
...Terkadang sifat obsesi akan menjadi kambing hitam dalam hidupmu dan kehancuranmu sendiri....
...~Abraham Barraq Alkahfi...
...****************...
Abraham benar-benar seprti kehilangan dirinya. Dia selalu ingin berada di dalam milik istrinya itu. Ya, pria itu meminta jatahnya lagi pada Aufa. Dia benar-benar memberikan waktu istirahat untuk istrinya sebentar lalu memasukinya lagi.
Entah ini sudah ronde ke berapa. Namun, Abraham belum mengeluarkan apapun lagi. Pria itu bahkan menggeram dan memejamkan matanya saat dia merasakan miliknya di cengkraman genit oleh inti tubuh istrinya itu.
Abraham benar-benar melakukan hubungan suami istri ini dengan lembut. Tak ada kata paksaan atau tekanan. Ya setiap kali Abraham ingin memasukinya. Dia akan meminta pada Aufa dan izin apakah istrinya itu mau atau tidak.
Aufa mengusap kepala yang berkeringat itu. Dia tak tahu apa yang tengah dipikirkan suaminya. Namun, yang pasti, dia pasrah dengan apa yang dilakukan suaminya kepadanya.
Ingatkan! Aufa hanya melakukan atas dasar batasan dirinya. Ya, dia akan melakukan ketika dia merasa siap dan tak lelah. Jika tidak, dia tak akan mau.
Mungkin ini juga termasuk karena mood ibu hamil atau bisa jadi bawaan berbadan dua membuatnya selalu ingin ada di dekat Abraham.
"Menarilah di atasku, Sayang! " Pinta Abraham dengan pelan.
Aufa tentu tak menolak. Dia melingkarkan kakinya ke tubuh sang suami dan mulai bergerak dengan pelan. Perlahan tangan Aufa memegang dada suaminya itu dan akhirnya menggerakkan tubuhnya ke atas dan ke bawah.
Bibir keduanya sama-sama mengeluarkan desah indah. Gerakan yang diberikan oleh Aufa begitu candu dan membuat bibirnya tak lepas meneriakkan nama istrinya itu.
"Aufa! " Lirih Abraham saat milik istrinya kembali berkedut dan tubuh Aufa menegang.
"Aku keluar lagi, Kak! " Kata Aufa dengan nafas yang berat.
Ahh Abraham lekas membalikkan keadaan. Dia tak mau membuat istrinya semakin kelelahan. Dirinya hari mengejar puncak kenikmatan miliknya juga agar istrinya itu bisa istirahat.
Dengan pelan dia membalikkan tubuh Aufa. Membuat situasi yang berbeda dan mengambil alih. Dia lekas menggerakkan miliknya dan membiarkan istrinya itu menerima semua perlakuan yang dia lakukan pada inti tubuhnya.
Abraham benar-benar melakukannya dengan cepat. Bahkan mata pria itu sampai terpejam dengan nafas menderu. Sesuatu mulai ingin meledak di dirinya dan membuatnya tahu bahwa dia hampir sampai di puncak kenikmatan.
"Sayang! " Pekik Abraham bersamaan dengan miliknya yang menyemburkan calon anak-anaknya di masa depan.
Nafas keduanya beradu. Bahkan keduanya saling berlomba menghirup oksigen yang ada di sekitar mereka. Seakan keduanya saling berlomba dan menarik nafasnya begitu dalam untuk menenangkan jantungnya yang masih berdegup kencang.
__ADS_1
Abraham pelan-pelan menyingkirkan tubuhnya. Namun, dia tak melepaskan inti tubuhnya sedikitpun. Dirinya benar-benar melakukan semuanya dengan profesional sampai gerakannya berhasil.
Gerakan yang membuat inti tubuh mereka saling bertemu. Saling menikmati keindahan setelah puncak kenikmatan itu.
"Terima kasih, Sayang, " Bisik Abraham pelan sambil memeluk istrinya dari belakang. "Maafkan aku telah membuatmu kelelahan."
Tangan Abraham perlahan terangkat. Lalu dengan pelan dia mengusap perut Aufa begitu lembut.
Perasaannya begitu menghangat dan dia hampir tak percaya jika disana sudah ada calon buah hati mereka. Calon penerus keduanya yang akan mewakili kemiripan keduanya.
"Apa dia tak sakit, Sayang? Apa dia baik-baik saja?"
Aufa berbalik. Dia tersenyum lalu mengusap kepala Abraham dengan begitu pelan. Dia merapikan rambut yang berantakan dan sedikit lepek itu karena keringat.
"Dia baik-baik saja, Sayang. Ayahnya melakukan dengan sangat baik bahkan begitu lembut."
"Kamu serius? Aku takut menyakitinya. Bahkan… " Abraham menjeda ucapannya.
Dia menatap ke arah jam dinding untuk melihat waktu berapakah sekarang.
Abraham terlihat terkejut. Dia bahkan hampir terduduk jika bukan karena Aufa menahan lengannya dan membuat pria itu masih terbaring dengan nyaman di sampingnya.
"Ini bukan kesalahan kamu, Sayang. Kita melakukan atas persetujuan aku. Aku juga mau bersamamu. Jadi jangan merasa bersalah," Kata Aufa dengan pelan dan mengusap dada bidang Abraham yang berkeringat.
"Kamu pasti lapar kan? Dia pasti merajuk di dalam sana?" Kata Abraham mengusap perut istrinya lagi tanpa bosan.
"Aku belum lapar. Entah kenapa mencium bau keringatmu membuatku merasa tenang," Kata Aufa dengan mencium lengan Abraham yang basah akan keringat.
Abraham tersenyum. Ah entahlah apakah doa harus bersyukur dengan sikap istrinya yang seperti ini karena hamil atau dia takut karena istrinya benar-benar menempel padanya.
"Semoga Abraham junior segera baik-baik saja disini, Sayang. Kalian harus sehat selalu sampai anak kita lahir di dunia," Ujar Abraham dengan serius.
"Aamiin, " Sahut Aufa dengan harapan dan doa yang sama.
Tangan ibu satu anak itu terangkat. Aufa mengusap rahang tegas suaminya yang membuat mata bibir pria itu tersenyum.
Keduanya memiliki harapan yang sama. Keduanya memiliki cinta yang sama besar. Baik Aufa maupun Abraham. Mereka sama-sama berjanji akan terus bersama dengan ujian apapun.
__ADS_1
Seakan semua yang terjadi di awal pernikahan mereka tak mampu mengusik masa sekarang. Seakan keduanya sama-sama hampir lupa jika pernikahan mereka didasari terpaksa dan cinta hadir di antara keduanya dan membuat mereka bisa ada di titik ini.
"Ayo keluar. Aku memiliki hadiah untukmu."
***
Di tempat lain.
Seorang perempuan dengan wajahnya yang masih terlihat cantik meski usianya tak lagi muda mulai berjalan memasuki sebuah gedung tinggi.
Gedung dimana tempat suaminys bekerja. Jujur sudah lama sekali dia tak datang. Sudah lama sekali dia tak menemui suaminya ketika bekerja.
"Apa kabar, Nyonya? Anda sudah lama sekali tak datang?" Tanya seorang karyawan yang baru saja keluar dari lift.
Dia merupakan salah satu orang penting perusahaan dan membuat wanita itu mengenalnya juga.
"Aku baik. Ya aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku sampai tak pernah melihat suamiku di kantor," Kata wanita yang merupakan Mama Semi. "Aku duluan yah. Aku membawa makanan untuk suamiku. Aku takut makanan ini dingin!"
"Baik, Nyonya. Silahkan!"
Akhirnya Mama Semi masuk ke dalam lift. Dia melihat bungkusan yang dia bawa di tangannya. Senyumannya begitu cerah dan dia sangat merindukan suaminua itu.
Sudah beberapa hari dia tak bertemu suaminya. Ya, kabar terakhir suaminya mengatakan melakukan perjalanan bisnis dan membuatnya tak bisa pulang.
Ting.
Pintu lift terbuka. Mama Semi berjalan dengan pelan. Dia mulai melangkah mendekati sebuah ruangan yang terlihat sedikit terbuka.
Ya pintu itu terlihat terbuka sedikit dan membuatnya tersenyum. Mama Semi yakin jika suaminya sedang tak sibuk. Mama Semi yakin suaminya pasti sedang santai.
Namun, semakin dekat. Telinga wanita itu mendengar suara aneh. Ah lebih tepatnya dia mendengar suara yang sangat dia tahu suara apa itu.
Tangannya bergetar bahkan langkah kakinya terasa berat. Semakin dekat suara itu semakin terdengar dengan jelas dan membuat air matanya mulai merebak di kedua matanya.
"Apa suamiku selingkuh?" Ucapnya pada dirinya sendiri sebelum dia melangkah dengan cepat ke arah ruangan suaminya.
~Bersambung
__ADS_1