hidup bersama Aufa.


Hanya Aufa, Aufa dan Aufa yang ada dalam pikirannya.


Hingga pikirannya langsung terputus dengan sebuah panggilan di ponselnya. Semi lekas mengambil benda pipih itu lalu mendekatkan di telinganya.


"Halo," Sahut Semi secara langsung.


"Semuanya sudah kami lakukan, Tuan. Dalam hitungan menit kami yakin. Semua saham yang ada di perusahaan itu akan hancur dan merosot!" Kata suara pria dari seberang sana dan membuat Semi semakin tertawa dengan puas.


"Bagus. Kinerja bagus! Uangnya akan aku transfer sekarang juga. Senang bekerja denganmu, Bro!" Kata Semi lalu segera mematikan panggilan itu.


Dia lekas membuka ponselnya. Melihat semua perkataan orang suruhannya. Apakah yang dikatakan barusan benar atau tidak.


"Kena kau!" Kata Semi saat apa yang dikatakan oleh pria tadi memang benar.

__ADS_1


"Selamat datang di kemiskinan, Aufa. Aku akan membuatmu memilihku dengan keadaan semua ini," Kata Semi dengan senyum licik tercetak jelas dalam bibirnya.


***


Di rumah sakit.


Terdengar bunyi panggilan telepon di ponsel Papa Akmal berulang kali. Pria yang tengah menikmati makannya itu mau tak mau menghentikan gerakan tangannya.


Dia segera meraih ponselnya itu dan mengerutkan keningnya saat orang kepercayaannya itu menelpon.


"Halo?" Kata Papa Akmal saat panggilan itu mulai tersambung.


"Halo, Tuan," Sahut suara dari seberang telepon yang sangat Papa Akmal kenal.


"Ya ada apa?"


Terdengar helaan nafas berat disana. Entah kenapa hal itu membuat perhatian Papa Akmal teralih.


"Ada apa? Katakan semuanya. Aku pasti akan mendengarnya," Ujar Papa Akmal dalam diam.


"Perusahaan terjadi masalah, Tuan. Uang perusahaan dicuri dan berkas penting perusahaan dibawa kabur!


"Apa!"


Tubuh Papa Akmal menegang. Pria tua itu bahkan sampai hampir oleng jika saja Aufa dan Mama Bela tak menangkapnya.


Mama Bela dan Aufa berlari. Mereka membantu Papa Akmal yang masih terlihat shock.


"Bagaimana bisa?"


"Kami masih mencarinya, Tuan. Kami sendiri juga tak tahu siapa pelakunya. Apa motif mereka sampai bisa melakukan itu dengan sangat baik dan tak terjejak," Ujar sekretaris Papa Akmal dengan rinci.


Nafas ayah Aufa itu terlihat berat.


"Tinjau semuanya. Aku percaya padamu. Aku akan perusahaan sebentar lagi," Ujar Papa Akmal lalu panggilan itu terputus.


"Minum dulu, Pa. Ayo!" Aufa menyodorkan minuman di bibir papanya.


Papa Akmal meletakkan ponsel itu lalu segera menerima segelas air putri dari putrinya. Dia berusaha menenggak minuman itu dengan pelan.


"Ceritakan sama Aufa dan Mama. Apa yang sebenarnya terjadi, Pa?" Tanya Aufa dengan pelan.


"Papa jangan simpan sendiri. Ada Mama disini," Lanjut Mama Bela dengan pelan.


Dibalik sikapnya yang judes. Dibalik sikapnya yang kadang menyebalkan. Mama Bela tetaplah seorang istri yang setia. Dibalik dia yang glamour, dia adalah istri yang selalu ada dan menemani suaminya dari bawah.

__ADS_1


Memulai semua dari nol hingga sebesar sekarang. Maka dari itu Papa Akmal tak pernah memarahi istrinya. Meski Mama Bela belanja, Papa Akmal hanya mengingatkan.


Dia ingat. Hanya Mama Bela yang ada di sampingnya. Menemani dirinya disaat suka dan duka di masa lalu. Kerja keras dan membanting tulang dari gaji rendahan sampai sebesar ini.


"Perusahaan ada masalah, Ma," Kata Papa Akmal memulai.


Pria paruh baya itu mulai menceritakan semuanya. Mengatakan apa yang dikatakan oleh sekretarisnya tadi pada istri dan anaknya. Tak ada yang disembunyikan. Semuanya Papa Akmal ceritakan dengan jujur.


Dia adalah tipikal suami yang selalu meminta pendapat pada istrinya. Dia adalah karakter suami yang selalu terbuka pada pasangan.


Mendengar penjelasan Papa Akmal, membuat Aufa dan Mama Bela tertegun. Dua wanita itu menatap Papa Akmal tak percaya.


"Papa harus ke perusahaan. Papa harus menangani kekacauan ini," Ujar pria paruh baya itu setelah berusaha menenangkan dirinya.


Aufa dan Mama Bela meneteskan air matanya. Bukan memikirkan uang tapi kedua wanita itu menjadi saksi bisu bagaimana Papa Akmal bekerja dengan keras.


Membangun perusahaan itu dengan baik. Membangun perusahaan tanpa bantuan keluarga. Memulai semuanya dari bawah.


Tanpa diduga Mama Bela dan Aufa mendekat. Kedua wanita berbeda usia itu memeluk Papa Akmal bersamaan.


Mereka seakan paham apa yang dirasakan Papa Akmal sekarang. Mama Bela dan Aufa seakan tahu bagaimana perasaan suami dan Papa mereka saat ini.


"Mama percaya Papa bisa menangani semua ini. Mama percaya Papa bisa menyelesaikan masalah ini," Kata Mama Bela menyemangati.


Aufa mengangguk dalam pelukan papanya.


"Aufa yakin Papa bisa. Aufa yakin perusahaan akan akan. Tangan Papa ajaib. Papa membangun semuanya dan Aufa yakin semuanya akan selesai berkat Papa," Kata Aufa menambahkan.


Papa Akmal mengangguk. Seakan mendapatkan kekuatan dari anak dan istrinya. Dia mencium puncak kepala keduanya lalu segera beranjak berdiri.


"Papa harus pergi yah. Mama dan Aufa disini jagain Abraham. Kita harus saling membantu dan menjaga satu dengan yang lain. Oke?"


Aufa dan Mama Bela mengangguk. Anak dan Ibu itu saling menggenggam tangannya dan menunjukkannya ke atas.


"Mama dan Aufa disini nungguin, Papa. Papa semangat!"


Akhirnya Papa Akmal segera pergi. Meninggalkan istri dan anaknya yang kini saling berhadapan.


"Aufa jaga Abraham. Mama akan pulang dan melihat keadaan rumah. Oke?"


"Tapi kata Papa, Ma… "


"Mama tahu apa yang harus Mama lakukan. Mama selalu bersama Papa. Jadi Mama tak mau membuat Papa bekerja sendiri. Oke?"


Aufa khawatir. Namun, dia percaya pada mamanya.

__ADS_1


"Mama hati-hati yah. Ingat! Kalau ada apa-apa hubungi Aufa."


~Bersambung


__ADS_2