Rahasia Menantu Billionaire

Rahasia Menantu Billionaire
Kedatangan Bia


__ADS_3

...Hal paling membahagiakan adalah saat dimana semua keluarga berkumpul dan menghabiskan waktu bersama. ...


...~JBlack...


...****************...


"Bia!" Teriak Aufa yang sama-sama bahagia.


Perempuan dengan pakaian jilbab itu akhirnya melambaikan tangan ke arah Aufa. Saat ini mereka ada di bandara. Ya, Abraham mengajak istrinya menyusul sang adik. Bia akan tinggal bersama mereka untuk sementara waktu.


"Assalamu'alaikum, Mbak Aufa," Kata Bia lalu memeluk kakak iparnya itu.


Hubungan kakak ipar dan adik ipar itu memang sangat amat begitu dekat. Ya, baik Aufa ataupun Bia, keduanya saling menyayangi satu dengan yang lain. Mereka saling support satu dengan yang lain hingga membuat hubungan keduanya semakin hari semakin dekat dan lengket.


"Waalaikumsalam," Sahut Aufa dan Abraham bersamaan. "Kakaknya siapa, yang dipeluk siapa."


Abraham pura-pura cemburu. Hal itu membuat Bia tertawa lirih. Dengan pelan dia segera melepas pelukannya dengan Aufa dan bergeser mendekat ke arah kakaknya.


"Halo, Abang," Kata Aufa lalu memeluk kakaknya yang seperti enggan memeluknya.


Bia tahu kakaknya pura-pura marah. Dia tahu kakaknya pura-pura tak mau dia peluk.


"Bia meluknya kan gantian. Masak gitu aja ngambek sih?" Kata Bia mencoba untuk membuat kakaknya senang.


Perempuan itu tersenyum. Dia melepas pelukannya dan mencubit kedua pipi abangnya itu.

__ADS_1


"Udah mau jadi calon Ayah kenapa masih ngambekan?"


"Abang gak ngambek!" Kata Abraham dengan memutar matanya malas.


"Yakin gak ngambek?"


"Iya!" Seru Abraham tak mau mengalah.


"Baiklah-baiklah. Kakakku gak ngambekan kok. Cuma tukang marah!"


Bukannya marah atau tersinggung. Abraham tertawa. Dia juga akhirnya menyentuh perut adiknya dan menggelitiknya. Hal itu tentu membuat Aufa yang melihatnya ikut bahagia.


Dia sangat bahagia hubungan adik kakak sangat akur. Berbeda dengan dirinya yang entah kenapa seakan ada jarak yang jauh dengan kakaknya.


"Ayo kita pulang!" Kata Abraham yang mengajak istri dan adiknya kembali ke rumah.


"Kamu sudah makan, Bi?" Tanya Abraham saat dia baru saja memasukkan kopernya ke dalam bagasi.


Perlahan ketiganya mulai masuk ke dalam mobil setelah Abraham menutup pintu bagasi. Abraham duduk dengan tenang dan mulai melajukan mobilnya.


"Belum, Kak!" Jawab Bia sambil menggeleng.


"Baiklah pas sekali kalau begitu. Kita akan makan di rumah. Ibu sudah memasakkan makanan kesukaan kamu!" Ujar Aufa yang membuat Bia mengangguk senang.


"Oh iya, Kak. Kabar istrinya Om Jonathan gimana?"

__ADS_1


"Alhamdulillah udah masa pemulihan. Ibu dan Ayah ikut menjaga mereka. Tapi… "


"Tapi apa?"


"Lusa Ayah, Ibu dan si kembar harus sudah pulang ke New York. Pekerjaan Ayah ternyata membutuhkan Ayah. Jadi mereka tak bisa terlalu lama!"


Bia terdiam cukup lama. Dia mencoba berpikir. Ah lebih tepatnya berpikir waktu yang berapa lama Ayah dan ibunya disini.


"Bukankah Ayah dan Ibu masih baru dia minggu disini, Kak?"


"Terakhir aku bilang aku menunda keberangkatan kesini, kan?"


"Iya," Jawab Abraham dengan menatap wajah adiknya dari cermin kecil di atasnya. "Kamu benar tapi semalam Ayah mendapatkan panggilan dan harus segera kembali!"


Bia terlihat menghela nafas berat. Kepulangan dirinya kemari karena merindukan sosok Ayah dan ibunya ternyata hanya bisa dia luapkan dengan waktu yang hanya sebentar.


Namun, mau bagaimana lagi. Suka tak suka, Bia harus menerimanya. Dia juga sadar jika tanggung jawab ayahnya itu besar. Sebagai seorang pemilik perusahaan dan menjalankannya sendiri. Lalu beberapa restoran yang berjalan.


Membuat Ayahnya begitu gigih dan semangat mengatur semuanya meski usianya tak lagi muda!


Hal itulah yang membuat Bia salut pada ayahnya dan ingin mengikuti jalan ayahnya yang tak pernah pantang menyerah.


Akhirnya perjalanan itu berakhir. Saat Bia baru saja turun dari mobil. Keluarga yang sudah menunggunya sudah berdiri di depan pintu dengan bahagia.


"Putriku!"

__ADS_1


~Bersambung


__ADS_2