
...Aku tak pernah malu untuk mengakui perasaanku sekarang. Aku memang mencintai suamiku. Abraham Barraq Alkahfi, montir tampan dan seksi yang mampu memikat hatiku....
...~Aufa Falisha...
...****************...
Mereka benar-benar menikmati masa seperti pengantin baru. Keduanya tak bisa dipisahkan. Bahkan Aufa yang hanya ke kampus pun, selalu diantar oleh Abraham sendiri.
Semenjak penyatuan mereka. Aufa mulai melupakan rasa malu dan gengsinya. Ya dia minta diantar oleh Abraham sendiri menggunakan motor.
Dia selalu merasa senang dan bahagia. Entah kenapa di antar oleh Abraham membuat dirinya selalu merasa senang dan bahagia. Membuat jiwa malasnya yang biasa ke kampus hilang diterpa angin mulai bersemangat.
Seakan Aufa benar-benar ingin mengatakan pada dunia. Ya pada dunia bahwa dia sudah menikah. Dia sudah menikah dengan seorang pria tampan dan seksi yang saat ini tengah dia peluk dengan begitu eratnya.
Ya kali ini, seperti biasa Abraham mengantar Aufa ke kampus menggunakan sepeda motor maticnya. Bibir keduanya tersenyum sepanjang perjalanan. Bahkan tangan pengantin ini saling menggenggam satu dengan yang lain dan membuat Abraham menyetir dengan satu tangan.
Perlahan Abraham membelokkan setir motornya memasuki area kampus. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Kali ini, untuk pertama kali Aufa masuk siang. Kemarin-kemarin dia masuk pagi dan membuat beberapa orang tak melihat kedatangannya dengan Abraham.
Namun, kali ini. Semua mata tertuju pada sebuah sepeda motor yang mulai berhenti di depan sebuah gedung. Aufa turun dengan wajah bahagia. Bibirnya melengkung ke atas seakan dirinya benar-benar tak menganggap siapapun yang ada disana.
"Dijemput jam berapa, hmm?" Tanya Abraham pelan.
Dia membantu merapikan rambut Aufa. Dia mengusap rambut itu ke belakang dengan pelan.
"Jam 2 siang," Kata Aufa dengan tersenyum.
Abraham mengacungkan jempolnya. "Baiklah, Ibu Ratu. Jam setengah dua, hamba sudah ada disini."
Aufa tertawa. Tak lupa dia melambaikan tangannya ke arah Abraham. Saat suaminya itu mulai pergi meninggalkannya.
"Hati-hati ya!" Pakik Aufa tanpa menyadari sekitar.
Ya dia tak melihat sejak tadi ada Mela yang melihat semuanya. Melihat apa yang dirinya lakukan dengan Abraham.
"Apalagi yang kamu sembunyikan dariku, Aufa!" Kata Mela mengejutkan Aufa yang tengah berbunga-bunga.
Perempuan itu menoleh. Dia langsung menatap sahabatnya, Mela berdiri di sampingnya. Perempuan yang dekat dengannya itu tengah menyatukan tangannya di depan dada. Perempuan dengan celana panjang dan kemeja itu menaikkan salah satu alisnya menatap Aufa.
Seakan tengah meminta satu penjelasan. Meminta penjelasan tentang apa yang dilihat tadi.
"Mela!"
"Ya ini aku," Sahut Mela dengan cepat.
__ADS_1
Aufa terlihat gugup. Bahkan dirinya terlihat ragu. Katanya menatap sekitar.
"Sedang melihat apa kau? Baru nyadar kalau banyak orang disini?"
Aufa kembali menatap Mela. Wanita itu tersenyum dengan terpaksa lalu menarik tangan Mela dan membawanya pergi dari sana.
"Hey. Mau kemana? Jawab pertanyaanku dulu, Aufa!" Pekik Mela dengan kesal.
"Diamlah atau aku tak akan menceritakan apapun!" Ancam Aufa dan menarik tangan sahabatnya ke bagian belakang gedung.
Bagian favorit keduanya. Jika ingin bolos, atau ingin mencari udara segar. Maka tempat ini menjadi salah satu tempat favorit mereka.
"Sekarang katakan padaku! Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa pria tadi dan apa hubungannya denganmu?" Tanya Mela berurutan.
Wanita itu benar-benar penasaran. Dia sudah sangat ingin tahu. Ingin tahu siapa sebenarnya pria tadi. Pria yang tak pernah ia temui dan dilihatnya selama ini.
"Dia… " Kata Aufa dengan ragu.
Perempuan itu menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia benar-benar bingung harus mengatakan bagaimana. Namun, otaknya tiba-tiba berputar. Bukankah hubungannya dengan Abraham sah.
Sampai kapanpun mereka akan selalu bersama. Pernikahan mereka akan terus berjalan. Mau disembunyikan bagaimanapun, lambat laun pasti akan tersebar luas.
"Dia adalah suamiku, Mel," Jawab Aufa dengan menunduk.
"What!" Pekik Mela dengan terkejut.
"Kau bercanda yah?"
Kepala Aufa menggeleng. Dia terlihat menarik nafasnya begitu dalam sebelum menceritakan semuanya.
Ya tak ada hal yang ditutupi. Bagaimana pernikahan itu terjadi di antara dirinya dan Abraham. Bagaimana pernikahan itu berjalan sampai berada di titik ini.
"Awalnya aku tak percaya tentang cinta, Mel. Aku tak tahu bahwa aku sudah mencintainya," Kata Aufa melanjutkan ceritanya. "Tapi lambat laun, setelah dia pergi. Aku sering membayangkan kebersamaan kita. Kebersamaan tanpa rasa akur. Bahkan wajahnya terus berputar di kepalaku."
Aufa menceritakan itu dengan serius. Bahkan mata dan tangannya bergerak menatap Mela yang duduk di sampingnya.
"Aku benar-benar menunggunya untuk menjemputku. Sampai ya semuanya terjadi. Semi nekat mendekatiku dan ya suamiku marah," Kata Aufa dengan jujur.
"Gila! Ini benar-benar gila! Ceritamu sudah seperti cerita novel online yang kubaca Aufa. Cerita seperti perjodohan dan nikah paksa," Ujar Mela dengan terpanah.
Aufa menggeleng. Dia menumpuk kepala Mela dan membuat wanita itu mengaduh.
"KDRT kau!"
__ADS_1
Aufa memutar matanya malas. "Gitu aja KDRT. Aku hanya ingin membuat kepalamu berpikir jernih!"
Mela terkekeh geli. Sebenarnya dia hanya berniat menggoda.
"Lanjutkan!"
"Ya akhirnya sekarang aku saling mencintai dengannya. Kita sudah jujur tentang perasaan kita satu dengan yang lain."
"Siapa nama suamimu, Aufa?"
"Abraham. Namanya Abraham," Kata Aufa dengan jelas.
"Akhh. Abraham?" Ulang Mela dengan mengangguk. "Wajahnya sangat tampan. Bahkan Semi jauh darinya. Awww!"
"Jangan membayangkan suamiku!" Seru Aufa posesif.
Mela memutar matanya malas. "Aku hanya membayangkan wajahnya saja. Bukan membayangkan hal kotor."
"Sama aja!" Seru Aufa dengan mendengus kesal. "Hanya aku yang boleh membayangkan dia. Siapapun tak boleh!"
Mela terkekeh geli. Jujur melihat sifat dan sikap sahabatnya kali ini. Membuat Mela percaya. Percaya jika sahabatnya itu benar-benar sudah jatuh cinta. Sudah jatuh terjengkang dalam pesona seorang Abraham.
"Baiklah baiklah," Balas Mela dengan memutar matanya malas. "Ayo kita masuk. Jangan alasan kau malas yah?"
Aufa mengangguk. "Aku juga sudah berjanji pada Abraham agar rajin kuliah. Aku tak akan bolos lagi kecuali terpaksa…"
Mela terkekeh. Dia sangat tahu bagaimana sahabatnya ini.
"Baiklah, Nyonya Abraham," Ujar Mela pura-pura menunduk dengan pelan. "Ayo masuk. Jika kau membolos, aku akan merebut suamimu."
Mela menggertak dan berhasil. Hal itu membuat Aufa menghentikan langkah kakinya dan berbalik.
"Kalau bisa, ambillah! Tapi jika dia tak mau, lepaskan karena itu adalah jodohku!"
"Awww. Aufa si pemberani sekarang. Si paling cinta, si paling bucin dan… "
"Si paling Abraham!" Sela Aufa dengan menepuk dadanya. "Ya aku sudah bucin dengannya dan aku tak akan melepaskannya, Mel."
Aufa mengatakan dengan serius. Entah kenapa ucapan itu membuat Mela tersenyum bangga. Wanita itu menepuk pundak Aufa dengan pelan.
"Semoga pernikahan kalian langgeng dan ya, jangan lupa umumkan status barumu ini, Aufa! Kau harus ingat, banyak pria yang menginginkanmu."
Aufa menghela nafas berat. Yang dikatakan sahabatnya memang benar.
__ADS_1
"Aku akan memproklamasikan diriku dengan status baru. Aku akan membuat mereka sadar, bahwa aku sudah memiliki seseorang yang akan bersamaku, menjagaku dan merawatku dengan baik."
~Bersambung