Rahasia Menantu Billionaire

Rahasia Menantu Billionaire
Dendam


__ADS_3

...Percayalah seseorang yang sudah diselimuti oleh dendam. Maka matanya akan gelap mata. Dia tak akan melihat apapun kecuali dendamnya harus sudah terbayarkan. ...


...~JBlack...


...****************...


"Bagaimana?" Tanya seorang pria yang duduk di sebuah kursi kerja dengan menatap hamparan tanaman dari balik ruang kerjanya.


Pandangan mata itu sendu. Matanya mengandung banyak kesedihan di sana. Kantung matanya yang besar itu menunjukkan bahwa tidurnya tak banyak.


Dirinya benar-benar merasa beban hidupnya semakin bertambah setelah perpisahan kedua orang tuanya.


"Keadaan Nyonya lebih baik, Tuan. Tapi tolong jangan memberikan kabar buruk lagi pada Nyonya. Dia tak boleh stress," Kata Dokter yang membuat Semi menutup kedua matanya sejenak.


Dia beranjak berdiri dari kursinya. Membalik tubuhnya dan menatap ke arah pria yang memakai kemeja dan celana hitam itu di depannya.


"Baik, Dokter. Terima kasih banyak," Kata Semi yang membuat Dokter itu mengangguk.


Setelah kepergian dokter. Semi lekas berjalan menuju kamar ibunya. Sosok ibu yang saat ini tinggal dengannya. Hanya berdua. Tak ada keluarga hangat. Tak ada sosok papanya. Tak ada apapun.


Hanya dia dan ibunya.

__ADS_1


Semi membuka pintu itu dengan pelan. Menatap sosok perempuan yang tengah tertidur dengan lelap. Di punggung tangannya terdapat jarum infus yang menjadi jalan agar ibunya terus mengkonsumsi obat.


"Aku tak akan mengampuni orang yang membuat ibu seperti ini," Gumam Semi dengan gelap mata.


Pria itu tak jadi masuk. Dia kembali keluar dan berjalan dengan tatapan tajamnya. Nafasnya benar-benar berat.


Namun, kedua bola mata itu menunjukkan dendam yang besar. Kemarahan yang sangat amat kentara.


"Apa yang kalian dapatkan?"


"Keluarga mereka akan kembali, Tuan. Dan rumah itu akan ditinggali lagi oleh mereka berdua!" Kata seorang pria yang memakai pakaian hitam dengan menunduk.


"Terus pantau mereka! Aku akan membuat pelajaran pada pria bengkel itu! Aku akan membuatnya tahu bagaimana sakitnya dikhianati!" Seru Semi dengan gelap mata.


***


"Kamu udah lihat rumah sakitnya?" Tanya Bara pada Bia yang duduk di sampingnya.


Saat ini keduanya sedang duduk tenang di ruang tamu. Dengan Bia yang menyadarkan kepalanya di lengan sosok ayahnya.


Sebuah tempat yang selalu membuat Bia tenang. Tempat yang tak perlu dia membayarnya untuk mencari ketenangan.

__ADS_1


"Udah, Ayah. Abang yang kasih tahu dan ya, Bia mau disana," Ucap Bia dengan mantap.


Bara mengangguk. "Ayah hanya bisa mendukung Bia. Ayah akan ikutin jalan yang Bia mau. Yang terpenting! Bia jangan tertekan oke?"


Bia menoleh. Dia menegakkan tubuhnya dengan kepala mengangguk. Hal inilah yang membuat Bia merasa sangat beruntung.


Meski badai dan angin pernah membuat keluarganya terombang-ambing tapi kekuatan cinta dan kesabaran juga terbayarkan.


"Kenapa?" Tanya Bara yang terkejut Bia tiba-tiba menegakkan tubuhnya.


"Makasih, Yah. Makasih udah selalu ada buat aku, Abang, dan si kembar. Makasih udah memilih Ibu lagi."


Bia mengatakan itu dengan mata berkaca-kaca. Hal yang mampu membuat Bara juga ikut merasakan kesedihan.


"Kemari!" Kata Bara sambil membuka tangannya.


Bia masuk ke dalam pelukan ayahnya. Bara tentu tahu bagaimana perasaan putri kecilnya itu. Putri yang melihat sebuah keburukannya di masa lalu.


"Makasih udah selalu bangga sama Ayah. Meski Bia tahu jika masa lalu Ayah gak baik. Makasih sudah memberikan maaf pada ayah dan memberikan kesempatan. Biarkan ayah menebus segala kesalahan ayah di masa lalu yah. Ayah akan mencintai dan menyayangi kalian dengan sepenuh hati."


~Bersambung

__ADS_1


__ADS_2