
...Percayalah kasih sayang antara keluarga dengan istri memang berbeda dalam arti. Namun, percayalah berikan cinta yang adil di antara mereka agar tak terjadi kesalahpahaman....
...~JBlack...
...****************...
"Bia tinggal disini?" Ulang Abraham tak percaya.
Almeera mengangguk. "Iya, Nak. Bia akan melakukan pelatihan di rumah sakit dan yah, kamu juga kerja kan? Jadi apa boleh Bia tinggal di rumah kalian?"
Abraham tentu saja tak menolak. Pria yang akan menjadi jadi seorang ayah itu mengangguk.
"Tentu saja boleh, Bu. Abang bahagia Bia tinggal bersamaku dan Aufa. Abang jadi tenang kalau tinggal Aufa dirumah nanti jika ada Bia," Kata Abraham dengan jujur.
Yang dikatakan oleh pria itu memang benar. Dalam hati, Abraham menjadi lega karena istrinya pasti senang dengan kedatangan Bia. Dia juga tahu jika Aufa juga menyayangi Bia.
Sering menanyakan kabar gadis itu. Sering menanyakan kapan Bia kemari. Dan sekarang, Abraham yakin kalau Aufa akan menjadi orang pertama yang bahagia.
"Syukurlah. Ibu akan mengabari adikmu dulu. Agar dia tak usah mencari tempat tinggal."
Abraham mengangguk. Akhirnya ibu dan anak itu melanjutkan langkah kaki mereka. Abraham juga lekas memasuki kursi kemudi saat melihat mertuanya menunggu di luar mobil dan istrinya sudah duduk dengan tenang di salam.
"Maaf ya Pak, Ma. Udah nunggu Abraham," Ujar Abraham tak enak hati.
Mama Aufa yang duduk di belakang tersenyum.
__ADS_1
"Mama baik-baik saja, Abra. Mama juga paham bagaimana rasanya bercerita dengan ibu kandung sendiri. Pasti ada rasa lega kan?"
Abraham mengangguk. Apa yang dikatakan mertuanya memang benar. Apa yang dia ceritakan pada orang tua. Abraham selalu merasa senang dan tentram.
Meski ibunya hanya menjadi pendengar tapi Abraham merasa semua rasa sesak di dadanya menjadi sedikit lebih lega.
Akhirnya kendaraan itu mulai berjalan keluar dari parkiran rumah sakit. Abraham mengemudi dengan pelan. Dia juga sesekali menatap ke samping. Tempat dimana istrinya duduk tenang disana.
"Kamu baik-baik saja, Sayang? Bagaimana?" Tanya Abraham dengan lembut.
Aufa mengangguk. Dia merasa lebih baik. Kakinya walau bengkak tapi dia masih bisa berjalan meski sedikit demi sedikit langkah kakinya.
"Kamu gak mau beli lagi, Sayang? Kamu gak mau beli apa-apa?" Tawar Abraham menatap istrinya.
Bagaimanapun Abraham tahu selama hamil. Aufa sering makan dengan berbagai macam makanan. Istrinya itu suka makan apapun dan gampang lapar.
Akhirnya Abraham tak memaksa. Pria itu menurut dan segera berbelok ke arah jalan menuju ke rumah mereka.
***
"Kamu istirahat aja dulu yah!" Kata Abraham dengan mendudukkan istrinya ke ranjang.
Ya saat ini pasangan suami istri itu sudah ada di dalam kamar dan Abraham tentu saja membantu istrinya duduk.
"Kamu beneran gak mau makan apapun lagi?"
__ADS_1
Aufa mengangguk. "Aku cuma mau tidur di peluk kamu. Boleh?"
Abraham tersenyum. Salah satu kebanggaan dan kebahagiaan Abraham adalah ketika istrinya bucin pada dirinya. Ya Aufa benar-benar lengket dengannya selama hamil.
Hingga akhirnya Abraham mulai merangkak naik dan tidur di samping Aufa. Pria itu bahkan membiarkan istrinya tidur di lengannya.
"Sayang," Panggil Abraham pelan.
"Ya?"
"Aku ada kabar bagus buat kamu," Ujar Abraham yang membuat Aufa menoleh.
"Kabar apa?" Tanya Aufa penasaran.
Abraham tersenyum. Dia akhirnya semakin memiringkan tubuhnya dan mengusap anak rambut Aufa yang menutup matanya..
"Bia bakalan tinggal sama kita bulan depan!"
"Apa!" Pekik Aufa terkejut. "Kamu serius?"
Abraham tersenyum. "Aku serius, Sayang. Ibu yang bilang tadi. Bia akan tinggal bersama kita karena dia ada koas."
Mata Aufa yang tadi mengantuk kini berbinar. Bahkan ibu hamil itu sampai duduk dengan tegak.
"Akhh Aufa senang. Aufa bakalan ada temennya dirumah!"
__ADS_1
~Bersambung