
...Perlakuan yang dulu pernah aku dapatkan darimu harus kulihat pada orang lain. ...
...~Oneta Athaya...
...****************...
Dia mendekat lalu memegang kedua wajah anak kembar itu. "Kalian sudah besar dan hampir setara sama tinggi Tante."
Aya yang sejak tadi menunduk akhirnya mendongak. Gadis itu mulai mencium tangan Adeeva dan bergantian dengan Thalla.
"Assalamu'alaikum, Tante," Sapa Aya yang terlihat memaksakan senyumannya.
Jujur dia kaku. Dirinya masih absurd dengan kondisi seperti ini. Ditambah ketika melihat interaksi dua orang yang sempat membuatnya cemburu sosial.
Ah percayalah. Sikap cemburu di setiap hati seorang anak itu normal. Pasti ada sikap cemburu ketika temannya lebih dekat dengan yang lain. Hal itu lumrah, masih ada sikap egois dalam diri mereka.
"Kenapa wajah kalian sekarang campur bulenya. Kenapa putih banget lagi?" Kata Adeeva menyentuh tangan keduanya.
"Udah aku poles selama disana, Va!" Goda Almeera yang membuat Adeeva terkekeh.
"Tapi gapapa. Kalian makin cantik sama ganteng. Kalian gak kangen sama makanan Indonesia?"
"Kangen, Tante. Tapi Ibu sering masakin kita disana meski gak seenak disini," Jawab Athalla lagi.
Entah kenapa Aya merasa sikap cerianya menghilang disini. Seakan kenangan yang hendak dia ulangi terasa buyar di kepalanya.
__ADS_1
"Yaudah. Sayang, jangan buat mereka menunggu dan berdiri. Aku yakin bapak jompo ini sudah capek!" Sindir Reno pada Bara yang membuat dua pria itu kembali beradu mulut.
***
"Kalian bareng Ane sama Reyn aja," Kata Reno saat Aya dan Thalla hendak menaikkan koper mereka ke mobil yang dibukakan oleh Reno.
"Ta.. "
"Baik, Om!" Kata Thalla dengan mengangguk.
Aya menatap ke arah kakaknya itu. Dia menatap penuh protes tapi Athalla seakan tak melihatnya. Dia menarik kopernya dan koper Aya lalu mulai berjalan ke arah mobil belakangnya dimana Ane menunggu disana.
Aya hanya mampu menghela nafas berat. Dia benar-benar tak menyangka kakak kembarnya itu begitu mengesalkan sekarang.
"Iya. Kakak disini!" Jawab Athalla dengan ramah.
"Ayo naikkan kopernya!" Kata Ane dengan ramah.
Akhirnya Athaya hanya menjadi penonton. Dia menatap interaksi saudara kembarnya dan saudara dari anak kakak ibunya itu. Dia merasa sikap Ane memang berubah.
Apa mungkin karena keduanya sudah lama tak berinteraksi. Apa mungkin karena keduanya tak pernah bertemu. Apa mungkin karena keduanya memang tak pernah bercerita satu dengan yang lain.
"Aya!" Panggil Ane menepuk pundak Aya hingga membuat wanita itu terkejut.
Lamunan Aya buyar, dia menoleh dan menatap Ane yang berdiri di dekatnya.
__ADS_1
"Ayo!" Ajak Aya yang kemudian dia menatap ke arah bagasi dan benar saja.
Sudah ditutup dan menandakan bahwa koper dirinya dan kakak kembarnya sudah ada disana.
"Iya, Kak," Jawab Aya lalu segera melangkahkan kakinya dan duduk di kursi belakang.
Perlahan Aya, Ane dan Athalla duduk di bangku belakang. Sedangkan Ryn di depan dengan supir yang mengemudi.
Aya benar-benar merasa tak nyaman. Dia duduk di tengah memang. Namun, entah kenapa untuk saat ini, gadis itu tak mau ada di dekat sepupunya.
Sampai akhirnya…
"Reyn putar musiknya dong!" Pinta Ane yang terdengar di telinga Aya.
Aya melirik sedikit. Dia ingin tahu sejauh apa interaksi keduanya.
"Oke!"
Ane terlihat bahagia. Bahkan gadis itu sampai memajukan tangannya dan mencubit pipi Ryn yang hanya diam tak menolak.
Hal itu tanpa sadar membuat Aya mengepalkan tangannya dan membuat Athalla membuka kepalan tangan itu lalu menggenggam tangan Aya.
Tentu hal itu membuat Aya menoleh. Dia menatap kedua bola mata kakak kembarnya yang menggelengkan kepalanya sebagai pertanda.
~Bersambung
__ADS_1