Rahasia Menantu Billionaire

Rahasia Menantu Billionaire
Kesempatan dalam Kesempitan


__ADS_3

...Percayalah aku tak bisa jauh darimu. Jadi jangan memaksaku untuk sendiri karena aku tak akan sanggup....


...~Abraham Barraq Alkahfi...


...****************...


Jarum jam terus berputar. Malam semakin larut. Semua orang semakin jatuh terlelap ke dasar mimpi. Namun, hanya ada satu orang yang terbangun. Matanya masih terbuka lebar sejak tadi.


Dirinya benar-benar tak bisa menahan untuk meledakkan sesuatu di dalam dirinya. Dia sudah mencapai ujung batas dan malam ini harus terselesaikan. Dengan pelan, dia menurunkan kedua kakinya lalu melihat kanan kirinya yang terasa sangat sepi.


"Ternyata aku tak bisa tidur sendiri!" Kata Abraham dengan pelan.


Dia meletakkan kedua tangannya di pinggang dan menghembuskan nafasnya yang berat. Jujur dirinya tak bisa tidur. Ya dia menginginkan Aufa.


Dia merindukan istrinya. Untuk pertama kali mereka tidur berbeda setelah Aufa hamil. Hal yang tak pernah keduanya lakukan selama pernikahan mereka.


"Aku tak mungkin terus begini. Aku akan mengambilnya dari kamar Mela!" Kata Abraham nekat.


Pria itu akhirnya keluar dari dalam kamar. Dia menuruni tangga dengan suara yang sangat pelan. Dia tak mau semua orang tahu jika ada seseorang yang belum tidur dan membuat orang-orang merasa terganggu.


Abraham akhirnya berdiri tepat di depan pintu kamar Aufa. Dia menatap ke arah pintu yang tertutup rapat.


"Semoga gak dikunci. Kalau dikunci aku akan mencari kunci rahasia kamar ini!" Kata Abraham nekat.


Pria itu perlahan memutar knop pintu dan…

__ADS_1


"Syukurlah gak dikunci!" Kata Abraham dengan membuka kamar itu begitu pelan. "Maafkan aku yang gak sopan tapi aku benar-benar tak bisa tidur sendirian."


Kata Abraham berbicara pada dirinya sendiri. Dia lekas masuk ke dalam. Ruangan yang temaram tak mampu membuat Abraham untuk melihat istrinya yang mana.


Bentuk tubuh Aufa yang sudah familiar di matanya. Aroma tubuh istrinya membuat Abraham sudah mengenal betul bagaimana Aufa yang tidur.


"Ini dia!' kata Abraham dengan senyuman lebar.


Pria itu menurunkan sedikit tubuhnya. Dia menyelipkan tangannya di perut istrinya sampai membuat Aufa yang belum tertidur lelap terkejut.


"Si… "


"Ust!" Abraham berbisik.


"Kamu!"


"Aku gak bisa tidur tanpa kamu, Sayang," Kata Abraham merengek pelan.


Dia melirik ke arah samping. Menatap sahabat istrinya yang tertidur dengan lelap.


Aufa menatap sahabatnya juga. Dia tahu sahabatnya itu tidur karena mulut Mela mendengkur.


"Sayang!" Kata Aufa saat tangan suaminya itu nakal.


"Jangan macam-macam. Ada Mela disini!" Ancam Aufa mengingatkan.

__ADS_1


"Aku tak macam-macam, Sayang. Hanya satu macam saja cukup," ucap Abraham di telinga Aufa.


Wanita itu benar-benar menahan nafas. Apalagi ketika dia merasakan sapuan lembut lidah tak bertulang di tengkuk lehernya. Hal ini benar-benar membuat tubuhnya merinding bukan main.


Apalagi bersamaan dengan itu. Aufa bisa merasakan jika tangan suaminya mengusap pahanya lalu perlahan merambat naik ke atas.


Akhh entahlah sudah sejak kapan wajah Abraham ada di lehernya. Menyusup ke sana dan menjilat serta menggigit lehernya begitu gemas.


"Abra," cicit Aufa dengan mata terpejam.


Dia hampir kehilangan nafas. Ya dirinya benar-benar merasa gila. Suaminya ini benar-benar tak tahu jika disamping mereka masih ada Mela.


Bisa-bisanya suaminya menggodanya dan membuatnya tersiksa. Sedangkan Abraham benar-benar bisa membuatnya melayang ke langit ke tujuh. Sentuhannya masih tetap sama. Mampu membuatnya gila dan candu. Hingga saat jari itu menerobos masuk ke sarang madu. Aufa dengan spontan mencengkram tangan suaminya.


Ini benar-benar gila. Ada sahabatnya tertidur tapi jari suaminya sudah begitu nakal. Aufa tak mampu menolak. Apalagi ketika suaminya mulai menggerakkan jarinya keluar masuk hal itu semakin membuatnya tak berdaya.


"Sayang!" Jerit Aufa tertahan saat dia melepaskan segala kenikmatan di tubuhnya.


Ini luar biasa.


Benar-benar pengalaman gila sekaligus liar. Nafasnya terengah-engah dengan keringat membasahi dahinya. Hingga tak lama dia merasakan kecupan lembut di pipinya bersamaan tangan nakal itu kembali memeluk perutnya dengan erat.


"Ayo kita pindah, Sayang. Aku sudah tak tahan untuk memakanmu!"


~Bersambung

__ADS_1


__ADS_2