
Mungkin sebagian orang merasa takut dengan kata melahirkan. Namun, percayalah melahirkan adalah hal paling indah untuk melahirkan seorang buah hati cinta kita dengan usaha yang besar.
~JBlack
***
"Ada apa, Bi?" Tanya Abraham yang baru saja keluar dari dalam kamar.
Abraham melihat nafas adiknya tak beraturan. Bia menunjukkan area bawah yang membuat Abraham semakin bingung.
"Kenapa?" Tanya Abraham yang mulai ikut panik.
"Kak Aufa, Bang. Kak Aufa mau melahirkan!" Kata Bia dalam sekali berucap dan membuat Abraham tentu merasa terkejut.
Jantung pria itu seakan berhenti berdetak. Namun, hal itu tak membuat dirinya linglung. Abraham harus tetap sadar. Ya, dirinya mulai berjalan ke arah tangga. Berlari dengan cepat tapi tetap hati-hati dan mulai mencari keberadaan istrinya yang ada di dapur.
"Sayang," Panggil Aufa dengan pelan.
Dahi ibu hamil itu berkerut yang menandakan Aufa tengah menahan sakit. Aufa benar-benar merasa perutnya mulas seperti menstruasi.
Dia juga perlahan turun dari kursi dan berpegangan agar tak jatuh. Abraham tentu dengan sigap ikut membantu istrinya.
__ADS_1
"Ayo, Sayang. Bisa jalan?" Tanya Abraham berusaha tenang.
Dia tak boleh panik. Jika dirinya panik, maka istrinya akan lebih panik. Abraham masih ingat ajaran dokter yang menangani istrinya.
Dia tak boleh gegabah. Dia tak boleh menunjukkan kepanikan saat istrinya kesakitan karena hal itu tentu bisa mempengaruhi pikiran ibu hamil.
"Bisa," Jawab Aufa dengan mengatur nafasnya saat rasa sakit itu hilang.
"Bia!"
"Iya," Sahut Bia yang sudah berdiri di dekat kakak dan kakak iparnya.
"Tolong ambilkan tas yang ada di pojok kamar kakak yah. Itu peralatan Aufa yang sudah kami siapkan!"
Abraham menuntun istrinya. Dia benar-benar melakukan semuanya dengan penuh perhatian. Dirinya juga mendudukkan istrinya di kursi tengah agar bisa bersama Bia nanti disana.
"Sayang, sakitnya datang lagi!" Kata Aufa dengan mencengkram lengan Abraham saat rasa sakit itu datang lagi.
Abraham mengangguk. Dia mengusap kepala istrinya sambil tersenyum.
"Kamu kuat, Sayang. Mama Aufa pasti bisa!" Kata Abraham yang memberikan kata kata semangat dan membuat Aufa mengangguk.
__ADS_1
Akhirnya Bia datang. Dia lekas meletakkan tas itu di kursi samping kemudi lalu duduk di belakang. Dia duduk tepat di samping Aufa dan Abraham lekas duduk di kursi kemudi.
"Hati-hati meny, Bang. Boleh kenceng tapi tetep harus hati-hati," Kata Bia memperingati pada abangnya.
Abraham mengangguk. Ya dia mang dikejar waktu. Apalagi mendengar keluhan istrinya membuat rasa kasihan dan panik itu hadir dalam benaknya. Namun, kembali lagi.
Abraham harus ingat. Dia menyetir. Dia membawa istri, adik dan calon anaknya disini.
Abraham tentu fokus di depan. Namun, sesekali dia melihat kondisi istrinya dari kaca yang ada di atasnya. Abraham menghela nafas pelan dan menenangkan perasaannya yang tak karuan. Bagaimana dirinya bisa tenang, sedangkan istrinya tengah mengerang kesakitan.
Melihat bagaimana wajah Aufa yang berkeringat hebat menahan sakit diperutnya membuatnya ingin sekali menyetir dengan cepat. Namun, dia mengingat nasehat adiknya.
Dia harus cepat tapi hati-hati. Bagaimanapun keselamatan mereka di dalam mobil ada di kedua tangannya. Hal itu tentu membuat Abraham melakukan tanggung jawab ini dengan baik.
Dia menyetir dengan cepat ketika kendaraan mulai lenggang. Namun, dia mulai berhati-hati saat kendaraan mulai padat.
"Sakit, Bi," Lirih Aufa dengan meneteskan air mata.
Bia mengangguk mengerti. Dia mengusap peluh yang membasahi dahi kakak iparnya dengan penuh perhatian.
"Iya, Kak. Sakit tapi sebentar lagi Kak Aufa akan bertemu dengannya," Ujar Bia dengan tersenyum yang membuat Aufa tentu kembali bersemangat.
__ADS_1
~Bersambung