
Percayalah waktu adalah sebuah masa yang utama untuk menyembuhkan segala luka.
~JBlack
***
Tanpa sadar waktu terus berputar. Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan.
Segala hal yang terjadi kemarin memang menjadi sebuah pembelajaran besar dalam hidup Abraham, Aufa dan Bia. Kehidupan Bia yang berubah dari kejadian itu.
Kehidupan yang membuatnya telah menjadi sosok Bia yang baru. Dia bahkan mau dibawa ke psikiater untuk kesehatan dan kebaikan dirinya. Meski hal itu berjalan lancar tapi ternyata tetap saja semua itu tak mampu kembali ke sedia kala.
Semuanya menjadi hal baru. Bia dengan versi baru. Senyumannya berkurang, cerianya menghilang. Sinar mata yang bersinar cerah kini meredup menjadi sayu.
Namun, Abraham dan Aufa tetap yakin jika keduanya akan terus menemani Bia. Membuat gadis itu melewati semuanya dengan mereka. Tanpa merasa sendirian atau terhina.
Sembari menemani kesembuhan trauma Bia. Tentu perut Aufa makin hari makin membuncit. Detik detik proses kelahiran itu sudah di depan mata.
Baik Aufa maupun Abraham sudah tak sabar. Keduanya sama-sama menunggu lahirnya buah hati pertama mereka. Menunggu momen indah yang terjadi sekali dalam seumur hidup.
Tak bisa diulangi karena setiap proses hamil dan kelahiran akan berbeda setiap anak.
Momen yang sangat dinanti keduanya tentu membuat Aufa dan Abraham telah menyiapkan persiapan baju dan perlengkapan bayi dengan lengkap.
"Bi," Panggil Aufa dengan berjalan pelan ke arah dapur.
__ADS_1
Disana, Bia tengah sibuk dengan peralatan dapur yang membuat Aufa memilih kemari untuk membantu.
"Iya, Kak. Kenapa?" Jawab Bia dengan berbalik.
"Apa yang bisa dibantu oleh Kakak, Bi?" Tanya Aufa pada adik iparnya.
Bia yang saat itu tengah menyiapkan makan malam tentu menggeleng.
"Kakak duduk diam di sana. Temenin Bia saja oke?"
Aufa mengangguk. Dia perlahan duduk lalu menyangga kepalanya dengan kedua tangan.
"Kamu beneran gak mau dibantu?" Tanya Aufa memancing.
Aufa tersenyum. Selama ada Bia, jujur dirinya tak pernah memasak. Gadis itu selalu bilang jika dapur adalah miliknya.
Bia selalu memasak setiap hari. Selama mereka bertiga telah pindah rumah ke rumah besar Abraham, Bia mulai membuat dirinya senyaman mungkin di rumah ini.
"Kakak makin jadi ratu di rumah ini. Kamu gak mau dibantu masak. Terus beresin kamar, abangmu gak mau dibantu."
Bia tersenyum begitu kecil. Senyuman yang bisa dia berikan hanyalah ini. Dia mendekat lalu memegang tangan kakak iparnya.
"Abang melakukan itu karena takut Kak Aufa capek," Kata Bia menjelaskan.
"Iya. Tapi Kakak merasa gagal… "
__ADS_1
"Kakak gak gagal. Kakak udah jadi istri yang baik selama ini," Sela Bia yang membuat Aufa tersenyum.
Dia tahu adik iparnya itu lebih membutuhkan perhatian. Namun, apapun keadaannya Bia selalu melihat keadaan orang sekitarnya.
"Bentar ya. Bia siapin ini dulu," Ucap Bia dengan melanjutkan pekerjaannya.
Aufa melihat semua yang dilakukan oleh adik iparnya. Hingga beberapa menit. Bia datang kembali dan membawakan sepiring kecil saald buah.
"Ini," Kata Bia dengan tersenyum kecil. "Kalau Kakak mau mencicipi."
Aufa terkekeh. Dia tahu adik iparnya menggodanya.
"Salad buah Bia kesukaan Kakak," Kata Aufa dengan bahagia.
Bia mengangguk. Perempuan itu kembali melanjutkan pekerjaannya yang hampir selesai. Sedangkan Aufa, dia mulai mengunyah salad buatan adik iparnya yang begitu enak.
Namun, entah kenapa mulutnya yang mengunyah, bersamaan dengan perutnya yang terasa tak nyaman. Sampai akhirnya Aufa merasa sesuatu yang basah mengalir dari kakinya dan membuatnya menunduk.
"Ketuban?" Ucap Aufa dengan terkejut yang masih bisa didengar oleh Bia.
Bia tentu lekas mendekat. Dia keluar dari dapur dan mendekati kakak iparnya.
"Kakak mau melahirkan," Kata Bia dengan serius. "Tunggu disini. Aku akan panggil Bang Abra."
~Bersambung
__ADS_1