
...Ketika cinta dan kasih sayang mengelilingi kita. Maka apa yang kita inginkan akan terus diusahakan untuk diwujudkan olehnya....
...~Aufa Falisha...
...****************...
Akhirnya disinilah mereka berada. Di ruang tamu yang lebar dan luas. Abraham berdiri di samping istrinya dengan Ibu Almeera dan Ayah Bara yang duduk di seberang.
"Kamu beneran mau itu, Nak?" Tanya Almeera sekali lagi.
Wajah Aufa yang polos hanya bisa mengangguk. Dia benar-benar menginginkan nasi itu saat ini. Entah kenapa makanan dengan ciri khas Indonesia itu benar-benar membuatnya menelan ludahnya secara paksa.
"Iya, Bu. Aufa ingin makan itu," Jawab Aufa dengan jujur. "Tapi… "
"Tapi?" Kata Almeera menunggu menantunya melanjutkan perkataannya.
"Tapi aku ingin Abra yang memasaknya sendiri, Bu. Aku ingin dia yang memasakkan untukku," Kata Aufa dengan menatap suaminya yang duduk di sampingnya.
Abraham hanya diam. Dia menatap kedua bola mata istrinya yang benar-benar ingin dirinya memasak. Entah kenapa hati Abraham tersentuh. Apalagi saat mata itu memandangnya penuh harap dan membuatnya tak bisa menolak sedikitpun.
"Kamu bisa membeli bahannya di market, Nak. Kamu coba dulu! Mungkin ada," Ujar Almeera yang membuat Abraham mengangguk.
"Abra akan belanja, Bu," Kata Abraham yang sejak tadi diam.
"Aku ikut!"
"Nanti kamu capek, Sayang."
"Aku ikut!" Kata Aufa dengan kekeh.
Abraham mengusap kepala istrinya. Akhirnya pria itu kalah. Kepalanya mengangguk menyetujui permintaan istrinya untuk ikut dengannya.
"Jangan terlalu capek yah. Kalau Aufa ingin istirahat. Kalian duduk dulu. Oke?"
Aufa menatap ibu mertuanya penuh harus. Almeera benar-benar sosok ibu mertuanya yang seperti ibu kandungnya sendiri. Wanita yang tak lagi muda itu tak pernah memaksa dirinya.
Tak pernah menuntut dirinya untuk terlihat sempurna. Ya harus bisa masak, harus bisa membersihkan rumah, ini dan itu. Almeera benar-benar mengatakan pada Aufa, lakukan apa yang dia bisa.
Jangan terlalu memaksa untuk terima sempurna di mata orang lain karena kita akan terlihat buruk di mata orang yang selalu membenci kita dan kita akan terlihat baik di mata orang yang menyukai kita.
"Ayo ganti baju dulu. Setelah itu kita pergi belanja!" Ajak Abraham sambil mengulurkan tangannya.
Akhirnya pasangan suami istri itu mulai berganti pakaian. Cuaca di New York mulai berganti dingin. Ya hawa luar dan udaranya mulai negatif dan membuat Abraham khawatir pada istrinya.
"Apa akan turun salju, Sayang?" Tanya Aufa dengan menatap Abraham yang sedang memakaikan dirinya kaos kaki.
"Iya. Jadi kalau kamu ingin ke mana-mana. Pakai baju tebal. Aku tak mau kamu kedinginan!" Kata Abraham dengan tegas dan membuat bibir Aufa melengkung ke atas.
Entah kenapa seluruh perhatian Abraham mampu menunjukkan bagaimana cintanya dia pada Aufa. Ibu hamil satu ini sangat amat menyadari seberapa besar suaminya itu mencintainya.
"Siap, Pak Bos!"
"Selesai!" Abraham beranjak berdiri.
Dia mengambil jaket tebal terakhir milik Aufa lalu membantunya memakainya.
"Ayo kita belanja. Kamu sudah siap untuk ikut denganku, Sayang!"
***
Sepasang pengantin dengan cinta yang semakin besar itu berjalan bergandengan tangan. Mereka benar-benar pergi ke salah satu mall yang menjadi pilihan Abraham
"Katanya ke Market, Sayang. Kok jadi ke Mall?" Tanya Aufa saat Abraham mulai membukakan pintu mobil untuknya.
"Aku ingin kamu belanja pakaian dingin dulu, Sayang. Aku ingat kamu tak membawa baju tebal satu pun. Benerkan?"
Mata Aufa berkaca-kaca. Dia menatap Abraham dengan lekat. Entah kenapa perasaannya semakin hari semakin besar pada pria itu.
__ADS_1
Seakan Abraham begitu memahami dirinya, mengecek segala kebutuhannya bahkan segala hal yang dia bawa kesini.
"Kamu lihat koperku, Sayang?"
Abraham melingkarkan tangannya di pinggang sang istri. Keduanya mulai masuk ke dalam mall yang terlihat ramai.
"Iya, Sayang. Aku tentu mengecek isi kopermu. Bagaimanapun kamu disini bersamaku. Aku tak mau terjadi sesuatu sama kamu."
"Dan anak kita?" Sela Aufa yang membuat Abraham tersenyum.
"Itu lagi tapi yang pasti dan utama adalah kamu."
"Kamu gak sayang sama anak kita? Kenapa kamu utamain aku?" Tanya Aufa dengan pelan sambil keduanya berjalan dan menatap ke arah dimana mereka akan belanja.
"Aku sayang sama kamu dan anak kita. Tapi anak kita masih di dalam perut kamu. Jadi, dia tetap akan bahagia jika ibunya bahagia. Anak kita akan aman, jika kamu aman. Jadi, sebelum aku menjaganya. Aku akan menjaga kamu dengan baik!"
Genggaman itu semakin erat oleh Aufa. Dia benar-benar merasa beruntung dicintai oleh pria seperti Abraham. Entah kebaikan apa yang dia lakukan di masa lalu tapi yang pasti.
Aufa merasa bersyukur. Bersyukur karena dia menerima pernikahan paksa itu. Bersyukur karena dia dipertemukan oleh pria sejuta rahasia akan identitasnya.
"Terima kasih, Tuan Abraham. Mulutmu sangat manis dan aku mencintaimu."
Abraham hanya tersenyum. Dia lalu mulai menarik lengan istrinya untuk memasuki salah satu store pakaian yang sangat dia tahu karena sering belanja di sini.
"Kita mau beli apa, Sayang? " Tanya Aufa yang ada di samping Abraham.
Mata Aufa menatap sekeliling. Dia mampu melihat semua baju yang dijual disana adalah pakaian dingin, seperti jaket, baju tebal, kaos kaki, topi lalu syal dan juga sarung tangan.
"Beli baju tebal buat kamu," Kata Abraham dengan pelan dan bergerak ke arah jaket.
Aufa memilih mengekor suaminya. Dia tak tahu harus belanja apa saja karena jujur Aufa malas keluar rumah.
Semenjak hamil wanita itu lebih suka tiduran, diam di rumah. Tenang, damai dan tentram. Dia tak suka keramaian. Dia tak suka keluar dan membuatnya capek. Ditambah Aufa tak mau terjadi sesuatu pada anak yang sedang dikandungnya jika memaksa jalan-jalan dan keluar lebih lama.
"Kamu suka ini, Sayang? " Tanya Abraham menunjukkan sebuah jaket ke arah Aufa.
"Suka gak? " Tanya Abraham yang begitu mengutamakan kenyamanan istrinya.
Selama ini Abraham tak pernah egois. Dia selalu mengutamakan kenyamanan Aufa. Apa yang ingin istrinya itu pakai, maka dia akan membelinya. Dan apa yang ingin Abraham beli, dia akan menanyakan pada istrinya itu apakah Aufa mau atau tidak.
"Suka, Sayang," Balas Aufa sambil mengangguk.
"Kalau ini?" Tanya Abraham membawa baju tebal seperti sweater.
"Bagus. Aufa suka, " Kata Aufa yang selalu mendukung.
Abraham meletakkan jaket dan sweater itu pada pelayan yang menemaninya. Lalu ibu hamil cantik itu mulai bergerak. Entah kenapa dia ingin berjalan ke arah celana tebal yang ada di pojokan ruangan ini.
Beberapa celana jeans yang terlihat nyaman itu menarik perhatian ibu hamil ini. Aufa memegang salah satunya lalu dia mendekatkan ke bagian kakinya untuk dilihat. Apakah cocok dengannya atau tidak.
"Bagus," Kata Aufa pada dirinya sendiri.
Dia mengambil celana lain lagi dan didekatkan pada kedua kakinya. Sampai akhirnya Abraham datang dan melihat apa yang dilakukan oleh istrinya itu.
"Sayang," Kata Abraham dengan mendekat.
"Mau ini," Kata Aufa merengek.
"Tapi kamu hamil, Sayang. Ini jeans… "
"Perutku masih rata. Ini belum kelihatan kan? Jadi pakai celana masih bisa, Sayang. Yah.. Yah.. "
Aufa merengek dengan mengedipkan mata berulang kali. Dia benar-benar ingin membeli salah satu celana jeans disana karena bahannya bagus.
"Ini aja yah. Ini bagus! " Kata Abraham memegang sebuah celana kain yang modelnya lebar dan membuat Aufa menggeleng.
"Bagus ini, Sayang, " Balas Aufa kekeh memegang celana jeans berwarna hitam.
__ADS_1
"Sayang… "
"Please," Pinta Aufa dengan mata penuh harap.
Wanita bumil ini ingin punya celana ini karena menurutnya bagus jika dipakai. Apalagi dia juga sangat tahu apa yang dia pakai. Apakah nyaman dengannya atau tidak. Aufa tak akan memaksa. Dia akan mencari ukuran yang bagian perutnya masih tetap kebesaran dan tak menekan perutnya.
"Sayang, yah? " Bujuk Aufa masih kekeh dengan keinginannya.
Abraham hanya mampu menghela nafas berat. Bagaimanapun dia tak akan menang melawan istrinya. Dia tak akan bisa melawan istrinya sedikitpun.
"Beli yang ukurannya besar. Jangan yang menekan perut. Oke?"
Kedua sudut bibir Aufa melengkung ke atas. Dia berlari ke pelukan Abraham dan memeluknya.
"Makasih, Sayang. Makasih banyak. Aku mencintaimu," Kata Aufa dengan perasaan yang membuncah.
Abraham menerima jeans pilihan istrinya itu lalu memberikan kepada pelayan yang sejak tadi menemani mereka. Mereka melanjutkan membeli semua yang dibutuhkan.
Abraham tak memikirkan berapa yang harus dikeluarkan. Apa yang dibutuhkan istrinya. Apa yang Aufa mau, pria itu langsung mengambilnya dan membelinya.
"Sudah?" Tanya Abraham pada istrinya.
"Sudah, Sayang."
"Sekarang kita belanja bahan makanan. Aku akan memasakkan nasi padang untukmu."
Akhirnya keduanya lekas melanjutkan belanja. Mereka berjalan ke arah salah satu market yang ada di mall tersebut. Abraham menitipkan seluruh belanjaannya ke tempat penitipan sebelum pria itu membawa stroller belanja di tangannya.
"Kita beli apa aja?" Tanya Aufa yang penasaran.
"Kamu mau ikan apa?"
"Gulai ayam," Kata Aufa dengan jujur.
"Berarti kota belanja ayam, santan juga untuk membuatnya," Ujar Abraham dengan lihai yang sepertinya tak mengalami kesulitan.
Keduanya berjalan bersama. Mencari apa yang mereka butuhkan. Sampai akhirnya ketika keduanya berada di dekat mie instan.
Aufa menarik tangan suaminya.
"Ya?"
"Beli mie ya, Sayang?" Bujuk Aufa pada suaminya.
"Kamu nggak boleh makan makanan instan, Sayang. Ingat!"
"Anak kita," Sela Aufa dengan menarik nafasnya begitu dalam.
Ibu hamil itu meletakkan mie itu lagi dengan wajah lesu. Hal itu membuat Abraham merasa tak enak dalam pikirannya.
"Belilah tapi hanya satu!"
Bibir yang mulanya datar kini tersenyum. Mata yang mulanya muram terlihat berbinar.
"Serius, Sayang? Boleh?" Tanya Aufa mengulang.
"Ya tapi hanya satu!" Ujar Abraham melanjutkan langkah kakinya. "Ayo cepetan. Kita harus segera membuat nasi padang kamu sebelum kamu makin lapar!"
Setelah semua belanjaan selesai. Akhirnya Abraham mulai memasukkan barang belanjaan itu di kursi tengah dan bagasi.
"Duduk yang tenang ya, Bumilku. Makan es krim nya jangan belepotan!" Kata Abraham sambil mencuri satu kecupan manis di bibir Aufa.
Ya ibu hamil itu memang tengah memakan satu es krim coklat. Entah kenapa musim dingin seperti ini tak membuat Aufa malas memakan es krim. Malahan menurutnya rasa es krim ini sangat amat enak.
"Sayang. Bibirku belepotan loh!"
"Biarin tapi rasanya lebih manis daripada makan es krim langsung!"
__ADS_1
~Bersambung