
...Ketika cinta yang sudah berbicara. Pengorbanan seperti apapun pasti dilakukan demi orang yang kita cintai. ...
...~Abraham Barraq Al-Kahfi...
...****************...
Aufa benar-benar tak percaya akan hal itu. Namun, melihat bagaimana suaminya yang seharian ini tak makan, mual muntah ketika melihat makanan membuatnya percaya.
"Apa Abra sama seperti Papa, Ma?"
Mama Bela mengangguk. "Kalau dilihat dari efeknya yang sama. Mama yakin yang mengalami mual muntah bukan kamu tapi Abraham, Nak."
"Apa bisa gitu?"
"Bisa," Jawab Almeera yang sejak tadi diam. "Kalau kata orang karena suaminya terlalu cinta mangkanya dia yang kena efek itu."
"Dia yang mengalami morning sickness dan istrinya baik-baik saja."
Entah kenapa perasaan Aufa bukannya bahagia dan senang malah merasa sedih. Apalagi dia mampu melihat suaminya yang tak baik-baik saja. Tak bisa makan, melihat saja sudah mual dan muntah.
"Sayang, maafin aku," Rengek Aufa dengan perasaan bersalah.
Abraham yang mukanya terlihat pucat itu tersenyum. Dia mengusap wajah Aufa dengan sayang. "Setidaknya kamu gak tersiksa buat makan, Sayang."
"Tapi kamu?"
Aufa khawatir. Ya sangat khawatir. Bagaimana jika suaminya terus tak mau makan.
"Itu akan berjalan beberapa bulan, Nak. Biasanya hanya trimester pertama," Kata Mama Bela yang membuat Aufa mengangguk.
"Abang nikmatin saja. Jangan dibikin pikiran. Mama, Ibu dan Aufa serta yang lain bakalan bantuin Abang. Kalau Abang mau makan sesuatu, Abang tinggal bilang sama kami, okee?"
Abraham mengangguk. Apa yang dikatakan mertua dan ibunya memang kadang tak masuk akal. Namun, dia tahu tentang morning sickness itu dan sering dialami oleh ibu hamil.
Tapi kali ini hal berbeda dia dapatkan. Bukan istrinya yang mengalami tapi dirinya. Namun, entah kenapa hal itu malah membuatnya bersyukur.
Setidaknya istrinya tak mengalami masalah tentang makanan dan bisa makan dengan lahap demi anak mereka.
"Sayang," Panggil Aufa khawatir saat suaminya hanya menatapnya dalam diam.
"Hmm?"
"Kenapa?"
Kepala Abraham menggeleng. "Aku cuma seneng bisa rasain apa yang ibu hamil rasain. Aku bakalan belajar banyak hal tentang ini, Sayang."
"Tapi itu menyiksa…"
"Akan lebih menyiksa kalau aku lihat kamu yang mual muntah," Kata Abraham dengan romantis sambil mengusap pipi istrinya yang lembut. "Kamu harus banyak makan oke. Demi anak kita."
"Kamu juga. Harus paksa makan! Aku gak mau kamu malah semakin sakit karena ini. Yah?"
Abraham mengangguk. Dia tahu istrinya khawatir tentang kondisinya. Namun, mau bagaimana lagi. Ini sudah terjadi padanya dan harus dia jalani.
"Iya. Aku bakalan berusaha buat makan demi kamu."
Waktu semakin larut. Semua makanan yang tadi berjajar rapi telah habis. Ya makanan yang dibuat oleh mereka habis tak bersisa. Semua orang benar-benar makan dengan lahap dan begitu terasa kekeluargaannya.
"Sayang, malam ini aku tidur dengan Mela yah. Boleh?'" Tanya Aufa dengan menatap suaminya begitu pelan.
Abraham yang duduk disampingnya menoleh. Kepalanya mengangguk. Dua begitu paham jika istrinya pasti merindukan sahabatnya itu.
"Hanya malam ini saja. Oke?"
Aufa mengangguk sambil tersenyum. Dia sangat amat bahagia. Bahagia karena suaminya benar-benar mengizinkan dirinya.
"Beneran 'kan, Sayang?"
"Iya. Kamu boleh tidur sama Mela tapi hanya malam ini!"
__ADS_1
Akhirnya dua sahabat itu bertos ria. Ya Aufa hanya ingin mengulang kenangan mereka. Kenangan dimana mereka selalu tidur bersama, bercerita sama larut malam dan menceritakan semua keluh kesah mereka.
Hubungan persahabatan yang begitu dekat membuat keduanya tak ada lagi hal yang ditutupi. Baik Aufa maupun Mela saling terbuka. Masalah apapun keduanya akan ceritakan. Ya, kecuali masalah kemarin. Masalah pernikahan Aufa dan Abraham.
"Ayo kalian tidur!" Kata Almeera meminta menantunya.
"Iya, Bu."
Semua orang akhirnya masuk ke dalam rumah. Semua makanan dan alat barbeque sudah dibersihkan dibantu oleh pelayan. Mela dan Aufa berjalan bersama ke arah kamar untuk tamu.
"Kalau ada apa-apa panggil aku ya, Sayang," Kata Abraham mengantar istrinya sampai di depan pintu kamar tamu.
Aufa mengangguk. Dia memeluk Abraham dengan erat saat Mela sudah masuk lebih dulu ke dalam kamar tamu.
"Jangan nakal ya malam ini. Jangan rindu aku. Hanya malam ini aku tidur disini," Kata Aufa dengan pelan.
Abraham terkekeh pelan. Dia membalas pelukan istrinya dengan erat. Pelukan yang begitu mengeratkan dan seakan keduanya tak mau dilepaskan.
"Udah, Sayang. Ayo!" Aufa menepuk lengan Abraham yang membuat pria itu setengah tak rela melepaskan pelukannya. "Selamat tidur suamiku paling tampan. Aku mencintaimu!"
Setelah mengatakan itu Aufa mencium bibir Abraham. Keduanya berciuman dengan begitu mesra. Seakan tak ada lagi hari besok untuk keduanya bertemu dan saling bercumbu satu dengan yang lain.
"Emmm Sayang!" Aufa melepas ciumannya.
Dia tersenyum lalu menghapus air liur yang belepotan di bibir suaminya.
"Ayo sana ke kamar. Udah!"
"Masih mau peluk kamu!" Rengek Abraham dengan manja.
Aufa tertawa. Kepalanya menggeleng dan menunjuk ke arah tangga.
"Iya iya, Sayang. Yaudah aku ke kamar yah!"
Aufa mengangguk. Dia melambaikan tangannya dengan begitu mesra lalu memberikan ciuman jarak jauh.
"Bye, Sayang. I love you!" Kata Aufa sebelum dia masuk ke dalam kamar tamu dan langsung mendapat lipatan tangan serta celengan kepala oleh Mela.
"Yang bucin ini siapa hmm? Kamu atau Abraham?" Tanya Mela yang penasaran.
Aufa tertawa tanpa malu. Namun, apa yang dikatakan oleh sahabatnya memang benar. Bucin di antara keduanya sudah tak tertolong.
Rasa bucin keduanya sudah melekat antara Aufa dan Abraham. Keduanya bahkan tak malu menunjukkan cinta mereka di depan keluarga dan sahabat.
"Kami berdua!"
Mela menggeleng. Dia duduk di samping sahabatnya dan menyangga tangannya.
"Gimana caranya kamu bisa jatuh cinta sama pria yang gak pernah kamu kenal, Fa?"
Aufa meletakkan bantal kursi tamu di perutnya. Dia menyandarkan punggungnya di sofa sambil melihat ke depan. Seakan ingatannya tengah memutar kejadian apa yang membuat mereka sampai di titik ini.
Titik yang tak pernah keduanya bayangkan sejak dulu. Titik yang tak pernah ada dalam benak mereka. Saling mencintai, menerima bahkan sampai ada anak di antara mereka.
Jika mengingat bagaimana dulu mereka saling membenci. Jika mengingat bagaimana dulu mereka bertemu dan saling marah. Titik ini seperti tak akan pernah ada.
"Dengan waktu, Mel!" Jawab Aufa dengan tegas. "Karena terbiasa bersama, maka cinta itu datang diantara kita."
Aufa menatap sahabatnya dengan pelan. Dia menganggukkan kepalanya saat Mela terlihat tak percaya.
"Aku sendiri juga tak tahu apa yang pasti tapi cintaku dan dia terasa begitu nyata sekarang. Mungkin jika dilihat pertemuan aku dan Abraham. Rasanya aku berpikir akan berakhir menjadi janda."
Aufa terdiam. Dia mengatur nafasnya ketika dirinya merasa sesak dengan posisi duduknya. "Aku juga berpikir mencari cara untuk lepas dari Abraham dulu. Bagaimana caranya bisa cerai dengannya."
"Tapi ternyata rencana Tuhan lebih indah daripada rencanaku."
"Iya," Sahut Mela mengangguk. "Ternyata kisah cintamu berakhir indah dan kamu ditemukan dengan pria yang tepat!"
"Pria tanggung jawab, udah ganteng, manis, kaya aduhh paket komplit!" Kata Mela sambil meletakkan tangannya di wajah seakan membayangkan wajah Abraham dari dekat.
__ADS_1
"Aww!" Pekik Mela mengusap kepalanya yang sakit karena pukulan Aufa. "Kok dipukul sih?"
"Biar kamu gak nakal bayangin suami aku!"
Mela terkekeh pelan. Apa yang dikatakan sahabatnya memang benar. Dirinya membayangkan sosok Abraham benar-benar begitu nyata.
Jujur jika dirinya menjadi Aufa. Dia juga tak menolak dinikahkan oleh pria tampan, manis dan seksi. Pria dengan segala juga pahatan wajah yang sempurna.
"Jangan bayangin suami aku!" Dengus Aufa yang membuat Mela tertawa.
"Aku cuma tertawa aja, Fa. Aku cuma gak nyangka kamu udah bucin. Sekarang tinggal aku yang masih sendiri!"
Mela mengusap dadanya dengan ekspresi memelas.
"Aku masih jomblo huhu." Aufa tertawa.
Dia mendekati sahabatnya dan mengusap kepalanya itu.
"Aufa do'ain semoga kamu segera dapat jodoh Oke. Ketemu jodoh kamu disini. Di New York!"
Mata Mela melebar. Dia memukul lengan sahabatnya dan mendelik sebal.
"Kamu suruh aku dapat cowok sini biar deketan sama kamu gitu?" Dengus Mela dengan kesal. "Kuliah aja belum selesai. Masak iya harus dapat lakik sini. Pulang pergi dong aku nanti atau gak LDR an. Ah gak mau!"
"Ih kan entar lagi kamu skripsi. Jadi gakpapa!"
Mela menggeleng. "Semoga jodohku orang Indonesia aja. Aku gak mau bule bule. Banyak gombalnya dan tidur sana sini! No no no!"
"Gak semua bule hey!"
"Tapi semua bule pasti pernah!"
Aufa menggeleng. "Nggak, Mel!"
"Iya, Fa!"
"Nggak!"
"Iya, Fa!"
"Nggak!"
"Iya!"
"Nggak!"
"Yaudah. Ayo kita tidur sudah malam!" Kata Aufa mengalihkan pembicaraan mereka. "Ibu hamil gak boleh tidur malam-malam."
Mela menarik tangan Aufa. "Ayo kamu ke kamar mandi duluan."
"Ih pergi dari pembicaraan," Kata Aufa meledek.
"Biarin. Ayo tidur! Nanti Abraham datang dan marah sama aku karena membiarkan istrinya tidur terlalu larut. Kan bisa bahaya!"
Aufa hanya tertawa melihat tingkah sahabatnya. Namun, apa yang dikatakan oleh Mela bisa jadi benar.
Suaminya bisa marah karena melihatnya tidur terlalu malam. Dia sangat ingat betul nasehat suaminya untuk menjaga kesehatan dia dan anak mereka.
"Oke kita tidur. Aku akan berganti pakaian dulu!" Kata Aufa sampai dia ingat sesuatu."Eh tapi aku gak bawa baju, Mel!"
"Oww!" Aufa tertawa lebar saat Mela mengambil sesuatu dalam kopernya.
"Bukankah dari dulu selalu begitu. Milikmu milikku dan milikku milikmu."
Aufa tertawa. Namun, dia mengangguk akan ucapan sahabatnya itu. "Kamu benar dan itu terjadi kecuali tentang Abraham."
Mela tertawa. Namun, wanita itu mengacungkan jempolnya dengan cepat. Apa yang dikatakan sahabatnya memang benar. Semua bisa mereka bagi kecuali Abraham.
"Yaudah sana cepetan. Aku juga udah ngantuk tau!"
__ADS_1
~Bersambung