
...Terkadang hidup sebagai seorang anak adalah hal yang paling rumit ketika dia diminta paham akan maksud orang tua. Dia dipaksa dan dituntut untuk tahu tanpa mereka berpikir jika yang mereka lakukan adalah awal sakit dalam diri seorang anak....
...~JBlack...
...***...
"Tunggu!" Pekik Semi yang membuat gerakan tangan mamanya terhenti.
"Apa aja sih, Sem! Kamu bikin kaget Mama tau gak!" kata Mama Semi yang membuat pria itu menarik nafasnya begitu dalam.
Dia lekas menarik paket kotak itu dari mamanya.
"Ini paket Semi. Untuk apa Mama menerimanya?" Tanya Semi dengan jantung yang berdegup kencang.
"Mama cuma penasaran aja. Kamu belanja apa? Selama ini Mama lihat kamu gak pernah beli beginian. Mangkanya Mama ingin tahu," Kata Mama Semi pada putranya.
"Emm itu, Ma!" Ucap Semi terbata. "Semi lagi beli barang yang gak ada. Iya. Semi cari barang."
"Barang apa?" Tanya Mama Semi dengan penasaran.
"Parfum, Ma. Iya parfum."
"Tapi parfum kenapa besar banget kek gitu?" Tanya Mama Semi dengan curiga.
"Iya. Soalnya Semi sekalian beli produk lain. Disini harum yang Semi suka gak ada. Jadi Semi beli di sini!"
Semi terlihat kacau. Dia benar-benar merasa lega dan takut. Lega melihat dirinya yang datang dengan tepat waktu. Namun, dirinya juga takut jika ada paket lagi dan dirinya tak ada di rumah.
Semi tak mau semuanya terbongkar. Semi tak mau rumah tangga Mama dan papanya hancur. Semua tak mau semua terjadi merusak segalanya dan membuatnya kehilangan sosok yang sangat ia sayangi.
Ya Semi tak mau itu terjadi. Dia tak mau rumah tangga Mama dan papanya hancur.
"Semi mau ke kamar dulu!" Kata Semi ingin pergi.
Namun, mamanya sudah menarik lengannya dulu dan membuat langkah kaki pria itu terhenti.
"Ada apa, Ma?"
"Kamu lagu nyembunyiin apapun dari Mama, 'kan?"
Jantung Semi berdegup kencang. Dia hampir lupa jika mamanya ini sebelas dua belas dengannya. Mamanya selalu mendukungnya. Mamanya selalu tahu tentang dirinya.
"Nggak, Ma. Semi gak sembunyikan apapun!"
Mama Semi mengangguk. "Gak perlu tegang sampai keringetan gini kalau semuanya baik-baik aja, Nak."
Semi menarik nafasnya begitu dalam. Dia selalu gugup dan berkeringat jika dalam kondisi seperti ini.
__ADS_1
"Yaudah. Semi ke kamar dulu yah, Ma."
"Iya, Sayang. Emm kamu jadi ke papa?"
Eh Semi yang sudah berjalan beberapa langkah membalikkan tubuhnya.
"Jadi, Ma. Kenapa?"
"Mama cuma mau bawain Papa makanan. Mama titip yah?"
Semi terpaku. Hatinya tersentil melihat mamanya yang sangat perhatian dan mencintai pria yang ternyata memiliki sosok lain disana. Pria yang tak menghargai mamanya. Pria yang membuatnya harus berada di antara papa dan mamanya.
"Iya."
"Yaudah. Kamu siap-siap. Biar Mama ke dapur minta mbak bantuin Mama masak!"
Percayalah dibalik sikap mamanya yang kadang egois. Kadang bisa bersikap jahat dan licik sepertinya. Mama Semi adalah orang yang menyayangi anaknya sebaik mungkin.
Dia mendukung rencana Semi membakar bengkel Abraham. Dia juga mendukung apa yang diinginkan putranya meski caranya salah. Karena memang terkadang menyayangi seorang anak, setiap prnah tua memiliki cara sendiri.
"Iya, Ma. Sem ke atas dulu yah."
***
“Ah ah faster babe, ah ah.....”
Tangan Semi. Mengepal kuat saat dirinya yang sudah berdiri di ambang pintu kamar papanya harus mendengar suara laknat ini. Dia menatap sekliling dengan lekat.
Semi takut jika ada seseorang yang tanpa sengaja masuk dan mendengar atau melihat perbuatan gila papanya. Apalagi pintunya tak tertutup dengan sempurna.
Namun, Semi bersyukur. Ruangan papanya terpisah dan ada di lantai khusus. Hingga jika terjadi apapun maka hanya ada papa dan sekretaris gilanya saja disini.
"Papa!" Pekik Semi dengan kilat marah di matanya.
Spontan apa yang sedang dilakukan oleh dua oknum mesum ini berhenti. Keduanya sama-sama kalang kabut dengan sang perempuan lari ke kamar mandi dan Papa Semi hanya membenarkan celananya.
"Kenapa kamu gak ketuk pintu dulu, Sem! Gak sopan!"
"Lebih gak sopan siapa. Aku atau Papa hah?"
"Kamu!"
"Melakukan hal mesum di kantor lalu sampai lupa kunci pintu. Siapa yang gak sopan?"
Mata Semi benar-benar berkilat marah. Dia benar-benar kecewa pada papanya. Jujur setelah teror paket. Semi mulai menyesal. Menyesal selama ini ikut membantu kebusukan papanya.
Menyesal membohongi mamanya dan mendukung apa yang dilakukan papanya.
__ADS_1
"Mulai sekarang Semi tak mau ikut campur urusan papa dengan wanita itu. Semi akan pergi dan mengatakan semuanya pada mama!"
"Kau ingin rumah tangga mama dan pala hancur!" Seru Papa Semi yang membuat langkah kaki pria itu terhenti. "Jika kau mau!"
"Katakan saja pada mamamu itu. Bilang semuanya dan papa yakin hari ini mamamu akan meminta cerai dari papa!"
Jantung Semi mencelos. Dia benar-benar terpaku dan takut. Matanya terpejam tak bisa membayangkan bagaimana dirinya jika orang tuanya bercerai.
Bagaimana kehidupannya setelah ini. Apakah mamanya akan bahagia. Apakah papanya akan ingat pada dia dan sang mama.
"Silahkan keluar dari ruangan papa jika kamu mau!"
Semi mengepalkan kedua tangannya. Lagi-lagi dia selalu lemah. Tak bisa melawan pria gila di depannya ini.
"Sejak dulu kau anak papa, Sem. Kau akan mendukung papa. Jadi jangan berbuat ulah dengan mengancam memberitahu mama!"
...****************...
Di New York.
Seorang perempuan sedang berjalan menuju ke taman belakang tempat dimana dia ingin menemui suaminya. Ya, Mama mertua dan papa mertuanya bilang bahwa Abraham ada disana.
Aufa berjalan dengan pelan. Dia ingin memberikan suprise atau mengejutkan suaminya. Melangkah dengan pelan agar langkah kakinya tak terdengar.
Wanita itu juga sampai melepas sandal yang ia pakai agar dirinya bisa mengendap-endap. Dari jauh, Aufa bisa melihat suaminya tengah terlibat panggilan.
Dia mendekat dengan perlahan sampai samar-samar suara percakapan suaminya entah dengan siapa mulai terdengar.
"Aku sangat mengandalkanmu. Semi harus tahu berhadapan dengan siapa dia. Dia melukai istriku, bahkan membakar bengkel yang selama ini aku wujudkan dengan mimpi yang besar."
"Aku tak suka orang bermain licik. Aku tak suka dengan pria yang ingin mengambil orang yang aku cintai. Hancurkan dia sampai ke akarnya. Aku yakin bisa membuatnya jatuh sejatuh-jatuhnya."
Bersamaan dengan itu. Sandal yang dipegang oleh Aufa jatuh. Jantungnya berdegup kencang mendengar perkataan suaminya. Ya, dia bahkan menatap Abraham tak percaya.
Dia terkejut. Bukan perihal apa. Melainkan terkejut karena sosok yang membuat bengkel dan rumah suaminya kebakar adalah temannya sendiri.
Orang yang hampir mencelakai dirinya dan Abraham adalah orang yang kenal dengannya.
"Sayang!" Abraham berjalan mendekat.
Dia memegang pundak Aufa yang terlihat begitu shock. Perempuan itu bahkan memegang dadanya dengan menatap ke arah Abraham yang memegang dirinya.
"Jadi semua ini karena Semi? Iya?" Tanya Aufa terlihat kesulitan bernafas.
"Iya, Sayang. Dia… Aufa!"
Pekik Abraham saat istrinya itu tak sadarkan diri.
__ADS_1
~Bersambung