Rahasia Menantu Billionaire

Rahasia Menantu Billionaire
Tekad Abraham


__ADS_3

...Ketika sebuah perasaan saling membalas satu dengan yang lain. Maka mereka akan berusaha untuk saling membahagiakan satu dengan yang lainnya....


...~Abraham Barraq Alkahfi...


...****************...


"Terus habis ini gimana, Bu?" Tanya Abraham yang mulai memasak satu per satu makanan.


Jujur pria dengan kaos yang membalut tubuhnya dan celana pendek selutut itu terlihat sangat amat seksi dan menawan. Hampir satu jam dia sudah berkutat di dapur. Bergerak kesana kemari dengan sangat lincah.


Almeera dan Mama Bela tentu membantu putra dan menantu mereka yang berusaha memenuhi keinginan sangat ibu hamil. Abraham memang pandai memasak tapi ketika bertemu dengan masakan yang super duper kelihatan ribet, tentu Abraham memiliki batasan.


Apalagi dia tak terlalu suka dengan makanan padang hingga membuatnya pun dia juga harus butuh instruksi dari ibunya.


"Bu… " Rengek Abraham dengan wajahnya yang hampir menyerah.


"Abang pasti bisa. Ayo!"


Abraham menghela nafas berat. Jujur saja dia tak pernah memasak dengan bahan sebanyak dan selengkap ini. Dia juga tak pernah memakan makanan ini karena memang sangat tak suka dengan makanan ini


Bumbu bumbu yang dipakai dan aroma yang menguar membuat Abraham menutup hidungnya. Dia benar-benar tak menyukainya tapi demi sang istri. Abraham rela berdiri disini menahan semuanya.


"Kamu duduk ajak, Abra. Biar Mama dan Ibu kamu yang memasak ayamnya," Kata Mama Bela yang merasa kasihan dengan menantunya.


Wajah Abraham memerah. Pria itu juga menahan rasa mual sejak tadi. Entah kenapa perutnya rasanya diaduk-aduk. Dia bahkan merasa mulai pusing.


"Nak," Panggil Almeera pada putranya.


Abraham berusaha mengatur nafasnya. Dia mencoba untuk duduk sebentar. Berusaha menetralkan dirinya yang benar-benar tak sanggup dengan bau ini.


"Biar Abraham yang ngaduk ayamnya, Ma. Mama bisa bantu Ibu," Ujar Abraham setelah dia berusaha menahannya sebaik mungkin.


Akhirnya Mama Bela pindah. Abraham mulai mengaduk ayamnya. Dia menatap ayam dengan bumbu gulai yang terlihat mengepul di dalam wajan panas itu.


Rasanya bumbu itu terasa di lidahnya dan membuat perutnya semakin menaik. Akhirnya dia sudah tak tahan lagi. Abraham berlari ke arah kamar mandi terdekat dengan dapur dan pria itu mengeluarkan semuanya disana.


Suara muntah dan mual itu terdengar. Tentu Almeera khawatir.


"Mbak aku lihat Abraham dulu yah," Kata Almeera pamit.


Mama Bela mengangguk. Dia membiarkan besannya itu melihat menantunya dan dirinya menyelesaikan beberapa masakan yang tinggal dimasak.


"Kamu baik-baik aja, Sayang?"


" Sayang," Pekik Aufa yang datang juga.


"Jangan lari, Nak!" Kata Almeera menahan tangan menantunya yang hampir jatuh. "Hati-hati. Lantainya licin."

__ADS_1


Aufa terlihat khawatir. "Maaf, Bu. Aufa nau lihat kondisi Abra."


"Tapi diingat kamu juga yah. Kamu hamil, Sayang. Ke kamar mandi jangan langsung lari. Oke?" Ujar Almeera dengan lembut.


Aufa mengangguk. Dia perlahan mendekati suaminya yang mulai berhenti memuntahkan segala hal dalam perutnya.


"Kamu baik-baik aja, 'kan?"


Abraham menegakkan tubuhnya. Dia terlihat pucat dengan bibir yang tak segar sedikitpun.


"Ayo duduk dulu! Ibu buatkan teh hangat," Ujar Almeera penuh perhatian.


Aufa menggandeng tangan suaminya. Abraham menutup hidungnya saat melewati dapur. Dia perlahan duduk di kursi meja makan dengan dibantu oleh Aufa.


"Kamu gapapa kan? Mana yang sakit?" Tanya Aufa dengan khawatir.


Abraham mendongakkan wajahnya. Dia menatap wajahnya istrinya yang tengah menatapnya juga. Pria calon ayah itu meraih tangan Aufa dan menciumnya.


"Aku baik-baik aja, Sayang. Mungkin hanya masuk angin," Ujar Abraham agar istrinya tenang.


"Beneran? Jangan boong sama Aufa yah?"


Abraham mengangguk. Dia berusaha terlihat baik-baik saja. Menampilkan sebuah senyuman yang begitu tulus di kedua sudut bibirnya.


***


Aufa menatap beberapa makanan padang yang tertata rapi diatas meja. Dia melihat semuanya dengan air liur yang hendak menetes keluar. Rasanya aroma makanan itu mengundang perutnya lapar.


Berbeda dengan Aufa, Abraham menutup hidungnya. Dia bahkan tak menatap makanan diatas meja karena perutnya terasa mual kembali.


"Abra tunggu di depan aja yah?"


"Nggak!" Pekik Aufa dengan cepat. "Aufa mau makan ditemenin kamu."


Abraham terlihat menelan ludahnya paksa. Bukan rasa ingin makan atau lapar. Melainkan dia menahan agar aroma itu tak tercium di hidungnya. Agar dia tak mual dan muntah lagi.


"Sayang. Suamimu… "


"Gak papa, Ma," Kata Abraham menyela saat Mama Bela hendak menolak ajakan putrinya pada menantunya itu. "Gakpapa, Ma."


Abraham menatap istrinya. Dia mengusap kepala Aufa yang duduk di sampingnya.


"Makanlah, Sayang."


"Kamu temenin aku yah?"


Abraham mengangguk. Perlahan Aufa mulai mengambil makanan yang terlihat sangat amat enak itu. Ibu hamil ini benar-benar mengambil makanan dengan banyak macam.

__ADS_1


Wajahnya yang bahagia entah kenapa membuat bibir Abraham melengkung ke atas. Dia merasa istrinya benar-benar sangat menginginkan makanan itu.


Aufa berdoa dalam diam. Setelah itu dia mulai memakan makanan itu dalam satu kali suapan.


"Hmm. Ini enak ini sekali," Kata Aufa dengan memejamkan matanya.


Dia mencoba meresepati bumbu dan bahan makanan yang begitu sempurna. Rasa khas bumbu itu, perpaduan rasa yang ada di lidahnya sangat amat sempurna.


"Rasanya mungkin tak seenak di Indonesia, Nak. Ada beberapa bumbu yang belum Ibu masukkan dan tak ada disini," Kata Almeera pada menantunya.


"Tapi ini enak sekali, Bu."


Aufa memakan dengan lahap. Lalu setelah itu dia mengambil ayam dan nasi pada sendoknya. Setelah itu tanpa diduga dia mengarahkan ke sampingnya dan membuat Abraham terkejut.


"Apa, Sayang?"


"Buka mulut. Ayo akhh!" Kata Aufa dengan tatapan mata memelas.


"Sayang," Bujuk Abraham dengan menelan ludahnya paksa.


"Aufa!" Kata Mama Bela tak tahan.


"Apa sih, Ma? Aufa cuma mau Abra makan makanan ini!" Seru Aufa dengan kesal.


"Gak papa, Ma," Ujar Abraham dengan mencoba tenang.


"Plis makan yah?" Pinta Aufa merengek.


Entah kenapa Ibu hamil itu ingin Abraham memakan masakan ini. Rasanya dalam dirinya ia ingin suaminya ikut memakan apa yang ia makan.


"Ayo, Sayang!"


"Aufa jangan kelewatan!" Seru Mama Bela yang kasihan pada Abraham.


Pria itu memerah lagi wajahnya. Dia tahu jika menantunya itu menahan dirinya agar tak mual di depan Aufa.


"Abraham tak suka baunya, Nak. Jangan memaksanya!"


"Tapi Aufa ingin melihat Abraham makan, Ma. Aufa pengen!" Seru Aufa dengan mata berkaca-kaca.


Akh percayalah tingkah ibu hamil memang sangat amat tak terduga. Dia bisa melakukan apapun dan meminta hal aneh pada siapapun.


"Jangan menangis, Sayang," Bujuk Abraham dengan memohon. "Aku akan memakannya."


Mata yang semula berair kini berbinar. Aufa menatap Abraham yang mulai membuka mulut dan menerima suapannya. Bibir ibu hamil itu melengkung ke atas dengan wajah yang teramat bahagia.


"Makasih banyak, Sayang. Kami mencintaimu," Kata Aufa dengan ceria yang membuat Abraham tersenyum meski dia harus menahan perutnya yang rasanya ingin mengeluarkan apa yang sedang ada dalam mulutnya itu.

__ADS_1


~Bersambung


__ADS_2