Rahasia Menantu Billionaire

Rahasia Menantu Billionaire
Kebakaran


__ADS_3

...Ketika rasa benci dan amarah menjadi satu. Maka apapun itu akan dilakukan untuk membuatnya puas....


...~JBlack...


...****************...


Malam semakin larut. Suasana jalanan telah sepi. Area perumahan di kanan kiri jalan juga mulai hening. Dalam sunyinya malam, terlihat tiga orang pria berpakaian hitam mulai turun dari mobil yang diparkirkan agak jauh dari target.


Mata mereka saling menatap ke kanan dan ke kiri. Mereka seakan sedang membaca keadaan.


"Bagaimana?" Tanya seorang pria yang menunggu di belakang mobil.


"Aman!" Jawab keduanya bersamaan.


Pria itu mengangguk. Perlahan dia membuka bagasi mobil belakang dan mulai menurunkan lima buah jerigen berisi cairan yang mudah terbakar.


"Ayo bawa dan selesaikan dengan cepat! Tuan Semi meminta semuanya harus sukses," Ujar pria itu yang dijawab anggukan kepala oleh keduanya.


Mereka mulai membenarkan maskernya. Setelah itu ketiganya segera berlari dari sana. Bersikap waspada dengan menatap ke kanan dan ke kiri. Mereka berita benar-benar bergerak seperti ninja.


"Cepat-cepat! Selesaikan semuanya!"


Ketiganya segera naik dari pagar. Mereka tetap waspada. Jantung semua orang berdegup kencang. Di pikiran ketiganya terus tersimpan jika ini gagal maka nyawa mereka yang menjadi jaminan.


Jika kali ini mereka gagal, maka nyawa mereka yang akan menjadi sandera majikannya. Ketiganya sangat tahu ancaman Tuan Semi tak pernah main-main. Pria yang selalu mengutamakan hak keluarganya. Pria yang menggunakan kekuasaan keluarganya itu seluruh berbuat sesuka hatinya.


"Siram ke semua tempat. Ke seluruh bengkelnya. Ingat hanya bengkel!" Kata pria itu yang bergerak cekatan.


Mereka benar-benar menyiramkan jerigen berisi bensin itu ke seluruh bengkel. Di kanan, kiri, belakang dan depannya. Semuanya benar-benar diguyur dengan bensin hingga bau menyengat itu tercium dimana-mana.


Mereka bergerak ke sana dan ke mari. Ketiganya bergerak dengan lincah. Seakan pekerjaan ini sudah sangat hafal dan lihai ketiganya lakukan.


"Buang jerigen itu di dalam. Aku yakin semua bangunan ini akan terbakar hangus!" Kata salah satu pria yang merupakan ketua dari mereka bertiga.


Akhirnya jerigen itu mulai dilemparkan. Mereka juga naik ke atas pagar. Ketiganya tersenyum menyeringai. Mengeluarkan korek api dari saku celananya dengan seringai begitu menakutkan.


"Tuan Semi akan senang dengan kinerja kita!" Kata mereka dengan menatap bara api yang muncul dari korek yang mereka pegang.


"Lempar!" Kata salah satu dari mereka dan bersamaan tangan ketiganya langsung melempar korek yang menyala itu dan mengenai bangunan bengkel milik Arbaham.

__ADS_1


"Uwaa!" Ketiganya melompat.


Mereka tak menyangka api langsung merambat dengan cepat dan membesar. Bara api itu tak perlu waktu lama mulai berkobar dan membakar apa saja yang ada disana.


Rasa panas dan asap sangat terasa sampai akhirnya mobil itu mulai pergi meninggalkan bengkel Abraham yang terbakar hebat.


"Cepat hubungi Tuan Semi. Katakan kinerja kita selesai. Semuanya terbakar habis dan sempurna!"


...****************...


Sedangkan ditempat lain. Lebih tepatnya di kamar tempat dimana sepasang suami istri tidur dengan tenang itu mulai terusik. Asap yang merambat masuk membuat Abraham yang tersadar lebih dulu spontan membuka matanya.


Dia menatap sekitar. Asap itu sudah memenuhi ruang kamarnya dan membuat Abraham lekas membangunkan istrinya.


Dia benar-benar tak tahu apa yang tengah terjadi. Namun, yang pasti saat ini membangunkan istrinya adalah jalan terbaik. Jalan utama agar istrinya itu aman dan tenang.


"Sayang. Aufa!" Kata Abraham menepuk pipi istrinya dengan pelan.


Aufa tersadar. Dia terlihatmenarik nafasnya begitu dalam. Bahkan perempuan itu langsung terbatuk. Aufa yang alergi debu tentu kesusahan dengan kondisi seperti ini.


"Sayang. Ada apa?" Tanya Aufa dengan mulai sesak.


Pria itu segera berlari menuju lemari. Dia mengambil pakaian apa saja dan membantu istrinya berpakaian.


Tak mungkin mereka langsung lari karena baju Aufa sangat minim. Bagaimanapun Abraham ingin menjaga aset istrinya. Aset berharga yang hanya dirinya yang boleh melihat.


Abraham menarik selimut tebal lalu membawanya ke kamar mandi. Semua dia lakukan secara kilat. Setelah itu pria tampan dengan celana pendek dan kaos membalut tubuh istrinya, menutupi tubuh Aufa dengan selimut basah itu.


Dia benar-benar menyelimuti dengan sempurna. Sampai kepala Aufa juga tertutupi oleh selimut ini. Keselamatan Aufa adalah hal yang utama untuknya.


"Jangan dilepas, pegang yang erat!" Kata Abraham lalu mulai membawa istrinya keluar dari kamar.


Mata Abraham menatap sekitar. Asap kebakaran itu benar-benar menutupi seluruh rumahnya dan membuatnya merasa kesulitan.


Dia tentu berusaha tak panik. Namun, api berkobar ke segala penjuru, asap yang memenuhi rumahnya itu membuat keduanya merasa kesusahan.


"Kesana, Aufa!" Kata Abraham.


Dia merangkul tubuh istrinya. Rumah ini benar-benar ikut terbakar. Sampai akhirnya saat mereka hampir sampai di depan pintu. Atap rumah dari atas roboh dan membuat Abraham mendorong tubuh istrinya.

__ADS_1


"Abra!" Pekik Aufa saat melihat suaminya terjebak.


Keduanya terpisah dengan bara api di tengah. Ya, Abraham mendorong istrinya agar tak tertimpa kayu yang jatuh dari atas.


"Keluar! Keluar, Aufa!" Kata Abraham dengan meminta istrinya keluar.


Pria itu menunjuk pintu rumah mereka. Pintu yang masih bertahan disana dan berada tepat di sebelah Aufa.


Posisi wanita itu memang sudah di depan pintu. Namun, Aufa menggeleng. Dia tak mau kehilangan. Dia tak mau kehilangan suaminya.


Pria yang mencintainya dengan tulus. Pria yang merenggut kehormatannya dengan cara yang halal. Pria yang memperlakukannya begitu pengertian dan baik.


Pria yang tak egois, pria yang menerima buruk jeleknya sikapnya. Pria yang tak pernah memaksakan keinginannya. Pria yang tak pernah mengatakan hal buruk tentangnya meski dia tak bisa memasak.


"Pergilah, Sayang!" Pinta Abraham memohon. "Aku akan mencari jalan keluar."


"Nggak! Kita akan keluar bersama!"


Bersamaan dengan itu. Atap kembali runtuh dan membuat Abraham mundur dan semakin jauh dari jangkauan istrinya.


Suara batuk-batuk mulai terdengar begitu intens. Asap yang terhirup paru-parunya. Belum lagi mengenai matanya dan membuat kedua matanya perih dan susah terbuka.


"Pergi, Aufa! Pergi!" Pinta Abraham mengusir istrinya.


Aufa menggeleng. Dia benar-benar tak mau. Dia akan bertanggung jawab. Dia hanya akan keluar dengan suaminya. Mau mati ataupun hidup. Suka dan duka akan dia jalani bersama.


"Pergi, Aufa. Aku tak mau membuatmu celaka!"


Bersamaan dengan itu. Sebuah kayu jatuh dan akhirnya menggores lengan Abraham hingga pria itu meringis.


"Abra!" Pekik Aufa terkejut.


Dia menutup mulutnya dengan satu tangan. Aufa semakin ketakutan.


"Aku akan menyelamatkanmu," Kata Aufa dengan tekad yang kuat. "Aku tak akan meninggalkanmu sendiri."


"Jangan. Pergilah, Sayang! Keluarlah!" Ujar Abraham meminta. "Keluarlah!"


Bersamaan dengan itu. Tubuh Abraham mulai jatuh dan akhrinya pria itu tak sadarkan diri yang semakin membuat Aufa menjerit ketakutan.

__ADS_1


~Bersambung


__ADS_2