
...Percayalah apa yang terjadi di antara kita berdua. Aku hanya ingin dekat denganmu, mengenalmu lebih dalam dan mulai membuat hatimu agar terbuka untukku....
...~Fort...
...****************...
"Oke. Ayo!"
Perlahan dua wanita itu mulai beranjak berdiri. Sedangkan Abraham lekas menatap ke arah Fort yang sedang mencoba menetralkan dirinya.
"Santai aja. Dia sahabat istriku. Aku bakal hantui kamu kamu buat deketin Mel!" kata Abraham yang membuat Fort mendongak menatap sahabatnya tak percaya.
"Kamu sahabatku yang baik, Fort. Aku tau kamu berubah beberapa hari ini. Aku berharap semoga hati Mela bisa kamu dapatkan dan semuanya berjalan dengan baik. Aku juga akan mengatakan pada istriku agar dia merestuimu untuk mengejar cinta sahabatnya."
***
Jujur perkataan Abraham seakan mengganggu pikiran Fort. Pria itu hanya diam dan berjalan di samping sahabatnya mengikuti dua wanita yang berjalan lebih dulu di depan mereka.
Pikirannya seakan terusik oleh ucapan Abraham. Fort menjadi berpikir bahwa dia baru saja diberikan restu oleh sahabatnya. Ya, dia diberikan restu untuk mendekati sahabat istrinya itu.
Mendekati wanita yang baru beberapa kali ia temui. Wanita yang memiliki kepribadian berbeda dari wanita yang biasa mengejarnya. Mengejar cintanya dan mampu membuatnya dia jatuh cinta.
Dia tak pernah jatuh cinta sebesar ini. Pria itu tak pernah jatuh cinta pada wanita yang selalu ia goda dan ia tebar pesona.
Mela lebih bebas mengapresiasikan dirinya. Mela lebih aktif menyatakan apa yang sedang dia rasakan. Hal itulah yang membuat Fort bisa melihat bagaimana perasaan wanita itu dengan bebas. Bagaimana Mela yang melakukan semuanya tanpa bebas. Tanpa keterdiaman. Apa yang ia suka maka ia lakukan. Apa yang tidak ia suka maka dia akan diam.
Fort menatap punggung Mela dengan lekat. Punggung wanita yang membuatnya tertarik secara instan. Jujur dulu dia pernah berjanji pada dirinya tak akan jatuh cinta sebelum menemukan tambatan hati yang baik untuknya.
Fort merasa untuk dijadikan kekasih sekaligus istri bukanlah wanita gampangan. Dia harus mencari wanita baik-baik untuk bisa dibawa ke rumahnya. Dikenalkan pada keluarganya.
Ketika bersama Mela. Fort merasa ada sesuatu dari diri Mela yang membuatnya penasaran dan tertarik untuk mendekatinya. Namun, Fort hanya takut. Takut jika hatinya hanya mencari pelampiasan. Takut jika dia mendekat Mela hanya karena penasaran.
Dia tak mau menyakiti hati wanita yang tak pernah berpacaran. Dia tak mau menjadi pria jahat yang menyenangkan hatinya dengan menyakiti hati wanita lain.
__ADS_1
"Tak perlu dipikirkan, Fort!" kata Abraham menepuk pundak Fort yang membuat pria itu terkejut. "Pasrahkan saja semuanya pada takdir Tuhan. Kemana hatimu membawamu. Maka percayalah itu yang terbaik untukmu."
Pengalaman yang besar adalah hal yang membuat Abraham bisa sedewasa sekarang. Pengalamannya yang buruk di masa lalu, membuatnya tahu bagaimana menyikapi segala hal sekarang. Bagaimana dia bisa lebih peka oleh orang sekitarnya dan bisa menjadi pria yang lebih bisa menurunkan egonya sendiri.
Pengalaman tentang pertemuannya dengan Aufa. Jalan pernikahan yang tak pernah ia duga membuat Abraham yakin bahwa takdir itu tak akan ada yang tahu kapan datang pada setiap manusia.
Pernikahan yang ia anggap awalnya hanya sebagai balas tebus dia merusak mobil ternyata bisa membuatnya mendapatkan wanita yang mencintai dia. Membalas cintanya bahkan sekarang mereka akan dikaruniai anak di antara keduanya.
"Ayo kita main. Aku akan membuatmu dekat dengan Mela sekarang. Istriku bilang kalau mereka berdua sangat suka bermain Timezone, ini waktumu mengatakan bahwa kau adalah pria friendable dan pacarable yang cocok diajak bermain bersama," Kata Abraham yang membuat pria itu mulai menarik nafasnya begitu dalam dan dihembuskan.
Fort mengangguk. Apa yang dikatakan oleh Abraham memang benar. Dia yakin hatinya tak main-main. Dia bukan hanya penasaran pada Mela. Dia bukan hanya ingin tahu dan menaklukkan hatinya.
Perasaan Fort benar-benar yakin berubah. Dia benar-benar ingin mengenal Mela dengan baik, ingin lebih dekat dan juga ingin meraih hatinya
"Ayo! Aku akan mendekati sahabat istrimu itu dari sekarang!"
***
Abraham segera membayar uang untuk mengisi kartu bermain yang akan dipakai oleh mereka berempat. Entah umur keempatnya tak membuat mereka sadar bahwa ini adalah permainan anak kecil. Aufa, Mela, Fort dan Abraham sangat antusias saat menerima kartu itu yang sudah terisi saldo yang mampu membuat keempatnya bermain dengan bebas.
"Aku…"
"Gak perlu bayar, Fort. Biarkan aku yang mentraktirmu hari ini!" kata Abraham yang tak mau membuat Fort tak enak hati kepadanya. "Lain kali, kau yang mentraktirku. Oke?"
"Oke!"
Akhirnya mereka kini mulai berjalan bersama. Aufa berjalan tepat di samping Abraham. Wanita itu tak lupa memegang tangan suaminya kemanapun dia melihatnya.
"Kau main bermain apa, Fa?" Tanya Mela yang sudah merasa tak sabar.
"Aku mau itu!" tunjuk Aufa pada permainan tangkap boneka pada Fort dan Mela.
Aufa melirik ke arah sahabatnya. Dia tersenyum dan menggenggam Mela dengan erat.
__ADS_1
"Aku tau kau ingin bermain denganku tapi aku sedang hamil. Aku tak mungkin bergerak beban bukan?" Tanya Aufa dengan pelan agar sahabatnya mengerti kondisinya.
"Kalian mainlah sepuasnya. Aku akan bermain dengan suamiku permainan yang bisa aku mainkan. Oke!"
Abraham yang membeli dua kartu tentu membuatnya lebih mudah berpencar dengan sahabatnya itu. Dia mengedipkan matanya nakal ke arah Fort sebagai tanda bahwa ini adalah hal baik untuknya.
"Ini dihabisin boleh?" tanya Mela mengangkat kartu yang ada di tangannya.
"Boleh!" balas Abraham lalu beranjak pergi menuju permainan yang diinginkan istrinya itu.
Akhirnya Abraham dan Aufa itu mulai berjalan bersama. Sedangkan Mela dan Fort berhenti di permainan yang bisa membuatnya berjoget ke kanan dan ke kiri.
"Main ini. Gimana, Fort?" Kata Mela yang mulai gelap mata.
Percayalah Mela dan Aufa sangat suka permainan di dalam mall. Keduanya seakan mampu lupa siapa mereka.
"Boleh. Siapa takut!" Jawab Fort yang tak mau kalah.
Mela mengangguk. Dia mulai melepaskan sepatunya. Fort juga mulai melepaskan sepatu yang ia pakai agar lebih leluasa.
Mela mulai bersiap. Begitupun dengan Fort. Sepasang pria dan wanita itu saling bertos ria saat permainan hendak dimulai.
"Yang kalah harus traktir yang menang. Oke?"
"Oke!"
Akhirnya Fort dan Mela yang umurnya hampir sama itu mulai bergerak. Mereka bergerak dengan bebas bahkan diiringi dengan canda tawa yang tanpa sadar membuat bibir Fort iku menerbitkan sebuah senyuman. Senyuman tipis yang entah kenapa dia tunjukkan untuk kedekatan dirinya dan Mela.
Entah kenapa perasaan Fort menjadi hangat. Dia tak percaya hanya menemani Mela bermain ini mampu membuat hubungan keduanya semakin dekat.
Tanpa sadar, Fort sejak tadi melihat sosok Mela di matanya. Bagaimana wanita itu yang bergerak dengan bebas. Bergerak sesuai dengan acuan yang telah layar permainan itu berikan.
Tanpa sadar perhatian dan tatapan yang sejam tadi tertuju pada Mela membuat Fort menikmati pemandangan ini. Membuatnya lupa bahwa perempuan itu telah bermain sendiri dengan bebas dan bahagia.
__ADS_1
"Fort!" Panggil Mela yang membuat pria itu terpekik terkejut.
~Bersambung