
...Jangan memandang seseorang dari penampilan karena di dunia banyak sekali orang memakai topeng hanya untuk menutupi identitasnya dari semua orang....
...~Aufa Falisha...
...***...
"Ajaklah istrimu pulang. Dia pasti lelah setelah melakukan perjalanan panjang," Kata Almeera pelan pada putranya.
Abraham yang saat ini duduk di kursi samping ranjang ibunya mengangguk.
"Apa Ibu ingin sesuatu? Abang akan membelikannya nanti ketika berangkat kesini," Ujar Abraham menawari.
Kepala perempuan yang tak lagi muda itu menggeleng. "Ibu tak mau apapun. Ibu cuma ingin pulang."
Abraham terkekeh. Dia mencium kedua tangan Almeera dengan sayang. Abraham begitu menyayangi ibunya. Ya, dia sangat mencintai dan sangat amat menyayangi ibunya melebihi siapapun.
"Baiklah. Abraham akan mendemo dokternya agar Ibu boleh pulang."
Ibu dan anak itu sama-sama tertawa. Beginilah kedekatan keduanya. Abraham selalu berusaha membuat ibunya tertawa. Dia selalu berusaha membuat ibunya tak bersedih.
Entah kenapa bayangan di masa lalu selalu membuatnya takut. Takut jika ibunya mengalami hal serupa lagi dan membuat perempuan itu menangis begitu menyakitkan.
"Sudah. Sana pulang! Lihat istrimu sampai ketiduran di sofa," Ujar Almeera mengingatkan.
"Siap, Ibunda Ratu. Hamba akan pulang ke istana," Kata Abraham pamit.
Dia mencium punggung tangan ibunya lalu tak lupa pipinya juga. Setelah itu dia mendekati istrinya yang ketiduran di sofa. Jujur Abraham juga merasa tak nyaman dengan posisi istrinya itu.
"Sayang," Panggil Abraham dengan lembut.
Aufa terusik. Perlahan mata itu bergerak terbuka dan mulai menatap sekitar.
"Aku ketiduran?" Cicit Aufa dengan suaranya yang khas bangun tidur.
Abraham mengangguk. Perlahan dia membantu istrinya duduk lalu ikut merapikan rambutnya.
"Maafkan aku," Cicit Aufa menyesal.
"Untuk apa minta maaf? Kamu kelelahan, Sayang. Jadi wajar kamu tidur," Ujar Abraham membenarkan. "Ayo kita pulang. Ibu memintamu untuk tidur di rumah."
Aufa spontan menoleh ke arah mertuanya. Dia terkejut saat melihat Almeera sudah duduk tenang dengan punggung menyandarkan disana.
"Ibu," Cicit Aufa dengan ekspresi muka seperti anak kecil ketahuan nakal.
"Gakpapa, Nak. Pulanglah dengan suamimu. Kamu pasti capek kan?"
Aufa mengangguk. Apa yang dikatakan mertuanya memang benar. Perjalanan Indonesia New York membuat dirinya tak bisa istirahat dengan bebas.
__ADS_1
Aufa terus kepikiran. Bahkan karena rasa ingin tahu dirinya dan rasa penasaran membuatnya sulit untuk tidur.
"Istirahat dan jangan lupa makan yah," Ujar Almeera mengusap kepala Aufa. "Jangan lupa minta Bibi masak ya, Nak!"
Almeera mengatakan pada putranya. Abraham mengacungkan jempolnya lalu keduanya segera keluar dari ruangan Almeera.
Tangan pria itu dengan lekat menggandeng tangan istrinya itu. Tatapan keduanya saling pandang dengan perasaan Abraham yang peka.
"Selamat datang di duniaku, Sayang," Ucap Abraham pelan pada istrinya.
Entah kejutan apa lagi yang akan Aufa terima. Dia sudah menyiapkan hati dan jantungnya.
"Ayo masuk!"
Aufa terlihat menarik nafasnya begitu dalam saat suaminya membuka mobil buggati keluaran terbaru dengan warna hitam begitu mengkilap dan mewah.
Aufa menuruti permintaan suaminya. Dia masuk lalu duduk dengan tenang. Pandangannya menatap seluruh mobil. Sampai akhirnya dia melihat sebuah foto yang ditempel di dashboard mobil dengan begitu rapi.
Aufa mendekatkan wajahnya. Dia menyentuh foto itu dengan pelan.
"Itu Bia dan dua adik kembarku, Sayang," Kata Abraham yang semakin membuat Aufa terkejut lagi.
Perempuan itu menoleh. Di menatap suaminya yang mulai mendorong dirinya dan membantu Aufa mengenakan sabuk pengaman.
"Kenapa?" Tanya Abraham dengan wajah yang begitu dekat.
"Kejutan apalagi yang akan kamu kasih ke aku?" Ujar Aufa dengan jantung berdegup kencang.
Abraham tersenyum. Pria itu tahu istrinya pasti kaget dengan semua kenyataan yang dia berikan. Semua kenyataan tentang dirinya dan keluarganya.
"Kejutan yang tak akan pernah kamu lupakan.x
Cup.
Aufa membelalakkan matanya saat Abraham mencuri satu kecupan dari bibirnya.
"Sayang," Pekik Aufa memukul lengan Abraham yang tertawa.
"Jangan terlalu tegang, Sayang. Semuanya aman dan percayalah. Aku tak akan menutupi apapun lagi darimu," Cicit Abraham lalu mengenggam tangan istrinya dan menciumnya.
***
Akhirnya selama perjalanan ke rumah. Aufa menatap jalanan di depannya. Dia benar-benar melihat pemandangan yang baru pertama kali dia lihat.
Dia sering ke luar negeri tapi untuk ke New York. Ini adalah pertama kalinya dia menjejakkan kakinya ke negara ini.
Tak lama, kendaraan Abraham mulai berbelok ke sebuah perumahan. Aufa bisa melihat rumah besar berjajar disana. Perempuan itu menelan ludahnya paksa. Apalagi saat suaminya mulai memelankan mobilnya dan berbelok hingga dia mampu melihat sebuah pagar yang perlahan terbuka dan Abraham melajukan mobilnya lagi.
__ADS_1
"Welcome Home, Honey."
Aufa menganga tak percaya. Dia benar-benar dibuat terpana dengan rumah didepannya ini. Matanya berkedip berulang kali seakan memastikan jika apa yang dia lihat ini benar atau tidak.
"Ini serius? Ini rumah kamu?" Tanya Aufa tak percaya.
Abraham hanya tersenyum. Dia menghentikan laju mobilnya tepat di depan pintu utama dan tak lama, seorang pria berpakaian hitam datang dan membukakan pintu untuknya.
"Selamat datang, Tuan Abra," Sapa mereka yang membuat Aufa mengedipkan matanya berulang ini.
Ini benar-benar nyata. Ya dia tak bermimpi. Ini benar kenyataan yang harus dia terima.
"Ayo, Sayang!" Ajak Abraham yang tanpa Aufa sadari sudah berdiri dan membukakan pintu mobil untuknya.
Aufa masih terpana akan semua yang ia lihat. Dia hanya pasrah saat tangannya di genggam dan mulai keluar dari mobil.
Dirinya semakin merasa kecil saat pintu utama terbuka dan muncul beberapa orang berdiri disana dan menundukkan tubuhnya.
"Selamat datang, Tuan Abra," Sapa mereka yang membuat Aufa tanpa sadar mengeratkan genggaman mereka.
"Terima kasih," Kata Abra menjawab. "Ah iya kenalkan. Ini istriku, Aufa namanya."
Semua orang terkejut. Mereka saling menatap satu dengan yang lain.
"Tolong bantu istriku selama disini. Kalian paham?"
"Paham, Tuan."
"Baiklah. Kami akan istirahat."
Aufa tak mengatakan apapun. Dia masih terkejut dengan semua yang dia lihat. Langkah kakinya menurut saat suaminya membawa dirinya ke kamar. Namun, saat keduanya baru saja sampai di ujung tangga.
Sebuah suara panggilan membuat langkah keduanya berhenti. Abraham meraih ponsel yang ada di saku celananya dan melihat nama tertera disana.
Nama orang kepercayaan yang dia berikan tanggung jawab mengurus pencarian pelaku utama kebakaran bengkel.
"Itu kamarku, Sayang. Kamu masuk dulu yah. Aku angkat telepon dulu dari Indonesia. Ya?"
Aufa mengangguk. Abraham lalu melepaskan kaitan tangan mereka dan berjalan ke arah balkon lantai dua yang ada di bagian kanan.
Dirinya lekas menggeser panggilan itu sampai tersambung.
"Ya. Bagaimana?" Tanya Abraham dengan cepat.
"Benar dugaan Anda, Tuan. Pelakunya adalah orang yang Anda target. Semua bukti sudah saya kirim pada Anda. Setelah itu, saya akan menunggu perintah Anda selanjutnya," Kata pria di seberang sana dengan suaranya yang tegas.
"Oke. Terima kasih banyak. Tunggu kabar dariku selanjutnya!"
__ADS_1
~Bersambung