
Percayalah terkadang ikatan kakak dan adik begitu kuat. Apa yang dirasakan terkadang merupakan firasat yang bisa dia rasakan sendiri.
~Abraham Barraq Al-Kahfi
...****************...
"Cepatlah tidur, Bi. Jangan begadang!" Kata Abraham di telepon.
Bia yang saat itu tengah menatap laptop dengan tangan bergerak kesana kemari tersenyum. Dia tak tahu apa yang dipikirkan kakaknya ini. Baru saja mereka meninggalkan rumah tapi sudah menelponnya.
"Iya, Bang. Bia bakalan tidur," Ucap Bia lalu segera menekan shutdown melalui mouse yang pegang lalu layar itu perlahan mulai meredup.
"Pintu udah dikunci semua, Bi?" Tanya Abraham di telepon terdengar khawatir.
Kening Bia berkerut. Tentu saja sikap kakaknya ini membuat dirinya bingung.
"Sudah. Abang sudah mengatakan ini lebih dari tiga kali tadi."
"Abang hanya takut kamu lupa," Sahut Abraham yang membuat Bia geleng-geleng kepala.
"Abangmu hanya memikirkan kamu aja, Bi. Dia takut kamu kenapa-napa," Ucap Aufa yang membuat Bia terkekeh.
"Yaudah. Laptop Bia udah mati. Sekarang Bia mau tidur dulu yah," Pamit Bia dengan beranjak berdiri lalu mematikan lampu kamar.
__ADS_1
Setelah itu dia menaiki ranjang kamar abang dan kakak iparnya itu sebelum akhirnya dia bisa merebahkan punggungnya yang terasa sakit.
"Iya. Selamat tidur," Ucap Aufa sebelum panggilan itu mati lalu Bia meletakkan ponselnya di atas nakas.
Nafas perempuan itu memburu. Bukan Bia takut melainkan dia lelah. Tugasnya belum selesai. Namun, karena kekhawatiran kakaknya membuat Bia memilih lebih cepat istirahat.
Dia tak mau membuat abangnya berpikir. Apalagi dalam keadaan menyetir seperti ini.
"Lebih baik aku tidur. Lalu besok subuh, aku akan meneruskan pekerjaan ini."
***
"Semuanya aman?" Tanya seorang pria yang baru turun dari mobil di ujung jalan.
"Sudah!" Jawab pria dengan mata tertutup terbuka itu.
"Kau mabuk?" Ucap Semi dengan mencium bau alkohol di dekat pria suruhannya itu.
Bukannya takut, pria itu terkekeh sambil menggaruk kepalanya.
"Oh ****!" Pekik Semi dengan menyugar rambutnya ke belakang. "Kau beneran!"
Semi terlihat emosi. Dia menarik kerah baju pria di depannya ini dengan kuat.
__ADS_1
"Boss!"
"Katakan padaku! Apa benar mereka sudah pergi?"
Pria itu kesulitan bernafas. Dia berusaha untuk melepaskan diri tapi tak bisa.
"Sudah, Tuan. Meski aku minum. Aku masih dalam keadaan sadar!" Kata pria itu dengan cekatan yang membuat Semi melepaskan tangannya itu dari kerah baju pria suruhannya.
"Aku akan masuk dan kau!" Seru Semi menunjuk anak buahnya itu. "Lihat kondisi di sini. Berikan semua info dan ingat! Kau harus fokus."
"Siap, Boss!"
Semi yakin pada anak buahnya itu. Meski mabuk, dia masih bisa diandalkan.
Pria itu segera memakai topeng hitam. Dirinya juga mengecek pistol yang ada di belakang pinggangnya. Setelah itu lekas berjalan ke arah rumah yang sudah direnovasi setelah dia bakar.
"Rasanya aku ingin membakar rumah ini lagi. Tapi, ada wanitaku di dalam sana," kata Semi dengan senyuman miring. "Daripada dibakar, aku akan membuat kau menyesal karena telah merebut apa yang seharusnya menjadi milikku."
Semi bergerak cepat. Dia membuka jendela depan dengan mencongkel bagian pinggir jendela. Setelah berhasil, dirinya lekas masuk ke dalam rumah dengan sangat hati-hati.
Tak menimbulkan suara apapun. Semi benar-benar sangat hati-hati. Dirinya berjalan menuju nakas yang ada di ruang tamu dan melihat deretan pigura disana.
"Kau boleh bahagia sekarang! Tapi lihat saja, apa yang akan aku lakukan pada istrimu ini, brengsek!" Kata Semi sambil memegang sebuah pigura yang terdapat gambar Abra dan Aufa tersenyum bahagia.
__ADS_1
~Bersambung