Rahasia Menantu Billionaire

Rahasia Menantu Billionaire
Pria Tampan


__ADS_3

...Aku tak percaya jika di negara besar seperti ini bisa bertemu dengan seseorang yang menyebalkan. ...


...~Mela...


...****************...


Dia mengedipkan kedua matanya dengan manja. Bagaimanapun dia tahu bagaimana khawatirnya sahabatnya padanya. Namun, Mela hanya ingin menikmati waktunya sendiri.


Dia juga tak mau membuat sahabatnya yang tengah hamil kecapekan. Karena dia tahu, bagaimana jika Aufa dan Mela dipertemukan dan belanja menjadi satu. Dia yakin meski tiga sampai lima jam tak akan selesai dengan jalan dan makan-makannya.


"Aku akan meminta suamiku menyiapkan supir untukmu. Oke! Jangan memaksa. Aku takut kamu hilang. Aku gak mau kamu kenapa-napa. Kamu harus Terima kalau nggak, nggak ada mall mallan!"


Mela tertawa. Bukannya marah dia malah tertawa pada sahabatnya itu.


"Baiklah, Tuan Putri. Hamba akan menurut!"


***


"Jaga diri kamu baik-baik yah. Kalau terjadi sesuatu sama kamu, cepat hubungi aku! Oke!"


Saat ini Aufa berdiri di dekat mobil yang akan mengantar sahabatnya itu jalan-jalan. Dia berdiri disana dengan mengatakan seribu banyak nasehat pada Mela.


Mela tertawa tapi dia tetap mengangguk dengan patuh. Dia tetap menurut pada sahabatnya itu.


"Aku akan ingat nasehat, Tuan putri. Aku akan selalu memberikan kabar pada Anda," Kata Mela dengan serius.


"Yaudah. Kamu hati-hati yah. Selamat menikmati waktu jalan-jalan. Lakukan semuanya dan dia akan siap mengantarmu kemana saja!" Kata Aufa melirik supir yang sudah siap berdiri di dekat pintu mobil.


Mela mengangguk. Dia memeluk Aufa dengan sayang. Persahabatan keduanya yang terjalin bergitu lama membuat Aufa dan Mela saling menyayangi melebihi saudara kandung. Bahkan Aufa sendiri sampai lebih dekat dengan Mela daripada kakaknya.


Ya kakaknya yang cuek, membuat Aufa lebih banyak menghabiskan waktu di rumah hanya di kamar. Dia akan menemui dan berbicara dengan kakaknya jika ada sesuatu yang akan dia lakukan.


Mereka akan berbicara jika ada pekerjaan di antara mereka atau ada salah satu dari mereka yang saling membutuhkan.


"Bye, Bumilku!" Mela melambaikan tangannya.


Dia lalu menutup jendela mobil dan menyandarkan dirinya ketika kendaraan roda empat itu mulai keluar dari halaman rumahnya. Mela mulai menatap jalanan yang dilalui.


Jalanan yang terlihat sejuk dan dingin. Udara yang sedikit lebih dingin dari Indonesia karena memasuki musim dingin.


Mela tersenyum dengan bahagia. Dia bisa menjejakkan kakinya di negara orang karena suami sahabatnya itu. Dia tak mungkin menyia-nyiakan kesempatan ini.

__ADS_1


"Kita kemana, Nona?"


Eh Mela menatap tak percaya. Dia menjulurkan kepalanya sedikit agar bisa melihat ke arah pria yang usianya sudah tak lagi muda.


"Bapak bisa bahasa Indonesia?" Tanya Mela kaget.


"Semua pelayan di rumah Tuan Bara kebanyakan dari Indonesia, Nona. Kami pelayan dari rumah lama dibawa kemari!"


Mata Mela melebar. Namun, kepalanya mengangguk seakan dia paham. Seakan dia mulai tahu maksud supir itu.


"Jadi semua pelayan di rumah itu orang Indonesia?"


"Iya betul, Nona."


Mela mengangguk-anggukan kepalanya. Dia mulai paham dan dia mulai mengambil benang merah dan mengatakan jika keluarga suami sahabatnya ini adalah tipikila yang setia.


Setia dengan pelayan lama dan memakai jasa mereka sampai di bawah ke negara ini.


"Jadi dulu orang tua Abraham tinggal di Indonesia?" Tanya Mela penasaran.


"Iya, Nona. Benar sekali. Jadi dulu Tuan Bara dan Nyonya Almeera diam di Indonesia. Sampai akhrinya pekerjaan Tuan harus dikembangkan dan mereka pindah kemari!"


"Wahh!" Mela menatap penuh bangga.


Mela tak menyangka dibalik kesederhanaan itu terdapat sesuatu yang mengejutkan dalam diri Abraham.


"Aku yakin Aufa akan bahagia jika seperti ini. Aku bahagia karena dia tak salah pilih suami," Gumam Mela lalu segera menatap ke luar.


"Kita jadi kemana, Non?"


"Ke mall dulu ya, Pak."


***


Seorang pria dengan kaos yang melekat di tubuhnya dan celana jeans itu mendorong trolling belanjaannya. Dia tangannya yang kanan juga sedang memegang ponsel yang mendekat dengan telinganya.


Siapapun pasti tahu jika pria itu sedang melakukan panggilan. Mata pria itu juga sambil menatap ke deretan beberapa sayuran yang ada disana.


"Iya iya. Gue bakal ke rumah lo secepatnya. Lo beneran bikin gue kerja dadakan yah!" Seru pria itu dengan kesal.


"Lo adalah sekretaris gue. Lo tangan kanan gue. Selama ini Lo udah bebas dari pekerjaan gue. Jadi sekarang, lo harus bekerja keras!" Kata pria dari seberang telepon.

__ADS_1


Pria dengan mendorong trolling itu memutar matanya malas.


"Gue malesnya ikut temen kerja ya begini. Seenaknya!"


"Cih. Emang sejak kapan gue bikin Lo sengsara kerja sama gue, hah?" Tanya suara pria dari seberang.


Pria dengan wajah tampan itu tertawa. Wajah bulenya masih terlihat disana. wajah blasteran dengan kulit putih itu menjadi pusat perhatian beberapa wanita muda yang belanja disana.


"Ya gak pernah. Tapi kalau kerjaan mendadak gini ini. Lo tiba-tiba kasih kabar yang bisa bikin gue jantungan!"


Terdengar suara tawa dari seberang sana. Pria itu sambil memasukkan beberapa sayuran yang ingin dibeli.


"Setelah gue belanja. Gue bakalan langsung ke rumah Lo. Bawa semua hal yang Lo inginkan!" Kata Pria itu memutuskan.


"Ah lo memang sahabat gue. Gue tunggu oke!"


"Sialan lo, Abraham. Lo ganggu waktu belanja gue!"


Setelah mengatakan itu panggilan tersebut terputus. Pria dengan mata menatap belanjaannya itu menggeleng. Dia memasukkan ponselnya ke dalam saku lalu menatap sekeliling.


Fort, pria tampan dengan wajah begitu tegas dan juga bibir yang sangat murah senyum itu menampilkan senyuman terbaik di depan beberapa wanita yang menatap ke arahnya.


"Jangan diliatin mulu. Gak bakal berkurang!" Kata Fort dengan mengedipkan salah satu matanya dan membuat beberapa wanita muda itu menutup mulutnya tak percaya.


Fort, salah satu mahasiswa pintar di salah stau universitas yang sama dengan Abraham. Ya Fort adalah pria asli New York tapi berdarah blasteran karena ibunya adalah orang Indonesia.


Dia adalah sosok pria dengan pesona paling kuat. Dia adalah sosok pria yang berbeda kepribadian dengan Abraham.


Jika Abraham cuek dan tegas. Berbeda dengan Fort, dia suka tebar pesona, menggoda perempuan dan juga dikenal sebagai playboy pada masanya.


Pria dengan ketampanan sebelas dua belas dengan Abraham itu tak kalah terbaik di kampusnya. Meski dia sedikit gila, berbuat ulah, sering mengencani wanita. Otaknya untung saja pintar. Ya, Fort salah satu lulusan mahasiswa terbaik dengan nilainya yang hampir sama dengan Abraham.


Maka dari itu kedua sahabat itu saling membantu satu dengan yang lain. Apalagi ketika Abraham dulu mengatakan akan mengajak Fort menjadi tangan kanannya, akan membuat dan menjadikan Fort sebagai sekretaris sekaligus orang kepercayaan ketika dia sudah mau memegang kantornya sendiri.


Hal itulah yang membuat persahabatan mereka berjalan sampai sekarang. Hal itulah yang membuat hubungan keduanya semakin akrab satu dengan yang lain.


"Sudah selesai?" Tanya seorang kasir yang menerima belanjaan Fort.


Pria tampan itu tersenyum.


"Sudah. Jika aku terlalu lama disini, akan banyak wanita yang semakin keluar masuk marketmu ini tanpa belanja!"

__ADS_1


~Bersambung


__ADS_2