
...Percayalah cinta yang besar dan kuat juga bukan melulu akan bahagia. Terkadang ada angin dan badai yang menjadi ujian mereka. ...
...~JBlack...
...****************...
"Sudah lega kan, Sayang?" Tanya Aufa dengan pelan. "Jangan terlalu khawatir, oke? Ini normal, Sayang."
Abraham yang mendorong kursi roda Aufa mengangguk lemah. Aufa paham suaminya memang khawatir padanya. Namun, mau bagaimana lagi. Mau tak mau,Abraham harus paham dengan apa yang terjadi saat ini.
"Abang," Panggil Almeera pelan yang mengusap punggung putranya.
"Iya, Bu?"
"Biarkan Mama yang dorongan Aufa, Nak," Ujar Mama Aufa lalu meraih kursi roda Aufa.
Dia tahu besannya akan menasehati menantunya itu. Membuat Mama Aufa mengambil alih kursi roda putrinya.
Abraham yang tahu maksud mertuanya juga menurut. Dia berjalan sedikit pelan dan sejajar dengan ibunya.
Ibu yang paling dia hormati. Ibu yang selalu dia hargai. Ibu yang selalu memahami dirinya.
"Ibu tahu kamu khawatir pada istrimu, Bang," Ujar Almeera pelan sambil menggandeng tangan putranya. "Tapi Abang harus ingat. Nanti, Aufa harus mendapat kekuatan dari Abang. Abang harus memberikan semangat padanya. Jangan malah membuat Aufa khawatir juga. Oke?"
__ADS_1
Abraham menoleh. Dia menghentikan langkahnya dan membuat Almeera juga berhenti. Pria itu menatap bola mata ibunya yang juga sedang membalas tatapannya.
"Bu," Kata Abraham terlihat ingin protes.
"Ibu serius, Bang," Sela Almeera dengan serius. "Nanti Aufa butuh semangat Abang. Dia butuh Abang di sisinya. Abang harus kuat!"
"Mungkin memang nanti Abang tak tega melihat Aufa kesakitan. Tapi itulah yang akan terjadi pada Aufa ketika melahirkan. Siap tak siap, Abang harus siap menemaninya!"
"Abang paham, Bu. Tapi… "
"Gak ada kata tapi, Nak. Yang ada adalah Abang harus percaya!"
"Percaya pada Aufa bahwa dia bisa. Dan percaya pada Abang, bahwa Abang bisa menemani Aufa melewati semuanya!" Lanjut Almeera yang entah kenapa membuat dorongan di hati Abraham menjadi mulai naik.
"Ibu benar!"
"Ibu yakin Abang bisa!"
"Abang bisa karena semangat dari Ibu!" Kata Abraham yang membuat Almeera tersenyum.
"Abang bisa karena cinta Abang untuk Aufa!"
Begitulah ibu dan anak. Ketika salah satu dari mereka merasa sedang jatuh, maka yang lain akan menguatkan.
__ADS_1
Dimana yang salah satu dari mereka merasa sedih. Maka salah satu yang lain menguatkan. Dimana salah satu dari mereka merasa sakit, maka yang lain saling mengobati.
Begitulah keluarga. Begitulah hubungan dalam keluarga mereka. Antara orang tua, saudara, ataupun istri.
Menguatkan, menghargai dan juga saling menghormati. Begitulah cinta dan kasih sayang mereka ketika saling memberi.
"Ayo kita jalan! Aufa dan mertuamu pasti menunggu," Ajak Almeera yang membuat Abraham mengangguk.
Ibu dan anak itu mulai melangkah lagi. Keduanya berjalan bersama dan bergandengan tangan. Abraham meletakkan tangannya di pundak ibunya dan mencium puncak kepalanya.
"Abang!" Kata Almeera terkejut.
"Kenapa, Bu?"
"Ibu kaget. Nanti kalau dilihat istri kamu gimana?"
"Ya gapapa. Aufa sudah tahu kalau Abang sayang banget sama ibu!"
Almeera tersenyum. Dia bangga dengan apa yang diajarkan bersama suaminya. Apa yang dia lakukan dengan Bara ternyata berhasil membuat anak-anak mereka begitu menghargai keduanya
"Oh iya, Bang!" Cegah Almeera saat keduanya hampir sampai di parkiran mobil.
"Kenapa, Bu?"
__ADS_1
"Ibu hampir lupa. Bia akan tinggal bersama kalian karena dia akan melakukan kegiatan kampus di rumah sakit disini. Jadi ibu titip adikmu ya. Apa boleh?"
~Bersambung