
...Seorang adik tak bisa mengubah cara berpikiran kakaknya, tapi mereka bisa membantu untuk mengarahkan agar jalan yang diambil tak sia-sia....
...~JBlack...
...***...
Bia, gadis cantik dengan senyuman manis itu mematung tak percaya. Matanya berkedip berulang kali sambil menurunkan ponsel yang baru saja dia dekatkan di telinganya. Dia menatap layar yang masih menyala itu dengan jantung berdegup kencang.
Jujur menerima panggilan dari nomor tak dikenal, lalu suara kakaknya yang begitu dia rindukan tentu membuat dirinya hampir berteriak. Sosok yang beberapa hari ini dikhawatirkan oleh semua orang.
Sosok yang menjadi tersangka utama ibunya masuk ke rumah sakit lagi akhirnya memberikan kabar. Namun, kabar yang dibawa, tujuan menelponnya ternyata semakin membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.
Bia yakin telinganya tak salah mendengar. Bia yakin bahwa apa yang dikatakan kakaknya itu sebuah penjelasan yang sangat amat mengejutkan.
Kakaknya dan istrinya akan datang?
Kak Abra dan Kak Aufa akan kesini?
Itu pertanda jika semuanya akan terbuka?
Apa ini menjadi pertanda bahwa kakaknya akan jujur tentang statusnya?
Jika itu benar, itu berarti kakaknya akan menemui ayah dan ibunya. Tapi, kondisi ibunya sekarang…tidak memungkinkan.
"Kak Bia," Panggil Aya berulang kali yang membuat wanita itu tersentak kaget.
"Iya?" Sahut Bia dengan suara tergagap.
"Ibu memanggil," Kata Aya dengan pelan.
Bia mengangguk. Dia lekas berjalan dengan cepat ke arah ruang rawat ibunya. Entah kenapa kondisi Almeera semakin tahun, semakin menurun.
Ibunya tak bisa mendapatkan pikiran sedikit. Jika ia mendapatkan kabar buruk, maka kondisinya akan drop.
"Ada apa, Bu?" Tanya Bia dengan lembut.
Gadis cantik dengan kerudung di kepalanya itu menggenggam tangan ibunya. Bia menatap sosok wanita yang selalu menjadi pahlawannya itu dengan pandangan sedih.
"Apa ada kabar dari kakakmu, Nak?"
Bia termenung. Dia menatap ibunya dengan ragu. Entah kenapa dia merasa takut untuk mengatakan yang sebenernya.
"Bia," Panggil Almeera lagi dengan pelan.
Tatapan seorang ibu yang rindu pada putranya. Tatapan seorang ibu yang khawatir dengan kondisi putranya tergambar jelas di sana.
Almeera adalah sosok ibu yang selalu adil pada empat orang putra putrinya. Dia selalu menanyakan kabar, khawatir dan berusaha memberikan kasih sayang, perhatian yang sama pada mereka.
"Ada, Bu," Jawab Bia dengan jujur.
"Bagaimana dia? Apa dia baik-baik saja? Apa kakakmu…"
"Ibu," Sela Bia agar Ibunya tenang. "Kakak hanya bilang agar Bisa menjemputnya di bandara."
Bibir perempuan yang tak lagi muda itu tersenyum begitu cerah. Namun, berbeda sekali dengan Bia yang dipenuhi ketakutan.
"Kamu serius?"
__ADS_1
"Iya, Bu. Bia akan menjemputnya nanti," Ujar Bia dengan yakin.
"Syukurlah. Itu tandanya Kakakmu baik-baik saja. Berarti firasat ibu hanya karena rindu pada Kakakmu," Kata Almeera dengan mencoba berpikir positif.
Bia tak menjawab lagi. Kepalanya hanya mengangguk dan dia mencium tangan ibunya yang dia genggam.
"Ibu harus banyak istirahat. Jangan terlalu banyak pikiran. Aku, Ayah, Kak Abra, Thalla dan Aya bakalan khawatir sama Ibu," Kata Bia mengubah topik.
Almeera mengangguk. Dia mengusap kepala putri keduanya ini dengan lembut.
"Ibu akan berusaha selalu sehat untuk kalian."
***
Abraham menggandeng tangan istrinya dengan erat semenjak kedua kakinya turun dari pesawat. Langkah kaki mereka semakin yakin dengan Aufa yang berjalan sambil menatap ke sekitarnya dengan pandangan tak percaya.
Jujur Aufa rasanya bertanya padahal. Sejak masih di bandara soekarno-hatta. Sejak dia tahu kepergian mereka menuju ke New York.
Namun, lagi lagi perempuan itu ingat. Ingat apa yang dikatakan suaminya dan itu entah kenapa membuatnya menurut. Menurut agar tak bertanya apapun dan percaya pada sosok Abraham.
"Ayo, Bia pasti sudah menunggu kita," Kata Abraham setelah mereka mengantri koper mereka.
Abraham menarik koper miliknya dan Aufa membawa koper yang lebih kecil. Tangan mereka terus terkait. Tak ada yang ingin melepaskan dengan Abraham yang mencoba mencari dimana adiknya berada.
"Bi," Panggil Abraham saat sebuah lambaian tangan mengarah ke arah mereka.
Gadis cantik itu berlari ke arah Abraham dan Aufa. Entah kenapa senyuman Aufa melengkung ke atas saat matanya bertemu pandang dengan tatapan mata adik iparnya itu.
"Hai, Kak Aufa. Assalamu'alaikum," Kata Bia lalu mencium punggung tangannya.
"Selamat datang di tempat tinggal kami," Ujar Bia dengan pelan yang membuat mata Aufa mengerjap.
Bia melepaskan pelukannya. Dia terkejut saat tubuh Aufa menegang.
"Eh… "
Abraham menyentil lengan adiknya yang membuat Bia menoleh ke arahnya.
"Kakak belum cerita?"
"Cerita apa?" Sela Aufa dengan cepat.
Kepala Abraham menggeleng.
"Kita akan menceritakan semuanya ketika di rumah," Kata Abraham dengan mulai menarik kopernya lagi.
"Ayo kita pulang," Ajak Abraham yang tanpa diduga ditahan oleh Bia lengannya.
"Gak ada orang di rumah, Kak," Kata Bia mengatakan dengan pelan.
Kening Abraham mengerut. "Kemana semua orang?"
Terlihat Bia menarik nafasnya begitu dalam. Dia menatap Abraham dan Aufa bergantian.
"Ibu sempat mendapatkan firasat buruk. Terus Kakak gak ada kabar. Alhasil kondisi Ibu drop lagi," Ujar Bia dengan jujur.
Abraham merasa kaget. Dia merasa khawatir dengan kondisi ibunya.
__ADS_1
"Terus sekarang?"
"Ibu ada di rumah sakit," Cicit Bia yang membuat Abraham menatap wajah istrinya.
Entah apakah ini waktu yang tepat. Namun, dirinya sudah mengambil keputusan. Dia tak akan mundur lagi. Dirinya harus tetap maju dan menghadapi semuanya.
"Ayo kita ke rumah sakit!" Ajak Abraham dengan tekad bulatnya.
Akhirnya mereka bertiga lekas masuk ke dalam mobil. Bia mengambil alih setir kemudi. Dia belum melihat luka yang ada di dahi dan lengan Abraham karena pria itu memakai penutup kepala dan jaket untuk membalut tubuhnya.
Perjalanan mereka benar-benar ditempuh dengan kecepatan tinggi. Dibalik wajahnya yang kalem, Bia memiliki sejuta keahlian dalam dirinya. Dia bisa mengendarai motor dengan cepat karena ikut latihan balapan mobil atau motor.
Hal itu tentu didukung oleh orang tuanya agar tak salah tempat.
"Pembawaanmu semakin bagus!" Kata Abraham menyindir.
Bia melirik sejenak. Dia tak berniat menjawab sampai akhirnya mereka sampai di parkiran rumah sakit. Ketiganya lekas turun dan mengikuti langkah Bia menuju ruangan ibunya.
"Kamu tunggu disini ya, Sayang," Pinta Abraham pada Aufa.
Aufa mengangguk. Perlahan Bia dan Abraham masuk ke ruang rawat ibunya dan di sana sudah ada dua adiknya dan ayahnya yang datang.
"Assalamu'alaikum, Ibu," Kata Abraham lekas mendekat. "Maafin Abang, Bu. Lagi-lagi bikin ibu sakit."
Almeera mencium dahi putranya. Lalu dia memeluk putra pertamanya dengan sayang.
"Ibu melihatmu baik-baik saja sudah tenang," Kata Almeera lalu melepaskan pelukannya.
Namun, perlahan dia menatap keanehan. Entah kenapa dia merasa melihat wajah putranya seperti pucat.
"Abang gakpapa? Kenapa muka Abang pucat?" Tanya Almeera khawatir.
Perlahan ibu empat anak itu membuka topi putranya yang membuat Abraham meringis. Hal itu semakin membuat Almeera penasaran.
"Ini luka apa, Bang? Ini kenapa?" Tanya Almeera khawatir.
Semua orang mendekat. Bia juga ikut mendekat. Matanya membelalak tak percaya saat dia baru tahu itu sekarang.
"Kamu kenapa, Bang? Kamu habis jatuh?" Tanya Bara yang salam khawatir.
Abraham mencoba menenangkan semuanya. Dia menatap ibu, ayah dan adik-adiknya bergantian.
"Abang akan cerita semuanya tapi ada sesuatu yang ingin Abra tunjukkan pada kalian," Ujar Abraham dengan pelan sebelum dia menceritakan semuanya.
Semua orang terdiam. Mereka menatap Abraham yang mulai membuka pintu ruang rawat dan mengulurkan tangannya.
"Ayo!"
Uluran tangan itu bersambut. Semua mata memandang sebuah tangan perempuan yang menggenggam tangan Abraham dan perlahan sosok dirinya mulai terlihat dan masuk ke ruang rawat Almeera.
Mereka semua terkejut. Seakan dipenuhi tanda tanya. Hanya Bia saja yang begitu ketakutan akan apa yang terjadi sebentar lagi. Dia hanya khawatir dengan kondisi ibunya.
"Siapa dia, Bang?" Tanya Bara dan Meera bersamaan.
"Kenalkan, Yah, Bu. Dia Aufa, istri Abang."
~Bersambung
__ADS_1