
Melahirkan bukan hanya menjadi momen menegangkan untuk ibu hamil. Melainkan untuk seorang calon ayah baru juga, ini adalah pengalaman utama untuknya.
~Abraham Barraq Al-Kahfi
***
Abraham benar-benar mencekram kemudi dengan kuat. Dia mengemudi mobilnya dengan hati-hati. Suara rintihan istrinya menjadi suara merdu di dalam mobil.
Dia benar-benar tak lagi menatap ke arah istrinya karena jujur melihat wajah Aufa yang kesakitan membuat dirinya panik bukan main. Rasa takut, kasihan dan sedih menumpuk jadi satu di matanya.
Hal itulah yang saat ini berkecamuk dalam pikiran Abraham.
"Kakak terus atur nafas," Kata Bia menginterupsi.
Aufa mengangguk. Bagaimanapun dia percaya pada adik iparnya ini. Bia adalah calon dokter. Di mahasiswa kedokteran yang pandai dan nilainya selalu bagus.
Hal itulah yang membuat Aufa menurut padanya. Selalu mendengarkan nasihat Bia meski dia belum menjadi dokter seutuhnya.
Apalagi nasehat dokter yang merawatnya terus dia ingat. Proses melahirkan memang menegangkan. Namun, dia harus tetap tenang karena Aufa tahu, Abraham suaminya juga sama seperti dirinya.
Akhirnya lalu lintas yang sedikit lenggang membuat Abraham mampu menerobos dengan cepat. Dia lekas turun dari kursi kemudi Dan menggendong istrinya.
"Suster…Dokter! Tolong istriku mau melahirkan!" Pekik Abraham dengan kencang.
Pria itu lekas meletakkan istrinya di ranjang pasien. Dia dan Bia lalu mengikuti langkah kaki suster yang mendorong brankar itu dengan suster yang lain.
"Tunggu disini!" Kata suster saat Aufa sudah dibawa masuk.
__ADS_1
Abraham menurut. Jantung pria itu benar-benar seperti hendak berhenti berdetak. Wajah istrinya yang kesakitan terngiang di pikirannya.
Aufa benar-benar kesakitan. Apalagi wajah yang selalu bahagia kini harus terlihat memerah dan keningnya berkerut.
"Bang," Panggil Bia menyadarkan Abraham yang melamun.
Pria itu menoleh. Dia menatap ke arah adik perempuannya yang sedang menatapnya.
"Ya?" Jawab Abraham dengan pelan.
Pria itu menggenggam tangan adiknya. Dia hampir melupakan Bia yang ada untuknya. Adik perempuan yang gagal dia lindungi. Adik perempuan yang menyimpan luka begitu dalam.
"Jangan tunjukkan kepanikan ketika berada di dalam. Abang dan Kak Aufa harus saling menguatkan. Oke?" Ucap Bia dengan pelan sambil tersenyum kecil.
Ucapan itu tentu membuat Abraham mengangguk. Tentu dia akan menuruti semua perkataan adiknya. Hal itu memang akan selalu dilakukan oleh Abraham sebagai penebusan.
Ya apapun keputusan Bia. Abraham akan mendukungnya. Dia berjanji akan menuruti semua perkataan adiknya yang memang baik untuk mereka.
"Saya?"
"Silahkan masuk. Istri anda memanggil anda sejak tadi," Kata suster memberitahu.
Abraham mengangguk. Sebelum dia masuk, dia menatap ke arah Bia terlebih dahulu.
"Tenanglah, Bang. Bia akan disini menunggu!"
"Jangan ke mana-mana oke?"
__ADS_1
Bia mengangguk. Dia tahu kakaknya khawatir padanya.
"Oh iya. Kakak minta tolong hubungi ayah dan ibu yah. Katakan cucu pertama mereka akan lahir," Ucap Abraham sebelum dia masuk ke dalam ruangan dimana Aufa disana.
Setelah pintu tertutup. Bia menunduk. Dia menatap ke arah ponsel pribadinya yang dia ambil dari saku celana. Dia memegang benda pipih miliknya yang hampir tak pernah ia pakai kecuali ada panggilan darurat.
Jujur setelah kejadian itu. Bia tak pernah menghubungi orang tuanya dari ponselnya sendiri. Dia selalu meminjam ponsel kakaknya untuk menelepon ayah ibunya.
Namun, kali ini. Bia harus menggunakannya. Dia tak boleh terus menghindar. Dia tak boleh terus menjauh karena bagaimanapun ia merindukan ayah dan ibunya.
Klik.
Akhirnya bunyi sering ponsel itu terdengar. Bia terdiam sambil menunggu dan belum seringan ketiga panggilan itu sudah tersambung.
"Assalamu'alaikum," Sapa Bia dengan pelan.
"Waalaikumsalam. Bia?"
Suara itu membuat jantung Bia berdegup kencang. Suara wanita yang melahirkannya. Suara wanita yang selalu dia banggakan. Suara wanita kuat yang mementingkan kebahagiaan keluarga dan dirinya.
"Ibu," Panggil Bia dengan menahan tangis.
Dia benar-benar merindukan ibunya. Namun, kali ini bukan itu yang menjadi permasalahan. Dia harus mengatakan tujuannya.
"Ibu, Bia ingin mengatakan sesuatu."
"Ada apa, Nak?" Tanya Almeera dengan pelan.
__ADS_1
"Kak Aufa mau melahirkan. Dia sudah ada di rumah sakit. Ibu dan Ayah bisa pulang kemari?"
~Bersambung