
...Perpisahan kini kembali terjadi. Namun, entah kenapa ada sesuatu perasaan janggal yang membuat keraguan ada disana. ...
...~Bia Quinsa Altafunisha...
...***...
Akhirnya perpisahan kini kembali terjadi. Bia, Abraham dan Aufa mulai mengantar kepergian kedua orang tuanya dan adik-adiknya untuk kembali ke negara mereka.
Tentu rasa sedih kembali menghantam. Ras atau rela dan tak ikhlas untuk berjauhan. Namun, mau bagaimana lagi. Ayahnya masih memegang beberapa urusan restoran dan perusahaan keluarga.
Tentu hal itu membuat Abraham mau tak mau harus mengerti.
"Jaga adikmu dengan baik, Nak. Bia akan disini bersama. Oke?" Kata Bara sambil menepuk pundak Abraham dengan tersenyum.
Abra mengangguk. Namun, entah kenapa seakan dirinya memiliki tambahan tanggung jawab baru. Seakan tepukan ayahnya membuat dirinya sadar bahwa dia masih memiliki Bia yang harus dia jaga dan dia rawat dengan istrinya.
Namun, pikiran ragu dan rusuh itu segera dihilangkan. Abraham mencoba menepis keraguan itu dengan tersenyum.
"Sudah pasti, Ayah. Bia akan menjadi tanggungjawab Abang. Ayah dan Ibu jangan khawatir yah!"
"Abang bisa jagain Bia, Ayah. Ayah harus percaya. Oke?" Sambung Bia membantu kakaknya yang membuat Bara mengangguk.
Pria paruh baya itu melingkarkan tangannya di pundak Aufa lalu mencium puncak kepala putrinya.
"Ayah tau. Ayah hanya khawatir sama kamu. Ditambah ada menantu Papa juga ini!" Balas Abraham yang membuat Aufa tersenyum.
__ADS_1
"Tenang aja, Yah. Aufa bakalan nemenin Bia atau… "
"Kebalikannya!" Sela Bia yang membuat semua orang tertawa.
Akhh hubungan kakak ipar dan adik ipar ini sangat amat akur. Meski Bia dan Aufa jarang bertemu. Namun, Aufa yang selalu membuka obrolan di pesan online dan Bia yang membalas dengan ramah. Membuat Bia dan Aufa lambat laun saling bergantung dan sangat dekat.
"Yaudah. Ayah percaya kalian bisa saling jaga satu dengan yang lain. Ayah dan ibu lega jika ingin meninggalkan kalian," Ucap Bara yang membuat Almeera berdiri di sampingnya tersenyum.
"Kalian hati-hati yah. Jangan telat makan. Jangan kerja terus. Ibadahnya juga oke?"
"Siap, Ibu!"
Akhirnya satu per satu mulai bersalaman. Mencium punggung tangan Bara dan Almeera bergantian. Lalu memeluk satu dengan yang lain.
Aya memukul tangan kakaknya itu. Dia melototkan matanya dengan kesal.
"Dia sudah dekat dengannya. Aya mau fokus sekolah!"
Bia mengacungkan jempolnya. Dia memeluk adiknya lagi dan mencium kepalanya.
"Kamu memang harus fokus sekolah. Buktikan bahkan Aya ini begitu luar biasa. Aya ini berhak mendapatkan yang terbaik. Oke?"
Aya mengangguk. Entah kenapa dia selalu merasa lega setelah berbicara dengan kakaknya.
Akhirnya panggilan untuk pesawat mereka mulai terdengar. Perpisahan itu kini terjadi. Bia, Abraham dan Aufa mulai melambaikan tangannya pada orang tua dan saudaranya.
__ADS_1
Ya hanya mereka yang mengantar. Teman ayahnya yaitu Reno, ada pekerjaan yang tak bisa ditinggal. Begitupun dengan Om Jonathan mereka harus menjaga istrinya juga.
"Ayo kita pulang!" Ajak Abraham pada Bia dan Aufa.
Kedua wanita itu mengangguk. Dengan pelan Bia memegang tangan kakak iparnya dan mengusap perutnya begitu lembut.
"Apa ini sakit?"
Aufa tertawa kecil. "Nggak dong."
"Apa kakak gak berat?"
Aufa kembali tertawa. Namun, bukannya dia marah dia malah merasa lucu. Wajar saja adik iparnya ini bertanya karena Bia belum merasakan.
"Nggak, Bi. Malah Kakak merasa gemas sama perut kakak ini. Lucu kan?"
"Lucu banget. Nanti Bia bakalan ketemu bumil juga di rumah sakit. Banyak bumil!"
"Iya. Nanti kamu bisa permisi pegang perutnya."
Perkataan Aufa membuat Abraham dan Bia yang mendengar tertawa dengan bebas. Tanpa ketiganya tahu, jika dari jauh terdapat sepasang mata yang menatap dengan marah. Sepasang mata yang sejak tadi melihat gerak-gerik mereka.
"Tertawalah sekarang dan nanti lihat! Aku akan membuat kalian menangis sejadi-jadinya!"
~Bersambung
__ADS_1