
...Kejadian di masa lalu itu terkadang tetap ada dan tercetak jelas dalam pikirannya. Menjadi sebuah pembelajaran dan kekuatan untuk mereka. Sebuah masa lalu akan menjadi kekuatan mereka menghadapi masa depan yang sulit....
...~Abraham Barraq Al-Kahfi...
...****************...
Jika keadaan di sekitarnya sedang begitu memanas dan menegangkan. Berbeda dengan keadaan seorang pria yang masih betah dalam mimpinya.
Pria dengan luka di dahi dan lengannya itu masih asyik memejamkan matanya. Pikirannya bahkan mulai memutar. Ya bayangan kejadian di masa lalu itu kembali hadir.
Bayangan kejadian antara keluarganya. Antara Mama dan Papanya kini memutar kembali dalam otaknya.
"Mama yakin baik-baik saja?" tanya Abraham dengan pandangan khawatir.
Ibu dua anak ini sangat mengerti jika putranya khawatir padanya. Jika anak pertamanya, anak yang menjadi buah cinta pertama dengan Bara sangat peduli dengannya. Abraham memang lebih dekat dengannya. Abraham memang sangat dekat dengannya dibanding ayahnya.
"Baik. Mama baik, Sayang," sahut Almeera sambil menatap ke arah putranya. "Demi kamu dan Bia. Kebahagiaan kita. Mama bakalan lakuin apapun itu."
Bayangan itu muncul. Entah kenapa hal itu membuat denyut jantung Abraham berdetak lebih kencang. Meski belum ada gerakan dari tubuhnya. Namun, pikirannya seakan mulai memanas.
Bayangan itu kembali muncul. Bayangan antara perselisihan dirinya dan papanya dulu memutar di ingatannya.
"Papa selingkuh dari mama?" tanya Abraham dengan marah.
__ADS_1
"Nggak, Bang!"
"Lalu apa ini, Pa? lalu apa maksud Papa? Papa menikah lagi selain dengan Mama."
"Apa itu bukan yang namanya selingkuh? iya?"
"Jangan melebihi batasmu!" seru Bara dengan tegas.
"Aku tak melebihi batasku. Aku hanya ingin tau kenapa Papa menikah lagi. Mama menangis karena perbuatan Papa."
"Papa menyanyangi keduanya Abra! Menyayangi Mama Meera dan Mama Narumi."
"Dia bukan Mamaku. Bukan Mama Bia juga!"
"Aku tau. Abra tahu pria boleh memiliki dua istri tapi hal itu tak membuat Papa berpikir jika itu menyakiti hati Mama!" kata Abra dengan tajam dan matanya yang memandang sinis ke arah Bara.
Setelah mengatakan itu Abraham segera pergi membawa laptop dan gelasnya menuju kamar. Dia menulikan telinganya saat mendengar papanya memangggil namanya.
Menurutnya untuk hari ini sudah cukup semunya. Sudah cukup dirinya berbicara. Sudah cukup dia mengeluarkan segala hal yang menyakiti hatinya dan ia pendam.
"Aku benci, Papa! Aku benci!"
Tubuh itu mulai bereaksi. Ya mimpi yang terus hadir dalam masa lalunya ternyata mampu membuat tubuh Abraham kini bergerak. Ya, pria itu mulai menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
__ADS_1
Meski matanya terpejam. Meski dirinya masih tidur. Namun, hal itu sudah membuat Aufa bahagia. Bahkan perempuan itu sudah memanggil dokter untuk mengecek kondisi dan keadaan suaminya.
Aufa menggenggam kedua tangannya di depan dada. Bibirnya terus mengatakan sebuah doa untuk suaminya.
"Keadaan Tuan Abraham sudah sangat baik. Ajak pasien terus bicara, Nona. Sepertinya pasien masih berusaha untuk bisa sadar dan bangun," Kata Dokter yang membuat Aufa mengangguk.
"Baik dokter. Terima kasih," Ujar Aufa dengan sopan.
Sepeninggal dokter. Aufa kembali berjalan ke arah suaminya. Dia menarik kursi dan duduk didekat suaminya itu. Dia kembali meraih tangan Abraham. Memegangnya dengan pelan dan menggenggamnya.
Aufa melihat wajah Abraham yang tenang dalam tidurnya. Suaminya itu sudah terlihat tampan karena dia membantu menyeka tubuh Arbaham agar selalu bersih dan wangi.
Perempuan itu tersenyum kecil. Dia ingin menangis tapi Aufa menahannya sekuat mungkin. Dia tak mau terus terpuruk dan membuat Abraham tak bangun-bangun.
"Cepat bangun, Sayang. Aku butuh kamu. Aku butuh kamu buat penguat aku," Kata Aufa dengan suaranya yang lemah.
"Kamu gak kangen aku? Apa kamu betah tidur terus tanpa lihat wajah cantik aku ini?" Oceh Aufa tak lelah mengajak suaminya berbicara.
Dia mengusap wajah suaminya dengan pelan. Aufa merawat Abraham dengan baik. Ini sudah hari ke empat suaminya belum sadar.
Dokter mengatakan itu bisa jadi efek dari kepalanya yang terbentur oleh benda keras dan membuat dirinya masih belum sadar.
"Aku kangen sama kamu. Kangen ocehan kamu. Kangen celetukan kamu. Kangen kamu yang suruh-suruh aku. Cepet bangun ya, Sayang," Kata Aufa meminta lalu mencium dahi Abraham penuh sayang.
__ADS_1
~Bersambung