
...Mungkin pendekatan adalah hal tersulit untukku. Namun, mencoba memulainya mungkin tak ada salahnya....
...~Mela...
...****************...
Tentu perdebatan keduanya membuat Aufa dan Mela tak melihat jalan. Tindakan keduanya yang saling beradu pendapatan membuat Aufa yang fokus menatap Mela tak melihat jika di depannya ada seorang pria tengah membawa kantong di tangannya.
Akhirnya tanpa diduga Mela menabrak tubuh orang yang ada di depannya itu dengan cukup keras.
"Aduh!"
Mela memegang lengannya yang lumayan sakit. Namun, dia yang melihat beberapa buah-buahan jatuh berantakan di lantai membuat Mela lekas berjongkok dan membantunya.
"I'm sorry. Saya tak sengaja menabrak Anda," Kata Mela dengan cepat dan perasaannya menyesal.
Spontan ucapan itu membuat sosok yang sedang memungut buahnya mendongak. Mela yang fokus pada buah juga ikut mendongak saat pria itu menatapnya.
Jantung Mela langsung hampir melompat keluar saat tatapan mata itu kembali ia temui.
"Fort!"
"Mela?"
"Kak Fort!" Pekik Aufa yang sama terkejut dengan keberadaan sahabat suaminya itu.
Mela merasa gugup sekaligus salah tingkah. Entah kenapa menurutnya mata Fort menatapnya dengan lekat dan berusaha menyelami pandangan matanya itu.
Aufa yang mulanya berdiri spontan ikut berjongkok. Dia membantu sahabat suaminya juga ikut membantu merapikan barang bawaan Fort yang berantakan karena ulah mereka.
"Maafkan kita berdua, Kak. Aku dan Mela gak sengaja tabrak, Kakak!" Kata Aufa mewakili ucapan keduanya.
Jujur Mela mendadak kaku. Dia bahkan seperti kehabisan kata-kata untuk diungkapkan atau dikatakan lagi.
"Gapapa, Fa. Aku juga yang teledor karena jalan sambil lihat HP," Kata Fort yang mengakui kesalahannya juga.
Akhirnya buah itu itu kembali masuk ke dalam kantong. Namun, karena tabrakan yang lumayan kuat membuat plastik yang menampung buah itu sedikit sobek.
"Ya. Kantungnya…" Kata Aufa menunjuk kantung yang dipegang oleh sahabat suaminya itu
"Udah gak papa kok!" Ujar Fort sambil membawa jantung itu dengan tangannya.
"Ada apa ini?" Tanya Abraham yang baru saja datang.
Abraham memang tadi pergi sebentar ke kamar mandi. Dia tak pamit karena berpikiran akan meninggalkan istrinya dengan Mela sebentar saja.
__ADS_1
"Fort!" Pekik Abraham yang bahagia dengan kemunculan sosok pria yang sudah sangat dinanti kedatangannya.
"Hai!" Sapa Abraham dengan ramah pada pria di depannya ini.
Fort tersenyum. Dia menerima jabat tangan sahabatnya itu dengan mengedipkan sebelah matanya tanpa sepengetahuan kedua wanita didekat mereka itu.
"Kalian mau kemana?" Tanya Fort yang baru menyadari sesuatu. "Kencan yah?"
"Iya!" Celetuk Mela yang membuat Aufa dan Abraham membelalakkan matanya.
"Apaan, Mel. Kita kesini mau jalan-jalan anterin kamu!" Kata Aufa dengan mendeliki sebal.
Mela hanya tertawa pelan. Dia memang sengaja menjawab karena iseng pada sahabatnya itu. Dia ingin mengerjai pasangan suami istri itu yang terlihat begitu romantis di manapun mereka berada.
"Hehe bercanda doang loh," Bela Mela saat kedua Abraham melirik ke arahnya tanpa senyum
Bagaimanapun Mela akui dia masih agak takut dengan Abraham. Mungkin karena pria itu terlalu banyak bicara dengannya. Abraham akan mengobrol dengannya jika ada sesuatu yang ingin dia tanyakan atau lakukan.
Dalam artian, keduanya akan berbicara jika ada sesuatu yang penting di antara mereka. Mela mengerti. Dia yakin suami sahabatnya itu hanya ingin menjaga perasaan Aufa agar tak strees dan emosi jika saja Abra menerima panggilan wanita lain.
Sedangkan Fort, pria itu tak diduga tersenyum tipis. Begitu tipis sekali sampai tak ada yang menyadari jika dia tersenyum karena ulah lucu wanita di depannya ini.
Entah kenapa menurutnya wanita yang baru dua kali ia temui ini, begitu unik dan baru baru. Biasanya wanita yang selalu bertemu dengannya cari perhatian atau mengejar dirinya. Namun, tidak dengan Mela. Wanita itu begitu berbeda dengan wanita yang lain dan membuat Fort merasa sesuatu yang tak dapat diartikan dari dirinya sendiri.
Wajah imut itu membuat Aufa tak jadi marah. Dia sebenarnya kesal pada sahabatnya yang selalu jahil dengannya. Namun, kembali lagi. Aufa menyayangi Mela. Dia tak bisa memilih siapapun. Sampai akhirnya untuk marah di hadapan orang lain pun ia tak bisa melakukannya.
"Iya iya."
"Iya apa?" Tanya Mela dengan iseng.
"Ya pokoknya iya!" Kata Aufa dengan wajahnya yang marah. "Kamu sekali lagi bikin aku kesel. Aku usir!"
Mela tertawa. Namun, dia segera meletakkan kedua tangannya di depan dada dan menunduk sedikit.
"Maafkan hamba, Nyonya. Rakyatmu ini tak akan jahil lagi!"
"Aku pegang ucapanmu yah!"
"Ayo kita masuk. Kita makan di restoran ini aja oke!"
Mela dan Aufa menatap ke depan. Menatap ke arah tulisan yang tersedia disana.
"Ramen?" Kata Aufa dan Mela bersamaan.
Dari belakang Abraham dan Fort lekas berjalan lebih dulu.
__ADS_1
"Kau dari mana?" Tanya Abraham menatap pria yang berjalan di sampingnya itu. "Aku bilang cepat datang. Malah pakai telat lagi!"
Fort tertawa. Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Aku masih mandi, masih siap-siap, Gila. Lo kira gue mau asal-asalan datang di depan wanita pujaan?"
Abraham memutar matanya malas. Dia benar-benar merasa malas dengan ucapan dan gombalan sahabatnya itu.
"Kenapa Fort diajak juga, Fa?" Bisik Mela pada Aufa.
Keduanya melirik ke arah Abraham dan Fort yang berjalan ke arah meraka.
"Aku gak tau. Mungkin mereka akan membahas pekerjaan setelah ini!" Kata Aufa meyakinkan.
Akhirnya setelah Abraham dan Fort datang. Abra lekas duduk di samping istrinya. Aufa bergeser semakin pinggir dan membuat Abraham duduk dengan tenang.
Sedangkan Mela, perempuan itu tak berniat bergeser. Dia malah semakin duduk di ujung agar tak ada yang duduk di bangkunya.
"Geser, Mel!"
"Emang ada orang yah?" Kata Mela sambil menatap sekeliling. "Gak ada orang. Aku lanjut main HP aja!"
Mela memang sengaja menjaga dan menggoda sahabatnya. Dia tahu jika apa yang ia lakukan pasti diketahui oleh sahabatnya itu.
"Mela!"
"Siapa yah?" Kata Mela masih kekeh. "Orangnya kemana sih? Masak iya suaranya aja."
Tiba-tiba tanpa diduga.
Cup.
Mata Mela membolak. Bahkan wanita itu sampai terperanjat kaget dan bergeser membuat Fort bisa duduk dengan tenang disana.
"Beres kan? Cium dikit langsung geser!"
"Awas kau yah! Kau benar-benar!" Sungut Mela dengan mengepalkan kedua tangannya.
Hal itu tentu membuat Mela yang dicium langsung mendelikkan matanya kesal. Bahkan dengan sengaja ia meremas lengan sahabatnya tapi Aufa tak paham akan arti kodenya itu.
"Boleh duduk sini kan yah? " Sahut Fort dengan wajahnya yang semakin membuat Mela lemas.
"Kamu gak usah pamit, udah bisa duduk kan! " Sungut Mela dengan ketus.
~Bersambung
__ADS_1