
...Masa kehamilan adalah masa yang sulit untuk seorang calon ibu baru. Dia harus mengalami banyak hal dan beradaptasi dengan hal-hal baru untuknya....
...~Aufa Falisha...
...****************...
Waktu terus beranjak naik. Semua orang mulai tertidur dengan lelapnya. Namun, berbeda dengan seorang perempuan yang sejak tadi hanya menggeliat kesana kemari. Bergerak tak beraturan dengan kegelisahan dalam pikirannya.
Dia terus memikirkan sesuatu yang membuatnya menelan ludahnya sejak tadi. Perutnya seakan merasa lapar terus dan ingin memakan makanan itu. Tak tahan, akhirnya perempuan itu beranjak dari tidurnya.
"Aku lapar sekali," gumamnya sambil mengusap perutnya yang masih rata. "Kamu lapar juga, 'kan, Sayang?"
Perlahan perempuan itu menoleh ke samping. Disana, ia bisa melihat suaminya yang sedang terbaring lelah. Jujur seharian ini setelah mengantar dirinya ke dokter. Abraham mengerjakan pekerjaannya dengan ayahnya di ruang kerja.
Mereka berdua keluar hanya saat makan lalu kembali masuk ke ruang kerja melanjutkan pekerjaannya. Suaminya itu baru menemui dirinya dan masuk ke dalam kamar saat waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Apa aku membangunkan Abra saja?" Kata Aufa dalam hati dengan perasaan ragu.
Tak tega untuk membangunkan suaminya. Akhirnya dia mencoba menahan keinginannya. Ia lebih memilih keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur.
Biarlah dirinya mencari makanan lain untuk mengganjal perutnya. Daripada harus membangunkan suaminya di jam seperti sekarang ini dan membuatnya kekurangan jam tidur.
Tapi, sepertinya malam ini bukan malam yang beruntung untuk Aufa. Di dalam kulkas, tak ada makanan seperti roti yang bisa ia makan. Bahkan isi kulkas itu terlihat begitu sedikit yang membuat Aufa yakin jika mertuanya belum belanja.
"Aku harus masak apa?" ucapnya pada dirinya sendiri.
Dia lupa bahwa dirinya belum terlalu pandai memasak. Aufa menutup pintu kulkas dengan kecewa. Dia benar-benar tak bisa menahan rasa laparnya. Sampai akhirnya sebuah tangan melingkar di perutnya dan hembusan nafas di lehernya.
"Kamu lapar?" Bisik seorang pria pelan di telinganya.
Aufa tahu suara ini. Dia sangat mengenal suaranya. Suara sang suami yang sangat ia cintai. Suami yang selalu ada untuknya.
"Ngagetin aja sih!" ujar Aufa memukul pelan lengan suaminya.
"Ranjang kosong tanpa kehadiranmu, Sayang. Aku merasa dingin. Mangkanya aku kesini," bisik Abra dengan suara serak khas orang bangun tidur. "Kamu lapar kan?"
Abra bertanya sekali lagi. Tangannya mengusap perut istrinya yang masih rata dengan pelan.
Perlahan tubuh Aufa berbalik. Pandangan keduanya berhadapan hingga Abra mampu menatap sesuatu dalam wajah istrinya.
"Kenapa? Kamu kok kayak gelisah gitu?" tanya Abra pelan sambil mengusap rambut Aufa yang ada di dahinya.
"Iya. Aku lapar. Sepertinya anak kita ingin sesuatu malam ini," katanya mencoba jujur.
Aufa tak mau menutupi keinginannya. Mau bagaimana lagi. Dia menginginkan itu sekarang dan ingin memakannya. Rasanya bayangan makanan itu terbayang dan berputar di kepalanya dan membuatnya susah untuk tidur.
"Makan, Sayang."
"Tapi…" Aufa terlihat ragu.
Perempuan itu seperti sedang kebingungan untuk menjawab pertanyaan Abraham. Dia takut jika suaminya marah. Dia takut jika dirinya mengatakan yang sebenarnya tentang keinginannya. Abra tak mau menurutinya.
"Kenapa?" tanya pria itu dengan lembut. "Katakan, Sayang. Kamu ingin makan apa?"
Dia meraih tangan istrinya dan menciumnya dengan lembut. Kegelisahan dalam diri Aufa tentu terlihat begitu jelas kentara.
"Aku pengen makan sesuatu," cicitnya pelan sambil menunduk.
Bibir Abra tertarik ke atas. Dia mengusap kepala istrinya dengan sayang. Pria itu menjadi sadar bila istrinya sedang mengindam.
Satu hal yang dia lihat dan baca di internet. Jika akan ada masa dimana seorang perempuan hamil menginginkan sesuatu sampai tak bisa ditunda.
__ADS_1
"Makan apa, Sayang?"
"Mmmm," Kata Aufa dengan ragu.
"Mau makan apa?" Ulang Abra dengan begitu lembut.
Aufa mendongak takut-takut. Namun, melihat bagaimana suaminya itu menatapnya dengan lembut membuatnya sedikit demi sedikit memberanikan dirinya untuk jujur.
"Aku pengen makan cake coklat di atasnya keju."
Abra menyipitkan matanya. Dia menelan ludahnya seakan membayangkan di malam hari makan coklat yang legit dengan keju di atasnya.
"Kamu serius, Sayang? Mau makan itu?" Tanya Abra dengan pelan.
Dia hanya ingin memastikan. Memastikan jika makanan itu yang diinginkan istrinya. Dia ingin membelikan makanan itu untuknya.
Ya. Ngidam pertama kali. Makanan pertama yang istrinya minta di malam hari ini.
"Iya, Sayang. Aku ingin itu!"
"Aku akan membelinya," Ujar Abraham dengan serius.
"Beneran?" Tanya Aufa dengan matanya yang berbinar.
"Tentu. Untukmu dan anak kita. Apapun akan aku belikan!"
Mata Aufa berkaca-kaca. Dia merasa terharu dalam hati. Jujur dirinya tahu suaminya sedang lelah. Dia sadar Abraham pasti mengantuk. Namun, ternyata antusias suaminya masih begitu besar.
Suaminya masih mau menuruti keinginannya. Suaminya masih sangat bersemangat memenuhi keinginannya.
"Aku berangkat ya!" Pamit Abra pada Aufa.
"Aku ikut. Boleh?"
"Ini sudah malam, Sayang. Kamu disini aja yah?" Kata Abraham membujuk.
Kepala Aufa menggeleng. "Aku ingin makan di tempatnya, Sayang. Please!"
Aufa menatap suaminya dengan pandangan penuh harap. Dia mengedipkan matanya berulang kali mencoba bernegosiasi. Dia ingin ikut, bahkan ingin ingin ikut mencari cake keinginannya.
"Baiklah. Ayo!"
Abraham beranjak berdiri. Dia berjalan ke arah lemari pakaian. Mengambil dua jaket dan kaos kaki untuknya dan untuk sang istri.
Dengan penuh ketelatenan. Dengan penuh perhatian, Abraham mulai memakaikan jaket itu ke tubuh Aufa. Dia menghadiahkan satu kecupan di dahinya saat jaket itu sudah membalut tubuhnya dengan hangat.
"Duduk dulu, Sayang!"
Aufa menurut. Dia melihat bagaimana Abraham memakaikan kaos kaki di kakinya. Jujur perilaku suaminya sekarang semakin membuat perasaan Aufa terbang.
Dia bahkan merasa diperhatikan. Ya merasa dicintai. Suaminya benar-benar membuktikan seluruh cintanya. Tanpa harus mengatakan hal manis, tanpa harus menggombal apapun.
Abra mengatakan dan memperlihatkan bagaimana cintanya dengan segala hal yang dia lakukan.
Apapun itu. Apapun itu yang ia mau. Abra selalu menurutinya.
Keduanya langsung melesat meninggalkan rumah Abraham untuk mencari makanan yang diinginkan Aufa. Keadaan jalanan lumayan ramai. Masih banyak lalu lalang kendaraan dan beberapa toko yang masih berjualan.
"Kamu tau tempatnya dimana, Sayang?" Tanya Aufa pada Abraham.
"Aku akan mencarinya di tempat biasa ibu dan ayah beli."
__ADS_1
Aufa memiringkan tubuhnya. Dia menatap ke arah suaminya dengan lekat.
"Ibu suka cake?" Tanya Aufa pelan dan penasaran.
"Sangat. Kue ini langganan keluarga. Semuanya suka karena sangat enak," Kata Abraham yang semakin membuat Aufa menelan ludahnya sendiri.
Bayangan cake itu dimakan dan digigit oleh dirinya kini berputar. Rasa coklat dan keju yang dominan dan menyatu itu semakin membuat air liurnya rasanya ingin menetes.
"Yaudah. Ayo cepetan, Sayang. Aku udah gak sabar."
Aufa menatap jalanan dengan perasaan bahagia. Dia benar-benar menikmati perjalanan malam ini. Dirinya bahkan sedikit membuka kaca jendela mobil lalu mengeluarkan kepalanya sedikit.
"Jangan terlalu lama Oke. Udara malam gak baik buat kamu," Kata Abraham dengan pelan.
"Siap, Bapak Komandan!"
Tak lama perjalanan itu berakhir. Senyuman di bibir Aufa mulai terlihat saat toko kue itu masih buka. Keduanya segera turun dan masuk dengan bergandengan tangan.
"Selamat malam," Sapa seorang wanita yang berdiri di balik etalase kue dengan ramah.
"Mau kue apa?" Tanyanya dengan bahasa Inggris yang sangat jelas.
"Apa coklat kejunya ada?" Tanya Abra to the point.
Entah kenapa perasaan Aufa bergetar. Matanya menatap seluruh etalase dan tak ada cake yang dia inginkan.
"Cake coklat kejunya habis, Tuan."
Senyuman yang mulanya melengkung ke atas perlahan surut. Aufa merasa kecewa mendengar itu. Bahkan dia mulai terlihat pasrah saat pelayan itu meminta maaf.
"Kita cari di cabang yang lain, Sayang," Kata Abraham. Dengan penuh kesabaran.
Abraham menghidupkan mesin mobil lalu dia kembali melanjutkan perjalanan.
"Jangan sedih. Aku yakin di cabang lain masih ada," Kata Abraham menghibur sambil mengusap kepala istrinya dengan pelan.
"Tapi ini udah malam. Pasti semua pada habis," Kata Aufa dengan putus asa.
"Kita coba cari dulu, Sayang. Oke? Aku yakin masih ada!"
Wajah Aufa yang mulanya muram perlahan berbinar. Dia mencoba meletakkan harapannya di toko yang dikatakan oleh suaminya. Dirinya sangat ingin memakan cake itu. Dia mencoba percaya dan yakin pada perkataan sang suami tercinta.
Namun, saat mata Aufa melihat bagaimana Abraham menguap sambil menyetir mobilnya membuat sesuatu dalam hati bumil itu merasa bersalah. Karena keinginannya, ia membuat suaminya tak bisa tidur dan malah kelayapan.
"Sayang!" panggil Abraham pelan.
"Hah!"
"Kamu ngelamunin apa?" tanya Abra dengan pelan.
Abraham sedikit khawatir. Dia sesekali menatap ke arah Aufa dengan fokus juga menyetir.
Aufa menghela nafas berat. Dia merasa kasihan pada suaminya tapi dia juga tak bisa menahan keinginan anaknya.
"Jujur!" kata Abra saat istrinya itu diam.
"Maafin aku ya, Sayang. Gara-gara aku kamu gak bisa istirahat total. Malam-malam gini kamu harus keluar dan cari makanan…"
Perkataan Aufa terhenti saat Abraham mencium bibir istrinya. Mobil mereka memang berhenti bersamaan dengan lampu lalu lintas. Ciuman itu berlangsung lumayan lama hingga pria itu melepaskannya saat merasakan istrinya mulai kehabisan oksigen.
Nafas keduanya terengah-engah. Abra perlahan menghapus bekas air liurnya yang berantakan karena aksinya itu.
__ADS_1
"Aku tak suka dengan ucapanmu itu, Sayang. Apapun itu, jika untuk kamu dan anak kita. Aku rela melakukan apapun!"
~Bersambung