Rahasia Menantu Billionaire

Rahasia Menantu Billionaire
Traktiran!


__ADS_3

...Sebuah hubungan terkadang membutuhkan orang ketiga untuk bisa bersama. ...


...~JBlack...


...****************...


Sedangkan di tempat lain, terlihat sepasang suami istri yang begitu bahagia. Lebih tepatnya seorang calon ibu satu anak itu begitu bahagia dengan apa yang dilakukan suaminya kepadanya.


Sejak kedatangan mereka di tempat makan ini. Abraham terus memegang tangannya dan sesekali mengusap perutnya dengan begitu lembut. Setiap ada waktu mereka berdekatan. Abraham selalu mengutamakan dirinya. Hal itu tentu membuat hati calon ibu satu anak itu perlahan mulai hangat.


Ternyata Aufa selalu berpikir bahwa keputusannya untuk menikah, menerima pilihan papanya adalah hal yang tak salah. Menikah paksa tanpa tahu siapa prianya ternyata mampu membuatnya menemukan cinta yang sejati.


cinta yang menerima dia, cinta yang selalu ada untuknya dan cinta yang benar-benar cinta untuknya dan anaknya.


"Sayang," Panggil Abraham yang membuat lamunan Aufa buyar.


"Ya, Sayang?" Jawab Aufa sambil tersenyum ramah di depan Abraham


"Mela sama Fort kok lama ya?" Tanya Abraham sambil menatap ke arah pintu masuk.


Mungkin emang Abraham yang merekomendasikan agar keduanya tadi saling dekat. Namun, pikirannya juga takut. Takut jika diantara keduanya merasa tidak nyaman.


"Ntar lagi pasti dateng. Mereka pasti masih bantuin Kak Fort, Sayang," Kata Aufa memberikan pengertian.


Mau tak mau kepala Abraham mengangguk. Kemudian Abraham kembali menatap istrinya dengan tangan memegang tangan Aufa yang ada di atas meja..


"Kamu cantik, Sayang," Kata Abraham yang membuat jantung Aufa tak karuan.


Entah kenapa ucapan Abraham itu membuat Aufa menatap Abraham. Dia merasa jantungnya kembali tak karuan. Baru saja dia tenang tanpa ada gombalan dan gangguan dari suaminya itu. Namun, sekarang pria itu lagi-lagi mengeluarkan jurus mautnya.


"Aku mencintaimu?"


"Apa kamu mencintaiku?" Kata Abraham dengan serius.


"Aku mencintaimu juga, Sayang," Jawab Aufa dengan malu.


Hal itu membuat pipi Aufa bersemu merah. Apalagi pelaku utama, Abraham juga menggaruk tengkuknya yang tak gatal saat menyadari jika dirinya terlalu terpana akan kecantikan istrinya membuatnya selalu ingin mengatakan cinta, cinta dan cinta.

__ADS_1


Tapi apa yang dia katakan semuanya jujur. Apa yang Abraham jawab tulus dari hatinya. Pria itu mencintai Aufa. Dia mencintai wanita itu begitu tulus dan nyata.


Tak lama, dua orang manusia itu muncul dari pintu masuk. Wanita yang berjalan dengan pelan itu terlihat begitu frustasi dan hal itu membuat Aufa menahan senyum.


Dia tahu sahabatnya jika mode begini. Mode diam malu-malu ketika Mela gugup. Aufa yakin, kegugupan itu muncul karena sosok Fort di dekat sahabatnya.


"Kenapa lama sekali?" Tanya Aufa saat Mela dan Fort mulai duduk di depan mereka berdua.


"Aku masih ke kamar mandi, Fa."


"Oh." Aufa anggukkan kepalanya. "Yakin ke kamar mandi aja?"


Aufa memiliki senjata utama sekarang. Dia bisa menggoda sahabatnya itu dengan ini.


"Kamu kira?" Balas Mela dengan setengah berbisik sambil mendelikkan matanya.


Aufa menahan tawa. Namun, dia menatap ke arah Abraham dan Fort yang saling berbincang sebelum mendekatkan bibirnya di telinga Mela.


"Aku kira kalian PDKT di jalan," Ungkap Aufa dengan mengedipkan sebelah matanya menggoda.


Ahh kenapa aku ceroboh sekali sih? Gumam Mela dalam hati.


"Maaf maaf," Ucap Mela dengan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Dia lalu menoleh dan menatap Aufa yang cengengesan.


"Awas kamu yah! Image ku jadi buruk begini kan," Keluh Mela pada Aufa dengan perasaannya yang kesal.


***


Akhirnya tak lama, seorang pelayan datang dengan membawa pesanan yang Abraham sebutkan. Empat mangkok ramen kini tersedia di hadapan mereka. Aufa dan Mela, menatap makanan itu dengan mata berbinar. Sudah lama sekali mereka tak makan mie ini semenjak Aufa berada disini.


Ya, terakhir kali makan ramen ketika dulu masih bersama di Jakarta. Dan itupun berarti pertanda sudah lama sekali mereka tak menikmati makanan enak ini.


"Enak, 'kan, Fa?" tanya Mela dengan memakan ramennya lagi.


Kepala wanita itu mengangguk saat dia berhasil menelan makanannya dengan pelan. Entah kenapa mulut mereka begitu makan dengan lahap. Sepertinya sudah lama sekali mereka tak makan makanan ini yang membuat ramen ini rasanya enak ketika kunyah.

__ADS_1


Aufa makan dengan lahap. Bahkan ibu hamil itu benar-benar menikmati makanannya. Ibu hamil satu ini bahkan makan dalam diam yang membuat Abraham bahagia.


Setidaknya makanan yang dia pilih disukai oleh istrinya. Makanan yang semula ingin makan sushi ternyata tak jadi dan jatuh ke pilihannya ini.


"Pelan-pelan, Sayang. Gak bakal ada yang mau ambil makanan kamu!" Kata Abraham sambil membersihkan bekas Ramen yang berantakan di ujung bibirnya.


Perilaku yang dilakukan dua orang ini, pasangan suami istri tentu membuat se pasangan manusia tanpa hubungan itu saling iri.


"Kalau begini caranya. Nasibku menyedihkan. Jomblo yang melihat pasangan romantis di depan mata," celetuk Mela yang membuat perhatian Fort beralih.


Dia menoleh ke samping. Menatap seorang perempuan yang baru beberapa kali ia temui. Perempuan Yang entah kenapa mampu membuatnya tertarik. Bukan tertarik karena parasnya tapi karena sikapnya yang tak jaim.


"Mela, wanita yang baik dan berbeda dari wanita yang pernah aku temui," batin Fort sambil menatap ke arah Mela dalam diam.


"Apa kalian mau nambah?" tanya Mela yang memakan ramennya di suapan terakhir.


Saat dia menoleh ke samping. Mela merasa jantungnya tak aman. Apalagi saat sahabat Aufa itu menyadari jika Fort sedang menatapnya dalam diam.


Ya tuhan, mukanya itu kenapa kalau diem gini, makin ganteng, gumam Mela dalam hati dengan menundukkan kepalanya.


Rasanya Aufa ingin meledek sahabatnya itu. Dia melihat sendiri bagaimana ekspresi Mela yang salah tingkah ketika ditatap oleh Kak Fort. Bagaimana sahabatnya itu yang malu-malu sekali dan terlihat begitu menggemaskan.


"Gak usah diliatin terus. Gak bakal ilang!" Goda Abraham yang membuat Fort tersadar akan kelakuannya.


Fort tersenyum saat kelakuannya ketahuan. Dia bahkan sambil mengusap tengkuk bagian belakang saat dirinya merasa malu ketahuan menatap sosok Mela sejak tadi.


Sedangkan Aufa. Dia mencoba mendekati sahabatnya untuk menggoda Mela.


"Sampai merah gitu pipinya. Ku jatuh cinta di pandangan pertama ciee!" goda Aufa sedikit berbisik yang membuat pipi Mela semakin memerah.


Gadis itu menyenggol lengan Aufa. Dia tak mau semakin dibuat salah tingkah.


Akhirnya Mela tak mau dibuat semakin salah tingkah. Dia spontan beranjak berdiri dan membuat ketiga orang itu menatap ke arahnya.


"Ayo kita main. Pasangan suami istri ini harus traktir aku di timezone sampai sepuasnya!" kata Mela menatap ke arah sahabat dan suami sahabatnya untuk mengalihkan perhatian Aufa agar tak terus menggodanya.


~Bersambung

__ADS_1


__ADS_2