Rahasia Menantu Billionaire

Rahasia Menantu Billionaire
Kotak Rahasia


__ADS_3

...Percayalah diamnya orang sabar adalah hal paling menakutkan. Ketika mereka sudah bergerak maka apa yang tak pernah terbayang akan muncul secara tiba-tiba untuk menghancurkan....


...~Abraham Barraq Alkahfi...


...****************...


"Kita mau kemana?" Tanya Aufa pada Abraham yang tengah mengemudikan mobil.


Ya keduanya sudah berada dijalan. Dengan Aufa yang membuka kaca mobil dan membiarkan wajahnya diterpa angin New York yang begitu tenang dan damai.


Gadis itu bahkan tersenyum dengan begitu lepasnya dan tanpa sadar hal itu membuat Abraham ikut menarik bibirnya melengkung ke atas.


"Apa kamu bahagia?" Tanya Abraham yang membuat Aufa menoleh.


"Tentu. Aku sangat bahagia disini," Jawab Aufa sambil menjauhkan dirinya dari jendela mobil lalu menutupnya.


Perlahan dia menggeser. Dirinya melingkarkan tangannya di lengan Abraham dan membuat pria itu menyetir dengan satu tangan.


"Terima kasih sudah mengajakku kesini. Terima kasih sudah mau berkata jujur tentang kamu sama aku dan terima kasih atas semua kejutan yang benar-benar membuatku tak pernah membayangkan akan memiliki suami seperti kamu," Ucap Aufa dengan begitu tulusnya.


Apa yang dia katakan benar-benar jujur. Dia mengatakan semuanya sesuai dengan apa yang dia rasakan. Aufa benar-benar merasa bahagia sekaligus bersyukur.


Bahagia memiliki suami yang pengertian, tak pernah menuntutnya, tak pernah meminta dia menjadi sosok yang begini begitu. Melainkan Abraham selalu membimbing dirinya. Membuatnya sadar bahwa sikapnya selama ini adalah salah dan perlu diperbaiki.


Aufa juga bersyukur. Bersyukur dengan semua yang terjadi pada dirinya. Menikah paksa dengan pria yang tak dia kenal. Memiliki suami yang dihina tapi tak membalas. Lalu sekarang, semua hinaan itu seakan ditampar akan kejujuran identitas Abraham.


"Ada apa?" Tanya Abraham sambil mengusap pipi Aufa yang terdiam.


Mobil keduanya berhenti karena lampu lalu lintas berwarna merah.


"Apa kamu marah pada keluargaku? Aku ingat keluargaku sangat menghinamu, Sayang. Kamu… "


"Hanya seorang montir miskin, tak pantas bersanding dengan kamu?"


Aufa menunduk. Ya dia malu mendengar kata itu lagi. Jujur dirinya juga sakit mendengar kata itu sekarang.


Jika dulu dia tak merasakan apapun karena tak ada kata cinta di antara mereka. Namun, sekarang semua itu terasa jauh lebih menyakitkan karena dia sangat mencintai Abra.


"Jangan dipikirkan, Sayang. Aku sudah memaafkan semuanya," Ujar Abra sambil menggenggam tangan Aufa. "Aku sudah memaafkan karena mereka tak tahu tentang aku."


"Tapi… "


"Tak ada kata tapi. Kita adalah keluarga. Setiap keluarga pasti memiliki kesalahan dan kita tentu harus membuka pintu maaf itu jika mereka mau berubah!"


Kata itu terucap dari bibir Almeera. Kata yang terus Abraham ingat ketika membenci seseorang atau ketika ada orang yang menghinanya.


"Lebih baik sekarang kita senang-senang. Jangan memikirkan apapun. Saat ini hanya ada aku dan kamu disini. Oke?"


Aufa menatap kedua mata tajam itu. Kepalanya mengangguk dengan sebuah senyuman. Lalu tanpa diduga, dia memajukan wajahnya dan mengecup bibir Abraham dengan cepat.


"Aku mencintaimu, Sayang."


***

__ADS_1


Tawa bahagia tentu terdengar di sana. Sebuah tautan tangan yang tak pernah lepas sejak tadi. Senyum bahagia dengan penuh cinta tentu terlihat jelas di sana.


Tatapan wajah yang begitu membahagiakan. Cinta yang begitu besar dengan semua tingkah laku mereka yang meratukan seorang wanita tentu membuat sang ratu begitu bahagia.


Wajah bahagia dan tingkah lakunya semuanya direkam oleh sosok pria yang tengah memegang ponsel. Ya, siapa lagi jika bukan Abraham.


Pria itu mengarahkan bidikan kameranya ke arah sang istri yang tengah berpose di antara beberapa orang yang berjalan dengan begitu cantiknya.


"Sudah?" Tanya Aufa dengan berjalan mendekati Abraham.


Kepala pria itu mengangguk. Dia memberikan ponselnya pada sang istri.


"Ini bagus sekali," Kata Aufa dengan mata berbinar.


"Ayo sekarang kamu, Sayang. Aku akan mengambil gambar untukmu!" Kata Aufa meminta


Abraham menggeleng. Tempat ini sudah sangat sering dia kunjungi. Wall street dan charging bullbull adalah salah satu destinasi yang wajib dikunjungi. Wall street adalah nama jalan di pinggiran Kota Mahattan yang begitu terkenal karena identik dengan bursa perdagangan dan kepentingan finansial berpengaruh di Amerika.


Dijalan ini juga banyak orang dan muda mudi yang ber OOTD dengan keren lalu mengambil gambar begitu estetik. Semua orang tentu saling berapa foto disana.


"Kalau kamu gak mau. Jadi kita foto bersama!" Ajak Aufa dengan menuntut.


Dia lekas melingkarkan tangannya di pinggang Abra dan membuat pria itu mau tak mau melingkarkan tangannya di pundak sang istri. Lalu Aufa mulai mengulurkan tangannya ke depan sambil memegang ponsel yang menunjukkan kamera menatap ke arah mereka.


"1.. 2..3…"


Bunyi suara kamera ponsel itu terdengar. Aufa mendekatkan kamera itu lagi dengan kening berkerut.


"Senyumlah, Sayang. Plis!" Rengek Aufa dengan suaranya yang manja.


Aufa benar-benar membuat Abraham mengikuti gayanya. Dari bibir cemberut, senyum, tertawa dan juga pose terakhir. Aufa mencium pipi suaminya dan diambil potret oleh gadis itu.


"Satu lagi, Sayang!" Pinta Abraham yang membuat Aufa mengangguk.


Namun, tanpa diduga, saat Aufa hendak mengalihkan tatapannya di depan kamera. Abraham memegang wajahnya agar menatapnya lalu mulai mencium bibirnya.


Dengan sekali klik juga. Aufa mengambil gambar itu. Terkejut sekaligus tak percaya. Tak percaya suaminya akan melakukan pose itu. Kecupan itu berakhir. Namun, tatapan mereka tetap beradu pandang.


"Aku mencintaimu juga, Sayang," Balas Abraham mengingat ucapan cinta istrinya di dalam mobil.


Bibir keduanya sama-sama melengkung ke atas dengan tatapan penuh cinta.


"Kita lihat gambarnya!" Kata Aufa setelah menenangkan jantungnya. Jujur jika boleh jujur, dirinya masih tak percaya dengan kelakuan suaminya.


Abraham adalah orang yang tak bisa ditebak. Abraham adalah suami yang baik, pengertian dan perhatian. Namun, ada beberapa hal yang akan membuatnya terlihat menyebalkan.


"Bagus!" Kata Aufa dengan wajah bahagia.


"Aku akan meletakkan foto ini di atas meja kerjaku!" Bisik Abraham yang membuat Aufa menoleh.


"Meja kerja?" Ulang Aufa penuh tanda tanya.


Kepala Abraham mengangguk. "Aku menerima permintaan Ayah untuk memegang satu perusahaan, Sayang."

__ADS_1


"Lalu bengkel?" Tanya Aufa dengan terkejut.


"Aku akan membangunnya lagi. Tapi sebelum semuanya selesai. Kita akan diam disini!"


"Lalu Mama dan Papaku?"


"Aku akan meminta orang suruhan untuk menjemput mereka, Sayang. Dan juga, kita akan kembali ke Indonesia setelah pelakunya tertangkap!" Kata Abraham dengan ambigu.


Aufa membelalak. Dia menatap suaminya dengan lekat.


"Kamu udah tau siapa pelakunya?"


"Tentu. Aku sudah tahu. Semua hal yang membahayakan kamu, aku harus tahu!"


"Sayang!" Kata Aufa dengan mata begitu terharu.


"Tak ada yang bisa mencelakaimu. Aku akan membuat semua orang yang membuatmu dalam bahaya,membayarnya!"


***


Di Indonesia. Terlihat sebuah paket datang dengan kurir yang mengantar.


"Untuk Tuan Semi," Kata kurir itu pada seorang wanita berpakaian pelayan


"Baik. Terima kasih ya, Pak."


Pelayan itu berjalan ke arah ruang tamu. Disana memang Semi dan Mamanya tengah berbincang ringan. Pria dengan pakaian santai itu menoleh saat pelayan mendekati mereka.


"Ada apa?" Tanya Semi to the point.


"Ada paket untuk Anda, Tuan!"


Semi menerima paket itu. Lalu dia mengusir pelayannya dan membuat mamanya mengerutkan dahi.


"Paket dari siapa, Sayang?"


"Gak ada nama pengirim, Ma," Ujar Semu lalu mulai membuka kotak berwarna merah itu.


Perlahan dia membuka kotak itu. Satu foto membuat jantungnya hampir lepas. Dia melirik ke arah mamanya yang terlihat penasaran.


"Aku akan membukanya di kamar, Ma!" Pamit Semi lalu segera berjalan ke arah kamar mengabaikan panggilan mamanya.


Dia mengunci pintu itu lalu mulai mengambil isi yang ada dalam kotak.


"Brengsek! Siapa yang mengirim ini?" Seru Semi dengan marah.


Dia mengepalkan kedua tangannya. Dia mulai mengeluarkan lagi di dalam isi itu. Semua foto, potret yang mungkin akan membuat mamanya marah. Ah bukan!


Lebih tepatnya membuat keluarganya hancur.


"****! Bagaimana bisa ada yang tahu ini!" Teriak Semi dengan marah.


Kepala pria itu berputar. Dia mulai berpikir sampai akhirnya ingatannya ingat. Ingat akan satu hal?

__ADS_1


"Pria miskin itu! Ya montir sialan!"


~Bersambung


__ADS_2