
...Percayalah awal kehancuran seseorang adalah ketika dia tak bisa menerima kenyataan dengan ikhlas....
...~Abraham Barraq Alkahfi...
...****************...
Semi meremat foto itu dengan kasar. Sebuah potret dirinya dan sosok yang sangat ia kenal. Dirinya benar-benar marah besar. Tak menyangka jika rahasia antara dirinya dan sosok itu diketahui oleh orang lain.
Saat dia hendak membawa kotak itu. Suara panggilan dari ponselnya membuat Semi meletakkan kotak itu lagi. Dia menatap nama pemanggil dan segera mengangkat.
"Halo, Pa!" Seru Semi dengan cepat.
"Kamu dimana? Bisa ke kantor sekarang. Gantiin Papa buat… "
"Cukup, Pa! Cukup!" Pekik Semi dengan emosi yang sudah memuncak.
Kepalanya hampir pecah. Jujur saja dia lelah dengan semua yang sudah disembunyikan. Dia lelah dengan menutupi segala kelakuan papanya.
"Apa maksudmu?"
"Semi capek, Pa. Semi capek bohong sama Mama terus. Semi kasihan tiap lihat Mama!" Kata Semi dengan keras.
"Kamu sudah sepakat sama Papa. Kamu sudah berjanji akan membantu Papa. Apa kamu lupa dengan perjanjian kita?"
Semi mengepalkan kedua tangannya. Jujur ketakutan itu kini mulai merasuki hatinya. Ketakutan antara mama dan papanya terbayang dalam matanya.
Saat kotak itu ditujukan padanya. Jujur dia mulai sadar. Ya sadar jika selama ini yang dia lakukan adalah sebuah kesalahan. Kesalahan yang mengancam pernikahan mama dan papanya.
"Semi gak lupa tapi jika Mama tahu semuanya. Pernikahan kalian akan hancur!"
"Mama tak akan tahu jika kamu tutup mulut. Mama tak akan tahu tentang perselingkuhan Papa kalau kamu diam!"
"Tapi, Pa!"
"Cukup. Sekarang kamu ke kantor dan gantiin Papa! Papa gak mau dengar alasan apapun!"
Tut.
Semi meremat ponselnya dengan kuat. Dia benar-benar tak betah dengan semua ini. Semi rasanya ingin berteriak. Berteriak marah pada dirinya dan sang Papa.
"Bagaimana jika kotak ini dilihat oleh Mama?"
Semua menunduk. Dia menatap kotak itu lagi yang berisi bukti perselingkuhan papanya. Bukti tentang keterlibatan dirinya dan semuanya.
"Aku harus membakar semua bukti ini. Aku harus membuangnya sebelum Mama melihat semua isi kotak ini," Ujar Semi pada dirinya sendiri.
***
Hari ini kepulangan Mama Meera tentu dijemput oleh keluarga yang lengkap. Dari kakeknya Abraham yaitu Papa Darren lalu Mama Tari juga ikut datang.
__ADS_1
Tentu semua keluarga juga shock dan terkejut dengan kedatangan Abraham dan Aufa. Semua orang bahkan semakin dibuat kaget dengan jawaban dan penjelasan Abraham yang sangat amat menakjubkan.
"Jadi kalian menikah belum saling kenal?" Kata Papa Darren pada cucu dan cucu menantunya.
Aufa dan Abraham dan mengangguk. "Iya, Kakek."
"Lalu kamu!" Kata Papa Darren sambil memukul lengan cucunya. "Kenapa ngilang tanpa kabar. Kabarin kakek atau nenek kan bisa?"
Abraham meringis. Dia mengusap lengannya yang dipukul oleh sang kakek dengan lumayan keras.
"Maafin Abra, Kek. Abra cuma ingin kerja sendiri."
"Kerja sendiri tapi tetap kasih kabar. Kamu gak kasihan sama ibu kamu, hmm? Lihat!"
Abraham menatap ke arah ibunya. Di ranjang sana, Almeera mulai dibuka infusnya oleh sang suster. Wanita yang tak lagi muda tapi masih terlihat cantik itu memang terlihat gampang sakit beberapa bulan terakhir. Kabar yang selalu dia dapatkan dari adik-adiknya setiap kali dia menghilang.
"Ibumu sering sakit, Nak. Mikirin kamu terus. Jangan terlalu bekerja sendiri sampai tak melihat orang sekitarmu," Kata Papa Darren menasehati. "Kamu boleh semangat tapi ingat. Selagi ibumu masih ada. Luangkan waktu buat dia."
Hati Abraham tersentil. Dia merasa seperti dipukul oleh kenyataan dengan sang kakek. Dia mulai memutar ingatannya.
Mulai dia pergi bekerja sendiri, dari sama dia selalu mendapatkan kabar ibunya sering keluar masuk rumah sakit.
"Ingat pesan Kakek. Selagi masih ada. Jangan pernah melupakan mereka hanya karena sebuah ambisi, Nak," Ucap Papa Darren dengan mengusap kepala cucunya.
Aufa mendengar semuanya. Dia menatap ke arah wajah Abraham yang menunduk sedih. Perempuan itu juga ikut tersentuh dengan perkataan kakek dari suaminya.
Aufa merasa menemukan keluarga baru. Keluarga yang benar-benar berbeda dengan keluarganya. Dengan pelan, Aufa mengulurkan tangannya, menggenggam tangan Abraham sampai pria itu mendongak.
"Yang sudah lalu, jangan disesali. Bukankah kita masih bisa memperbaikinya sekarang?" Kata Aufa dengan pikirannya yang benar-benar telah berubah.
Ya tak ada lagi Aufa yang manja dan egois. Tak ada lagi Aufa yang sombong dan tak peka. Saat ini, wanita itu benar-benar banyak belajar dan berubah.
Pikirannya semakin dewasa, lebih mengerti, peka dan perhatian.
"Ayo kita pulang?" Ajak Bara sambil mendorong kursi roda yang diduduki Almeera.
Abraham mulai beranjak berdiri. Dia berjalan mendekati papanya.
"Biar Abra yang dorong, Yah. Ayah pasti capek," Ujar Abraham dan membuat Bara menepuk pundak anak pertamanya.
"Terima kasih, Nak."
Aufa tersenyum. Dia mengacungkan jempolnya ke arah sang suami saat Abraham menatap ke arahnya.
"Ayo, Kak Aufa!" Ajak Bia lalu menggandeng tangan Aufa untuk keluar dari ruangan ibunya.
"Si kembar kemana, Bi?" Tanya Aufa yang baru sadar dengan keberadaan dua adik dari suaminya.
"Mereka sekolah, Kak," Jawab Bia sambil berjalan bersandingan. "Kak Aufa belum kenalan yah?"
__ADS_1
Aufa menggeleng. "Aku belum sempat berkenalan."
"Nanti kalau mereka pulang ke rumah. Bia akan mengenalkan mereka dengan, Kakak."
"Memangnya mereka gak pulang?" Tanya Aufa dengan kening berkerut.
Kepala Bia mengangguk. "Si kembar punya kondominium sendiri, Kak. Mereka berada di asrama dekat sekolah."
"Ayah dan Ibu percaya pada mereka. Saat si kembar minta tinggal sendiri, mereka mengizinkannya."
"Apa Ayah dan Ibu tak khawatir?"
"Tentu. Untuk urusan itu. Ibu selalu khawatir pada kami. Tapi Ayah sudah mengurus orang kepercayaannya untuk menjaga si kembar."
"Terus?"
"Ayah dan Ibu tak pernah menolak permintaan kami. Contoh kecil Kak Abra. Dia minta kerja sendiri. Ayah sebenarnya berat tapi dia tak mau memaksa kakak demi keinginan mereka. Jadi ayah dan ibu memberikan waktu untuk Kak Abra pergi mencari jati dirinya."
Satu hal baru yang lagi-lagi ditemukan oleh Aufa. Cara tentang keluarga suaminya yang mendidik dan membimbing anak-anaknya.
Dia salut pada Ayah Bara dan Ibu Meera. Mereka merawat keempat anaknya dengan cara mereka sendiri.
"Kak!" Panggil Bia saat Aufa hanya diam.
"Hmm?" Aufa bergumam. Dia terlalu melamun sampai mengabaikan Bia sejenak. "Kenapa, Bi?"
Bia terlihat menatap sekeliling. Semua orang terlihat berjalan tanpa menatap sekeliling.
"Kak Aufa udah nyicil kan?"
"Nyicil apa?" Tanya Aufa dengan polos.
"Nyicil bikin dedek."
"Eh" Aufa melototkan matanya.
Dia mencubit lengan Bia pelan membuat gadis itu mengaduh.
"Dasar gadis nakal!"
"Ih, bukan begitu, Kak. Bia pengen punya ponakan banyak. Biar Bia bisa dipanggil Ante cantik, Ante imut!"
Aufa geleng-geleng kepala. Dia benar-benar tertawa dengan tingkah adik iparnya yang satu ini.
"Do'ain aja. Do'ain Kak Aufa cepet hamil. Oke?"
"Siap, Bos."
~Bersambung
__ADS_1