
...Terkadang masa kecil akan menjadi suatu hal yang kita rindukan di masa dewasa. ...
...~JBlack...
...****************...
Reyn kecil menganggukkan kepalanya. Untuk Aya, dia tak pernah bersikap egois. Apa yang Aya inginkan apa yang gadis kecil itu mau, Reyn selalu memberikannya dan mengalah lalu mengikuti kesukaan Aya.
Akhirnya kedatangan Almeera pada keduanya membuat keduanya menoleh. Almeera berjongkok dan menatap kedua anak kecil itu bergantian.
"Ane, ayo berangkat, Nak!"
Si kembar Athalla dan Athaya mengangguk. Mereka perlahan turun. Sampai akhirnya Reyn menarik tangan Aya dan membuat gadis itu menoleh.
"Apa Reyn boleh duduk semobil dengan Aya?" kata Reyn meminta izin dengan mata penuh harap.
"Kamu bersama orang tuamu, Kan?" tanya Aya dengan jujur.
"Iya. Tapi... " jeda Reyn dengan kedua matanya yang penuh harap. "Reyn mau sama Aya."
Anak lelaki kecil itu benar-benar hendak menangis. Matanya berkaca-kaca seakan dia benar-benar berharap diizinkan untuk bersama Aya.
"Jangan menangis, Nak," kata Almeera menghibur. "Kamu boleh bersama kami. Ayo!"
Bagaimanapun Almeera tak tega pada putra sahabatnya. Dia tahu sejak kecil Reyn sangat menyukai putrinya. Bahkan mengikuti putrinya kemanapun.
__ADS_1
Hal itu tentu membuat Athaya cemberut. Dia merasa marah dengan keputusan mamanya. Dia juga merasa kesal dan risih dengan sikap Reyn yang selalu mengikutinya. Dia selalu melihat Reyn selalu ingin ada di dekatnya. Tak mau jauh darinya.
Aya tak membenci Reyn tapi dia ingin anak itu tau batasan dengannya.
"Reyn, ayo!" panggil Reno saat anak-anak kecil itu mulai keluar dari rumah.
"Ren, biarkan Reyn bersama kami. Kamu berangkatlah!" kata Almeera yang membuat senyum di bibir Reyn terlihat.
Reyn benar-benar bahagia. Apalagi saat semua orang mulai masuk ke dalam mobil. Mereka semua ikut mengantar kepergian Almeera dan keluarga.
Hanya keluarga Jonathan yang tak ada dan mengantat mereka.
Almeera tersenyum lucu. Dia melihat putra sahabatnya sejak tadi memegang tangan putrinya. Hal itu membuat Aya cemberut dan kesal. Namun, Almeera tak menegurnya karena dia yakin jika setelah ini. Keduanya akan saling merindukan momen kebersamaan ini.
"Ma, Apa Kak Ane gak ikut anter kita?" tanya Aya untuk mengabaikan rasa kesalnya pada Reyn.
Aya mengangguk. Dia tak lagi bertanya dan mencoba menikmati perjalanan ke Bandara. Sedangkan Almeera, dia memegang tangan Bara yang lain dengan pelan.
Dia menggenggam tangan itu dengan tatapan mata penuh harap dan kesedihan. Almeera sebenernya belum. sepenuhnya ikhlas untuk pergi.
Namun, mau tak mau, suka tak suka. Dia harus siap dan ikhlas. Dia harus ikut kemanapun suami dan keluarganya berada.
Apalagi ini menyangkut bisnis keluarga, pekerjaan suaminya dan semua kebutuhan keluarganya. Jadi mau tak mau, dia harus siap ikut kemanapun Bara pergi.
Apalagi pembukaan cafe terbarunya, cabang caranya, dan semuanya adalah bukan bisnis yang mudah. Semuanya benar-benar harus mereka mulai dengan sempurna agar semua berjalan dengan lancar.
__ADS_1
Akhirnya perjalanan itu berakhir. Tepat dengan keluarga Jonathan yang baru saja sampai juga di Bandara.
Bia dan Abraham yang duduk dengan kakek neneknya mulai turun. Mereka adalah anak Bara dan Meera yang dekat dengan Papa Darren dan Mama Tari.
Apa yang keduanya inginkan selalu diusahakan diwujudkan oleh kedua orang tua Almeera. Kasih sayang mereka benar-benar nyata.
"Halo, Kak," sapa Almeera saat Kayla, Jonathan serta Ane mendekat.
"Hai, Reyn," sapa Ane yang langsung berlari ke arah putra Reno tersebut.
"Hai, Kak Ane," balas Reyn sambil melambaikan tangannya.
Mata Ane turun dan memandang tangan Reyn yang terus memegang tangan Athaya. Tatapan gadis cilik seakan sedih dan hendak menangis.
"Reyn sama Kak Ane aja, yuk!" ajak Ane menarik tangan Reyn.
Putra Reno itu menggeleng.
"Reyn mau sama Aya aja, Kak. Entar lagi Aya bakalan pergi dan ninggalin Reyn," kata Reyn yang membuat Athaya menoleh.
"Kan bisa telponan?" ujar Athaya mengingatkan Reyn pada obrolan mereka tadi.
"Iya bisa tapi gak bisa main bareng, 'kan?" ucap Reyn dengan polosnya.
"Ya gapapa, Reyn. Nanti main sama Kak Ane aja yah. Kak Ane tetap disini kok," kata putri Jonathan yang masih memegang tangan Reyn.
__ADS_1
"Maunya sama Aya juga, Kak," cicit Reyn yang membuat Ane mulai sedih.
~Bersambung